Beranda / Telaah / Bahasa dan Kesantunan Melayu

Bahasa dan Kesantunan Melayu

 

berbuah kayu rindang daunnyabertuah Melayu terbilang santunnya
elok kayu karena daunnya – elok Melayu karena santunnya
(Tenas Effendy: Kesantunan Melayu, 2010:1)

Dalam budaya Melayu, kesantunan berkait-kelindan dengan persoalan aib/malu, adab, dan adat. Ketidaksantunan sama dengan membuka aib, tidak beradab, dan melanggar adat. Oleh karena itu, kesantunan dianggap sebagai salah satu pertaruhan hidup orang Melayu sejati.

Kesantunan berhubungan dengan bahasa dan perilaku. Berkenaan dengan bahasa, pujangga Melayu Raja Ali Haji (1809-1873), dalam bukunya Bustan al-Katibin (Taman Tulisan; 1267H/ 1850M) menulis: “… adab dan sopan itu daripada tutur kata juga asalnya, kemudian baharulah pada kelakuan” [lihat: Hashim bin Musa, 2005:5]. Tutur kata merupakan inti dari kegiatan berbahasa. Menurut Raja Ali Haji, agar dapat mencapai tingkat berbahasa yang beradab dan sopan itu, orang memerlukan ‘ilmu wa al-kalam (pengetahuan dan bahasa/percakapan) yang diperoleh melalui kehendak yang kuat (al-himmat), dan kegiatan-kegiatan mengulang-ulang (al-mudarasah), menghafal (al-muhazafat), berbincang untuk mengingat-ingat (muzakarah), dan menelaah/meneliti kembali (muthala’at).

Bahasa yang beradab, sopan, dan santun itu dengan demikian adalah kegiatan yang mengarus dari akalbudi (pikiran & hati) ke lidah. Dengan demikian, “bahasa” dalam adat dan budaya Melayu memiliki fungsi yang utuh, yaitu sebagai:

  • alat komunikasi: menyampaikan/menerima pesan/pernyataan pikiran dan perasaan;
  • penanda jatidiri: menunjukkan siapa dan dari mana orang tersebut;
  • cermin budi: memantulkan gambaran pribadi seseorang sebagai makhluk sosial.

Fungsi penanda jatidiri dan cermin budi, menegaskan kaitan erat antara bahasa dengan etika dan etiket dalam adat dan budaya Melayu: dari bagaimana bahasanya, orang dapat menentukan dimana posisi penutur bahasa tersebut dalam ranah etika dan adab. Ingat: hendak mengenal orang berbangsa – lihat kepada budi bahasa (Raja Ali Haji: Gurindam 12).

Tindakan berbahasa yang santun itu sekurang-kurangnya mencakup kemampuan memilih kata (ketepatan bahasa dengan pikiran dan perasaan yang hendak dikemukakan) dan kearifan merangkai kata, sebagaimana dikemukakan pujangga Tenas Effendy (2010):

tanda orang yang bijaksanatahu memilih merangkai kata
tanda orang yang terpujibahasanya tepat pahamnya tinggi
tanda orang yang terbilang – bahasanya elok maknanya terang
tanda orang berpikiran luas – bahasanya teratur maknanya jelas
apa tanda orang bertuah – budinya halus bahasanya indah

Adat dan adab Melayu membedakan pemakaian bahasa dalam tiga kelompok, yakni:

  • bahasa mendaki: digunakan oleh orang muda terhadap orang yang lebih tua, atau orang yang lebih rendah kedudukannya terhadap orang yang lebih tinggi kedudukannya;
  • bahasa mendatar: digunakan antara sama sebaya, atau yang berkedudukan setara; dan
  • bahasa menurun: digunakan orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya, terhadap yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya.

Ketiga kelompok pemakaian bahasa tersebut sejajar dengan tiga sikap afektif Melayu terhadap sesamanya, sebagaimana digambarkan dalam ungkapan: yang tua dihormati, yang sebaya dikasihi, yang muda disayangi. Tunjuk-ajar Melayu menyatakan:

adat bergaul di kampung negeri:
pandai-pandai membawa diri
baik-baik menjaga pekerti
berlemah-lembut merendahkan hati
adat resam kita hormati
petuah amanah kita hormati
mana yang jauh kita hampiri
mana yang dekat kita kunjungi
mana yang tua kita hormati
mana yang sebaya kita kasihi
mana yang muda kita sayangi

Kemudian:

Yang disebut adat berbahasa:
tahu alur dengan patutnya
tahu memilih kata mendaki
tahu memakai kata mendatar
tahu menyimak kata menurun
supaya aib tidak tersimbah
supaya malu tidak terdedah

Apa tanda orang berbangsa
bercakap tahu berbudi bahasa
berkata arif dalam berbahasa
bertutur bijak berkata-kata

Tindakan kebahasaan yang santun dan bermarwah ialah berbahasa yang mengedepankan adab, sesuai dengan nilai-nilai asas adat dan budaya Melayu, serta norma-norma sosial. Dari khasanah petuah Melayu, Tenas Effendy (2010: 21-22) mencatat, tindakan kebahasaan yang dikatakan santun itu mencakup:

Bercakap: adat bercakap mengandung adab
Berbual: adat berbual mengandung akal
Berbicara: adat berbicara berkira-kira
Berbisik: adat berbisik berbaik-baik
Berujar: adat berujar bertunjuk ajar
Bertutur: adat bertutur menuruti alur
Berbincang: adat berbincang menuruti undang

Begitulah; dalam budaya Melayu, bahasa dan etika merupakan dua hal yang sebati, dan di simpul kesebatiannya itu memancar harkat, martabat, dan marwah seseorang di tengah-tengah kelompok, kaum, dan bangsanya. Wallahu a’lam bissawab.

 

Oleh : Al azhar

Rujukan:

Raja Ali Haji. 1848. Gurindam Dua Belas. Manuskrip.
Raja Ali Haji. 1850. Bustan al-Katibin. [Seri Karya Agung, suntingan Hashim bin Musa, 2005]. Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan
Tenas Effendy. 2013. Kearifan Pemikiran Melayu. Pekanbaru: Tenas Effendy Foundation
Tenas Effendy. 2010. Kesantunan Melayu. Pekanbaru: Tenas Effendy Foundation

Lihat Juga

MUKHLIS PAENI: TENAS EFFENDY, “PENUTUR MADAH SEPANJANG ZAMAN“

  TENAS EFFENDY: PENUTUR MADAH SEPANJANG ZAMAN Mukhlis PaEni   Perkenalan pertama saya secara pribadi ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!