Beranda / Syahdan / Dari Dapunta Hyang ke Iyeth Bustami, Jejak Bahasa Indonesia dari Riau: Pandangan Sosial Budaya
taufik ikram jamil

Dari Dapunta Hyang ke Iyeth Bustami, Jejak Bahasa Indonesia dari Riau: Pandangan Sosial Budaya

SUNGGUH saya tersentak ketika mendapat pesan singkat dari Dr. Fatmawati yang saya kenal sehari-hari sebagai pegawai Balai Bahasa Riau, awal November 2020, beberapa hari setelah Bulan Bahasa 2020 melipatkan diri pada takdirnya sebagai waktu. Saya diminta bersedia mengikuti rapat terpumpun asal usul bahasa Indonesia yang dilaksanakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud. Perlu waktu satu hari bagi saya untuk menjawabnya, terutama karena di benak saya, langsung tertancap kalimat, “Mengapa membicarakan asal usul bahasa Indonesia, melalui rapat lagi, sedangkan bagi kami di Riau, hal tersebut sudah khatam? Asal usul bahasa Indonesia adalah Melayu Riau yang sampai sekarang masih terasa, betapapun seiringan dengannya akhir-akhir ini, suatu perhitungan internal acapkali dibuat baik secara linguistik maupun kehidupan berbangsa dan bernegara.”

Patut disebut dari awal, tak ada satu catatan pun yang menyebutkan bahwa mengaku-ngaku bahasa Indonesia berasal dari Riau itu dilontarkan oleh orang Riau sendiri. Hal ini memang tak mungkin dilakukan karena pantang bagi orang Melayu Riau menepuk dada. Tunjuk ajar Melayu Riau mengatakan: Kalau duduk di pinggir-pinggir, kalau berenang ke hilir-hilir. // Wahai Ananda dengarlah peri/ jangan suka membesarkan diri/seteru dan musuh jangan dicari/ supaya selamat hidup dan mati. // (Tenas Effendy, 2013). Juga dalam ungkapan lain disebutkan: // Wahai Ananda rendahkan hati/ bercakap besar jangan sekali/ lemah lembut budi pekerti/ supaya hidupmu diberkahi Ilahi. // (ibid).

Justeru jejak bahasa Indonesia dari Riau terbukti dari hasil penelitian maupun pengamatan luar Riau, tentu saja sekaligus dengan pengakuannya. Senarai nama mereka dengan berbagai bukti bisa ditampilkan, tetapi memadailah kembali mengenang apa yang dikatakan Ki Hajar Dewantara dan Kees Groeneboer yang secara tegas mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu berasal dari bahasa Melayu Riau (Abdul Malik, 2008). Kalau masih kurang juga, lihatlah pernyataan Parakitri T. Simbolon (Kompas, 1995) yang mengaitkan ke-lingua-franka-an bahasa Melayu Riau dengan kawasan perdagangan paling ramai di nusantara sejak zaman bahari yakni Selat Melaka, sehingga wajib dikuasai oleh pejabat Hindia-Belanda, kemudian diajarkan di sekolah-sekolah yang tersebar dari wilayah barat sampai timur nusantara.

Maman S. Mahayana menulis (Insania, 2009), pada tahun 1891, A. A. Fokker menganjurkan pemakaian bahasa Melayu-Riau yang dikatakannya: “… bukan saja sebagai alat peradaban, tetapi juga sebagai bahasa pemersatu pemerintahan di seluruh kepulauan ini…. Akan datang suatu masa, di mana kita dapat memberi sumbangannya, yaitu bahwa setiap orang pribumi yang telah menamatkan sekolah dasar, akan merasa malu kalau dia tidak mampu berbahasa Melayu-Riau ….” Kalangan zending dan para pendeta, di antaranya A. Hueting dan Van der Roest, juga cenderung memilih bahasa Melayu-Riau karena dianggap sebagai bahasa Melayu yang baik: “… agar lambat laun bahasa Melayu yang baik, yaitu bahasa Melayu-Riau diajarkan di sekolah-sekolah … sebagai bahasa yang memungkinkan berbagai suku bangsa hidup rukun sebagai saudara dan berunding tanpa cemburu dan iri hati, dan juga dapat menjadi penghubung bagi orang-orang Kristen lainnya di kepulauan ini.”

Penempatan bahasa Melayu-Riau sebagai mata pelajaran dalam dunia pendidikan telah dilakukan jauh sebelum itu, yaitu ketika bahasa Melayu diajarkan di sekolah-sekolah. Penegasan kembali pemakaian bahasa Melayu Riau itu, semata-mata karena adanya perkembangan bahasa Melayu pasar atau Melayu rendah yang banyak digunakan dalam surat-surat kabar dan dalam pergaulan sehari-hari. Untuk menghindari terjadinya kekacauan, terutama dalam penulisan huruf dan ejaan, maka diperlukan acuan bahasa Melayu yang baik dan standar yang justru masih terpelihara dalam bahasa Melayu-Riau (ibid).

Syahdan, jejak bahasa Indonesia dari Riau pun diperlihatkan oleh tempat penelitian dan pengamatan itu dilakukan yakni di Penyengat, Kepulauan Riau. Tak ada dalam satu kawasan sekarang ini, orang menggunakan bahasanya sekaligus dengan kecemasan tinggi terhadap alat komunikasi itu kecuali di Penyengat, khususnya abad ke-19. Di pulau maskawin Engku Puteri Raja Hamidah ini, mereka tidak saja menggunakan bahasa Melayu Riau untuk keperluan estetik dan pengetahuan, tetapi juga untuk kebahasaan itu sendiri. Tak hanya seorang dengan nama demikian melambung, tetapi sejumlah orang (UU Hamidy, 1983). Tercatatlah Raja Ali Haji menulis dua buku kebahasaan yakni Bustan al-Katibin (1857) dan Kitab Pengetahuan Bahasa (1858). Kawan seangkatannya, Haji Ibrahim yang juga dikenal sebagai pribumi pertama mengoleksi pantun, pun menulis kebahasaan melalui kitabnya Cakap Rampai-rampai (1867).

Lihat Juga

Petuah Amanah LAMR, Sempena penabalan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau sebagai Setia Amanah dan Timbalan Setia Amanah Masyarakat Adat Melayu Riau

Pengantar: Pada tanggal 6 Juli 2019 yang lalu, Lembaga Adat Melayu Riau melaksanakan majelis penabalan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!