Beranda / Matabudaya / Semah Terubuk – J. S. G. Gramberg

Semah Terubuk – J. S. G. Gramberg

Bengkalis (KITLV 94519, 1911)

 

Pengantar penerjemah

Pada tahun 1877, seorang pegawai pemerintah kolonial Hindia-Belanda bernama J. S. G. Gramberg menerbitkan tulisan berjudul “Troeboek Visscherij” (Perikanan Terubuk) di dalam dua media cetak berbahasa Belanda. Pertama, media cetak Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (Majalah Bahasa, Tanah, dan Antropologi Hindia) jilid ke-24 halaman 298-317. Majalah ini diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Komunitas Batavia untuk Kesenian dan Ilmu Pengetahuan), dan oleh karena itu lazim disingkat TBG (Tijdschrift van Bataviaasch Genootschaap). Kedua, media cetak Sumatra Courant (Koran Sumatra) edisi Sabtu 17 November 1877, Rabu 21 November 1877, dan Sabtu 24 November 1877.

Isi dan susunan kedua publikasi itu dapat dikatakan identik, dengan empat urutan topik. Pertama, pendahuluan (‘Inleiding’; 1877: 298-299). Kedua, tentang sejarah produksi ikan terubuk (‘Geschiedenis der Visccherij’; TBG 1877: 299-303) di Bengkalis abad ke-19 (sebelum 1870-an) dan pasang-surutnya yang dipengaruhi oleh kebijakan perpajakan pemerintahan (baik Kerajaan Siak Sri Inderapura maupun Hindia-Belanda). Ketiga, ‘De Vischvangst’ (TBG 1877: 304-307), yaitu tentang teknologi penangkapan dan pemasarannya. Dan keempat, ‘Troeboek Bezwering’ (TBG 1877: 308-317) atau Semah Terubuk, yaitu tentang tradisi masyarakat nelayan setempat berkaitan dengan ikan tersebut.

Tiga tahun setelah tulisannya itu diterbitkan di TBG dan Sumatra Courant, Gramberg kembali menerbitkannya – dengan sedikit perubahan komposisi – dalam majalah yang agak popular yaitu Indische Gids (Panduan Hindia; 1880: 331-346) berjudul “De Visscherij en Bezwering van Troeboek” (Perikanan dan Semah Terubuk). Sebagaimana dituliskannya dalam salah satu paragraf, penerbitan kembali tulisan itu bertujuan agar lebih banyak pembaca Belanda mengetahuinya dan mungkin ada yang tertarik untuk melakukan penelitian lebih mendalam.

Maksud Tuan Gramberg itu lumayan tercapai, sebab setelah tulisannya itu beredar, cukup banyak penulis lain yang bukan hanya sekedar mengutipnya sebagai informasi, tetapi juga menjadikannya sebagai tumpuan analisis dan tafsir etnografis budaya Melayu, baik pada masa kolonial maupun sesudahnya. Misalnya, d’Estrey (1891)2, Wilken (1893)3, Verloop (1903)4, Bezemer (1906)5, redaksi Bataviaasch Nieuwsblad (Surat Kabar Orang Batavia; edisi 21 Agustus 1907)6, redaksi De Telegraaf (edisi 19 September 1928)7, W.H. Ridderhof dalam Nieuwe Apeldoornsche Courant (Koran Orang Apeldoorn Baru; edisi 19 November 1934)8, Kruyt (1939)9, hingga ke Koster (1997)10, dan Barnard (2003)11.

Tulisan di bawah ini adalah terjemahan bagian keempat dari artikel Gramberg itu, dengan teks dasar bertajuk ‘Troeboek Bezwering’ (Semah Terubuk) yang dimuat dalam TBG (halaman 308-317).

***

 

Setiap usaha selalu ada kemungkinan gagal, apalagi dalam pekerjaan menangkap ikan. Selain hilangnya jaring, tenggelamnya kapal, lenyapnya nelayan dan lebih banyak hal yang tak terhindarkan, pekerjaan menangkap ikan itu sendiri hasilnya sangat bervariasi. Tahun ini sangat banyak, tahun yang lain kurang, tahun berikutnya bahkan mungkin hancur-hancuran. Tahun-tahun tidak menyenangkan dialami sama banyaknya oleh nelayan penangkap ikan terubuk dengan nelayan-nelayan lain di dunia, termasuk penangkap ikan haring.

Alam adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi banyak atau sedikitnya hasil tangkapan; dan nelayan pribumi jarang memperhitungkannya. Ketika gejala aneh atau tidak bersahabat terjadi padanya, selalu ada kecenderungan pada mereka untuk memusatkan pikiran pada sebab-sebab supranatural. Hal ini juga terjadi pada nelayan penangkap ikan terubuk. Jika hasil tangkapan mereka berkurang selama beberapa waktu, maka mereka mendahulukan kesimpulan bahwa hal itu disebabkan oleh kuasa-kuasa rahasia, atau kemarahan kekuatan gaib. Maka, mereka merasa wajib membangkitkan kembali pengaruh-pengaruh baik, dan menghentikan kekuatan-kekuatan jahat yang membahayakan mereka. Dari situlah muncul upacara Semah Terubuk.

Upacara ini diikuti para pemimpin, nelayan dan sebagian besar penduduk; karena tujuannya adalah demi kebaikan bersama: berkurangnya ikan menyebabkan kemunduran dan kemiskinan.

Namun, upacara Semah Terubuk bukanlah perayaan sehari-hari. Selain sangat mustahak, acara ini juga sangat mahal. Untuk melaksanakannya dengan tepat, ribuan gulden harus dikumpulkan. Tertibnya pun tidak boleh ada yang ditinggalkan, sebab bisa-bisa semuanya akan menjadi sia-sia.

Sebelumnya, izinkan penulis memperkenalkan tokoh utama pelaku semah. Dia adalah seorang perempuan yang berasal dari kalangan biasa, namun memiliki gelar kebangsawanan Jinjang Raja12. Ketinggian martabatnya ini bersifat turun-temurun; oleh karena itu selalu berada dalam jurai keluarga yang sama, dan ketentuannya harus selalu seorang perempuan. Terbukti suatu kali, konon pada tahun 1865, seorang laki-laki ditunjuk sebagai penyemah terubuk, tetapi semah itu ternyata gagal: pihak yang diseru, terubuk, tidak terpikat.

Lihat Juga

Pantun Melayu Tahun 1848 (2)

Pengantar: Selain yang sudah dimuat sebelumnya [Lihat: Pantun Melayu Tahun 1848 1], pada halaman 182 ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!