Beranda / Matabudaya / Terubuk

Terubuk

Terubuk, Tenualosa macrura (www.fao.org)

 

(Tenualosa macrura/ Alausa macrurus-Bleker, 1852; Tenualosa toli/ Alausa toli-Valencienne, 1847). Jenis ikan tropis yang banyak ditemukan di perairan Asia (India, Malaysia, Thailand, Myanmar), di sekitar pesisir dan muara sungai. Walaupun berbeda spesies T. macrura dan T. toli sama-sama disebut sebagai terubuk di Indonesia dan Malaysia. Habitat kedua spesies ini di pesisir timur Sumatera dan dan pesisir barat dan utara Kalimantan. Kedua spesies ini pernah hidup di pesisir timur Sumatera. Namun, spesies T. toli mulai hilang sepenuhnya pada tahun 1970-an (Ahmad dkk., 1999). Sedangkan spesies T. macrura hingga kini masih ditemukan di perairan Bengkalis, Riau, walaupun mulai terancam kelangsungan hidupnya.

macrura lazim disebut sebagai ikan shad berekor panjang, memiliki ciri tubuh sebagai berikut: bentuk tubuh panjang dan ramping, sisik di bagian perut berjumlah 30-31 buah, tapis insang (gill rakers) halus tetapi tidak banyak, takik median (median notch) pada rahang membedakannya dari jenis lainnya (kecuali Hilsa Kelee), penyapu insang halus tetapi tidak banyak, sirip panjang dan runcing, tidak ada bintik-bintik gelap di sepanjang sisi. Sedangkan T. toli memiliki kepala lebih panjang tetapi ekor lebih pendek. T. toli lebih cepat dewasa dan berukuran lebih panjang (mencapai 46 cm) dibanding T. macrura (mencapai 33 cm). Daging ikan terubuk kurang diminati dibandingkan telurnya, karena banyaknya duri-duri halus. Dalam masakah Melayu, ikan terubuk dapat dihidangkan bersama telurnya atau hanya telurnya saja. Namun, untuk perdagangan, biasanya hanya diambil telurnya dan dikeringkan.

Ikan terubuk hidup berkelompok di perairan pesisir dan berenang ke muara sungai untuk bertelur. Makanan pokoknya adalah zooplancton.

Dalam biologi, terubuk adalah jenis protandrous hermaphorite, ikan jantan yang berubah kelamin menjadi betina pada usia dewasa (Blaber dkk., 1996). Perubahan jenis kelamin terjadi ketika terubuk berukuran 14-20 cm, pada usia enam bulan sampai satu tahun. Semua ikan yang berusia dua tahun berjenis kelamin betina dan masa hidupnya hanya sampai usia 2-3 tahun. Perubahan kelamin ini hingga abad ke-20 belum diteliti, tetapi masyarakat nelayan di perairan selat Bengkalis pada abad ke-19 sudah mempercayai bahwa ikan terubuk jantan di Selat Melaka berubah menjadi betina ketika memasuki Selat Bengkalis untuk bertelur (lihat Penangkapan Terubuk).

Setelah menjalani siklus bertelur di muara, pemijahan terjadi di perairan air tawar di Sungai Siak, yang mungkin terbawa arus pasang. Ikan terubuk remaja kemudian berenang ke perairan dangkal Selat Melaka. Nelayan pencari udang di lepas pantai Selat Baru sering menemukannya di dalam jaring udang. Di usia sekitar enam bulan, terubuk tumbuh dewasa sebagai jantan dan memasuki perairan selat yang terlindung, lebih dangkal dan berlumpur, untuk bertelur. Mereka akan kembali ke perairan Selat Melaka setelah bertelur. Migrasi dari Selat Melaka ke Selat Bengkalis dan sebaliknya terjadi sepanjang tahun pada bulan baru dan bulan purnama.

Ikan terubuk dikenal sebagai hasil tangkapan bernilai ekonomi tinggi sejak abad ke-16, khususnya telurnya, sebagaimana dicatat oleh pengelana Portugis bernama Mendez Pinto, yang mengunjungi Selat Melaka pada tahun 1539 (Gramberg, dalam Indische Gids 1880: 331). Bahkan, di pasar Eropa dikatakan “seenak kaviar Rusia” (Radermacher, 1787). Pada masa kerajaan Siak di abad ke-18, telur terubuk menjadi komoditas berharga penyumbang ekonomi kerajaan (Barnard, 2006). Perannya dalam ekonomi kerajaan pada abad ke-18 dan 19 juga ditandai dengan berkembangnya ritual terkait penangkapannya di masa itu (lihat Semah Terubuk). Bahkan, menjadi judul sebuah naskah yang menggambarkan politik kerajaan Siak, Syair Ikan Terubuk. Sejarah penangkapan ikan terubuk di Bengkalis menjadi inspirasi bagi slogan kota ini sebagai “Kota Terubuk”.

Namun, kelangsungan hidup ikan terubuk mulai terancam karena penangkapan ikan yang mengandung telur serta pengaruh pencemaran lingkungan—karena penebangan hutan—di perairan yang menjadi habitatnya. Oleh karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan melindungi keberadaannya dengan Kepmen No. 59/ MEN/ 2011 yang diberlakukan di lokasi sepanjang jalur pemijahan di Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Kepulauan Meranti, dan Kabupaten Siak (perairan Selat Bengkalis dan Sungai Apit) dan melarang penangkapan ikan terubuk pada saat pemijahan di bulan terang (purnama) dan bulan gelap (bulan baru).

 

(Sita Rohana)

 

 

Rujukan:

Barnard, T. P. 2006. Pusat-pusat Kekuasaan Ganda: masyarakat dan lingkungan di Siak dan Sumatera Timur, 1674-1827. Pekanbaru: P2KK-Unri. (Terjemahan dari Multiple Centres of Authority: society and environtment in Siak and Eastern Sumatra, 1674-1827, Leiden: KITV Press).

Blaber, S. J. M., dkk. 1996. “The Life History of the Tropical Shad Tenualosa toli from Sarawak: First evidence of protandry in the Clupeiformes?”, dalam Environtmental Biology of Fishes, Juli, hal. 225-242.

Blaber, S. J. M., dkk. 1999. “The Life History of the Protandus Tropical Shad Tenualosa macrura (Alosinae: Clupeidae): Fishery Implication”, dalam Estuarine Coastal and Shelf Science, November, hal. 689-701. 

Gramberg, J. S. G. 1880. “De Visscherij en Bezwering van Troeboek” dalam Indische Gids, halaman 331-346.

Radermacher, J. C. M.  1787. Beschryving van het Eiland Sumatra.

 

 

Lihat Juga

Pantun Melayu Tahun 1848 (2)

Pengantar: Selain yang sudah dimuat sebelumnya [Lihat: Pantun Melayu Tahun 1848 1], pada halaman 182 ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!