Beranda / Matabudaya / Syair Ikan Terubuk

Syair Ikan Terubuk

Naskah Syair Ikan Terubuk, Cod. Or. 2276e, koleksi Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda

 

Selama berabad-abad, ikan terubuk telah menjadi komoditas penting dalam sejarah ekonomi Selat Melaka, khususnya di kawasan Selat Bengkalis. Di masa lalu, penangkapan terubuk bukan hanya melibatkan pengalaman dan pengetahuan teknologis masyarakat Melayu Bengkalis dan sekitarnya, tetapi juga yang bersifat kosmologis. Namun tak cukup sampai di situ; ikan terubuk juga mengilhami sastrawan Melayu abad ke-19, merangsangnya mengambil kertas dan kalam, lalu duduk tunduk-tengadah menurunkan kepakaran sastrawinya menjadi syair yang seluruh tokohnya adalah ikan, berjudul Syair Ikan Terubuk (dan beberapa variasi judul lainnya). Ikhtisar kisahnya sebagai berikut:

Alkisah… di perairan Selat Melaka ada satu pangeran, Ikan Terubuk namanya. Ikan ini sehari-hari asyik memendam rindu pada ikan lain, Puyu-puyu, yang tinggal di sebuah kolam dekat Tanjungpadang. Tak sanggup lagi menahan rindu, Pangeran Terubuk mengumpulkan para menterinya untuk meminta nasehat bagaimana merebut Puteri Puyu-puyu. Kepada para pembantunya itu ia mengatakan, jika Puteri Puyu-puyu itu tidak berhasil direbut, maka ia akan pergi membuang diri ke Sailong (Sailan = Sri Langka). Mendengar itu, para menterinya bersiap untuk berperang, dan menyampaikan ikrar rela bertarung mempertaruhkan nyawa demi tuannya. Musyawarah darurat perang itu diakhiri dengan penyampaian beberapa peringatan tentang kemungkinan gagalnya serangan ke Tanjungpadang.

Di tempat lain, Puteri Puyu-puyu yang bertahta di kolam, diliputi kecemasan akan datangnya bahaya. Rasa cemas itu kemudian menemukan alasan ketika seekor Belut datang mengabarkan bahwa ia baru saja menghadiri musyawarah di tempat Pangeran Terubuk, dan memperingatkan Puyu-puyu tentang rencana Terubuk untuk menyerang dan merebutnya. Mendengar itu, Puteri Puyu-puyu segera mengumpulkan para pembantu dan dayang-dayangnya untuk bermusyawarah. Di dalam sidang itu, sebagian mereka menyatakan azam siap menyabung nyawa menahan serangan Terubuk; sebagian lainnya ketakutan dan putus asa. Puteri Puyu-puyu sendiri menyatakan, dia bukannya menolak diperisteri oleh Terubuk; tapi perkawinan itu mustahil terlaksana karena kerajaan Terubuk berada di lautan, sedangkan kerajaan Puyu-puyu di daratan.  

Dalam keadaan putus asa dan gagal membuat kesepakatan, sidang di kerajaan Puyu-puyu jadi tidak terkendali. Meski para bintara dan dayang-dayang sudah berikrar setia dan rela berperang sampai mati demi Puyu-puyu, kebimbangan tetap saja terjadi. Lalu, ikan Sebahan, yang amat mengasihi Puteri Puyu-puyu, menasehatinya agar mengabaikan ikrar perang kawan-kawan dan para pembantunya itu. Sebahan justeru menyarankan agar Puyu-puyu berserah diri kepada Tuhan, dan meminta pertolongan-Nya.

Puteri Puyu-puyu mengikuti nasehat Sebahan, lalu memanjatkan doa. Doanya kabul: hujan badai turun, dan di tengah kilat dan petir sabung-menyabung, turunlah nenek moyangnya dari Kayangan ke kolam itu membawa pohon pulai dari Tanjungbalai, lalu Puyu-puyu mengamankan diri di pucuknya.

Sementara itu, gelora rindu dan dendam birahi Pangeran Terubuk tak tertanggungkan lagi. Ia mengumpulkan sekalian hulubalang, dan menyusun pasukan menuju kolam di Tanjungpadang. Ikan Pari yang dikirim duluan untuk mengintai telah melihat Puteri Puyu-puyu pergi ke Kayangan, dan mengabarkan hal itu kepada Terubuk. Mendengar itu, Pangeran Terubuk putus asa, lalu menghibur dirinya dengan menikahi ikan lain, yaitu Ikan Kelesa.

Syair Ikan Terubuk cukup popular di lingkungan penikmat sastra Melayu paruh kedua abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Hal itu terbukti dari wujudnya belasan naskah (manuskrip) dan cetak (litografi) yang beredar di kawasan-kawasan sekitar Selat Melaka. Belasan naskah dan litografi berhuruf Arab-Melayu itu kini dikoleksi berbagai perpustakaan di dunia (seperti Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Perpustakaan Universitas Leiden, perpustakaan di Singapura, Malaysia, Riau, dan lain-lain), selain – sangat mungkin pula – dikoleksi oleh pribadi dan keluarga tertentu, di Bengkalis, Bukitbatu, Kepulauan Meranti, Siak, Kepulauan Riau, dan sebagainya.

Pengarang syair ini sampai sekarang tidak dapat ditentukan dengan pasti. Begitu pula naskah ’induk’nya, sumber yang kemudian disalin atau dikarang-ulang sehingga melahirkan keragaman versi dan varian teksnya. Seorang pengkaji sastra asal Belanda bernama Meijer1, dalam tesis masternya di Jurusan Bahasa-bahasa dan Kebudayaan Asia Tenggara dan Oseania Universitas Leiden Belanda (1984), sudah berusaha menelusuri sepuluh teks syair ini – delapan naskah dan dua litografi – untuk menentukan ’silsilah’nya. Dari pengujian melalui teknik-teknik filologi konvensional itu ia menyatakan tidak dapat menentukan mana di antaranya yang ‘asal’, dan mana pula yang salinan. Meijer juga menyimpulkan bahwa rentang masa awal penulisan Syair Ikan Terubuk adalah sekitar pertengahan abad ke-19, sedangkan kemungkinan tempat penulisannya hanya di Riau atau Singapura.

Lihat Juga

Pantun Melayu Tahun 1848 (2)

Pengantar: Selain yang sudah dimuat sebelumnya [Lihat: Pantun Melayu Tahun 1848 1], pada halaman 182 ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!