Beranda / Telaah / Tunjuk Ajar Melayu: sebuah tanggapan
tunjuk ajar melayu

Tunjuk Ajar Melayu: sebuah tanggapan

Al azhar

  1. Pengertian

‘Tunjuk ajar’ ialah pernyataan dalam bahasa khas, yang mengemukakan petuah, nasehat, amanah, petunjuk, pengajaran dan suri teladan untuk mengarahkan manusia kepada kehidupan yang benar dan baik. Atau, dalam pengertian keagamaan, membawa manusia ke jalan yang lurus dan diridhoi Allah, yang berkahnya menyelamatkan manusia dalam kehidupan di dunia dan akhirat. ‘Tunjuk ajar Melayu’ yang disusun Tenas Effendy ini menakrifkan dirinya, antara lain sebagai berikut:

yang disebut tunjuk ajar dari yang tua,
petunjuknya mengandung tuah
pengajarannya berisi marwah
petuah berisi berkah
amanahnya berisi hikmah
nasehatnya berisi manfaat
pesannya berisi iman
kajinya mengandung budi
contohnya pada yang senonoh
teladannya di jalan Tuhan

(hal. 10-11)

  1. Kandungan, kedudukan, fungsi

Kandungan (isi) ‘tunjuk ajar’ Melayu adalah nilai-nilai luhur (hal. 17) yang berpaksi pada ajaran Islam, norma-norma sosial, serta tafsir budaya yang disimpul-simpai melalui interaksi intensif manusia Melayu dengan lingkungan luasnya (determinan-determinan ekologis). Ini misalnya tercermin dari isi tiga rangkap/bait pantun berikut:

apalah isi periuk besar
beras ditanak menjadi nasi
apalah isi tunjuk ajar
isinya syara’ dan sunnah nabi
 
banyak periuk dijerang orang
periuk besar tudungnya hitam
banyak petunjuk dikenang orang
tunjuk ajar mengandung alam
 
apalah isi periuk besar
isinya padi dan beras kunyit
apalah isi tunjuk dan ajar
isi mengandung bumi dan langit

(hal. 18)

Butir-butir nilai yang menjadi kandungan ’tunjuk ajar’ seringkali bersandar kepada pernyataan ”kata orang tua-tua”. ”Orang tua-tua” atau disebut juga ”orang patut” adalah istilah yang selain menunjukkan faktor usia, juga merujuk kepada keluasan wawasan dan kekayaan pengalamannya. Pemerolehan wawasan dan pengalaman itu bersumber dari dua ’bacaan’: bacaan terhadap alam (melalui interaksi ekologis), dan bacaan terhadap kitab-kitab otoritatif. ’Pembacaan’ terhadap alam melahirkan apa yang disebut sebagai tafsir empiris. Bagaimanapun, otentisitas (kesahihan) tafsir empirik itu tertakluk kepada perubahan ekologis dan proses sejarah yang mengiringinya.

Namun setelah agama Islam merasuki kebudayaan Melayu, tafsir-tafsir empirik itu menggapai otentisitasnya sebagai nilai yang dianggap kekal, apabila tafsir-tafsir tersebut bersesuaian dengan pesan dan nilai dari kitab-kitab otoritatif (Al-Quran, Hadits, kitab-kitab para ulama dan aulia). Sedangkan pembacaan terhadap kitab-kitab otoritatif mengalami proses penegasan dengan realitas, melahirkan tafsir-tafsir berupa butir-butir nilai yang mutlak, dalam arti: bila realitas tidak bersesuaian dengannya, maka realitas itu harus diubah.

Dengan sumber dan proses transformasi yang seperti itu, wajarlah bila ‘tunjuk ajar’ menempati kedudukan yang sangat penting, yaitu menjadi rujukan atau patokan utama kesadaran, moralitas, dan pembentukan jatidiri dalam kehidupan masyarakat Melayu tradisional. Fungsinya luas, yang secara metaforik, antara lain, disebutkan sebagai ‘pegangan’, ‘azimat’, ‘pakaian’, ‘rumah’, ‘tulang’, ‘jagaan’, ‘amalan’ dan ‘timang-timangan’ bagi diri. Diri yang mengabaikannya dianggap tidak akan menjadi ‘orang’, tidak ‘selamat’, tidak ‘terpuji’, tidak ‘bertuah’, tidak ‘terpandang’, tidak ‘sentosa’, tidak ‘terpilih’, tidak ‘diberkahi’, tidak ‘disayangi’, dan lain sebagainya. (Lihat: hal. 22-24).

  1. Penyebaran dan pewarisan

Penyebaran dan pewarisan ‘tunjuk ajar’ secara tradisional menggunakan dua cara: lisan-verbal dan suri-teladan (hal. 25), baik di ruang personal maupun komunal, domestik maupun publik.

Penyebaran dan pewarisan melalui suri-teladan dilakukan dengan perbuatan, tindakan, dan perilaku dalam perjalanan dan penyelesaian masalah kehidupan sehari-hari. Sedangkan penyebaran dan pewarisan menggunakan bahasa dilakukan melalui peristiwa-peristiwa lisan sehari-hari (yang personal, misalnya: nasehat orang tua dan orang tua-tua kepada anak-kemenakannya), maupun peristiwa lisan yang khas (yang digayakan maupun tidak), yang maujud dalam berbagai genre seni bahasa dan upacara (personal/domestik, misalnya: penceritaan dongeng, dendang syair dan pantun ibu yang menidurkan anaknya; yang komunal/publik, misalnya: pertunjukan seni-seni lisan, serta upacara-upacara adat dan siklus kehidupan).

Dari cara penyebaran dan pewarisan verbal itu, kita melihat gejala bahwa ‘tunjuk ajar’ berakar dalam tradisi lisan, dan menegaskan matra (dimensi) didaktik peristiwa-peristiwa lisan lintas genre yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat Melayu. Keberadaannya di dalam peristiwa-peristiwa lisan tersebut adakalanya eksplisit, mengucur deras dari mulut penuturnya, dengan ritma dan rima yang repetitif (misalnya, pada genre ‘cakap adat’, ‘berbilang undang’, ‘timbang hutang’ dalam peristiwa-peristiwa resmi perundingan adat berbagai komunitas di alam Melayu). Adakalanya pula, ia hadir tersirat, melatari sebagian atau keseluruhan peristiwa lisan tersebut, terutama dari genre kisahan (naratif). Bahkan di dalam dongeng-dongeng yang diceritakan seorang nenek atau ibu kepada cucu atau anaknya menjelang tidur pun –yang umumnya ‘dipenjarakan’ para orientalis era kolonial ke dalam pertimbangan dan istilah ‘pelipur lara’ saja— arus didaktis (tunjuk ajar) ini mengalir (deras atau tenang).

Lihat Juga

al azhar

Catatan Al azhar: Penemuan Kembali Kepulauan Sastra Melayu

[Tulisan ini bersumber dari versi power point yang dibentangkan dalam seminar sempena kegiatan “Revitalisasi Budaya ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *