Beranda / Matabudaya / Marsden dan Pantun Melayu (tahun 1812)

Marsden dan Pantun Melayu (tahun 1812)

Pengantar

William Marsden (1754-1836), seorang linguis dan sejarawan Inggris, adalah ilmuwan pioneer untuk kajian Nusantara. Salah satu karyanya berjudul A Grammar of the Malayan Language, diterbitkan tahun 1812 oleh The Author, London. Buku itu mulai ditulis ketika ia berkhidmat di East India Company di Sumatera pada tahun 1771-1779 dan dilanjutkannya setelah ia pulang ke Inggris.

Karya ini mengukuhkan Marsden sebagai seorang pakar bahasa Asia (Melayu) dan pengkaji Melayu terkemuka di Barat. Karyanya dianggap berbeda dengan karya-karya lain tentang bahasa Melayu karena memberikan penekanan-penekanan pada bagian-bagian penting penerjemahan Melayu-Inggris, selain juga menambahkan contoh-contoh yang diambil dari teks-teks asli yang dikumpulkannya semasa di Sumatera, salah satunya dalam bentuk Pantun. Hal inilah yang menjadikan karya Marsden masih dinilai sebagai sumber informasi penting, terutama untuk istilah-istilah lama (kuno), khusus, dan lokal.

Berikut ini adalah pantun-pantun yang terdapat dalam karya Marsden tersebut, yang ia gunakan sebagai contoh penggunaan bahasa dalam bentuk puisi di alam Melayu. Terjemahan yang dibuatnya atas pantun-pantun itu, menurut para pakar, telah membuka pintu bagi masuknya pantun Melayu ke dalam perpuisian Eropa, dan mengilhami sejumlah penyair di sana untuk mencipta puisi yang seiras dengan pantun. (Lihat: Pantun Melayu).

Contoh pantun tersebut dicetak dalam huruf Arab-Melayu, yang bersama terjemahannya terdapat di halaman 208-210. (Lihat ilustrasi)

 

Alih aksara
(halaman 208-209)

Kupu2 terbang melintang
Terbang di laut di hujung karang
Hati di dalam menaruh bimbang
Dari dahulu sampai sekarang
Terbang di laut di hujung karang
Burung nuri terbang ke Bandan
Dari dahulu sampai sekarang
Banyak muda sudah kupandang

Burung nuri terbang ke Bandan
Bulunya lekat jatuh ke Patani
Banyak muda sudah kupandang
Tiada sama mudaku ini
Bulunya jatuh ke Patani
Dua puluh anak merpati
Tiada sama mudaku ini
Sungguh pandai membujuk hati

 Anak dara menimba perigi
Putuslah timba tinggal tali
Biarlah jiwa kakanda pergi
Janganlah tuan berusak hati

(halaman 210)

Kuntul terbang ke(u)dara
Ikan selangat dihempaskan
Jangan digenggam bara
Rasa hangat dilepaskan

 Kerengga di dalam buluh
Serahi berisi air mawar
Sampai hasrat di dalam tubuh
Tuan seorang jadi penawar

(Alih Aksara: Al azhar; Pengantar: Sita Rohana)

 

Baca juga:

Pantun (Telaah)

Pantun Melayu 1848 (1)

Pantun Melayu 1848 (2)

 

Lihat Juga

Pantun Melayu Tahun 1848 (2)

Pengantar: Selain yang sudah dimuat sebelumnya [Lihat: Pantun Melayu Tahun 1848 1], pada halaman 182 ...

Satu komentar

  1. Pingback: Pantun - LAM Riau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!