Beranda / Orang Patut / Tuanku Tambusai: De Padriesche Tijger van Rokan (Harimau Paderi dari Rokan)

Tuanku Tambusai: De Padriesche Tijger van Rokan (Harimau Paderi dari Rokan)

Setelah mendapatkan tambahan pasukan dari Padang, bersama pasukan rakyat yang memihak kepada Belanda, maka Belanda mulai menyerang satu persatu benteng yang tangguh tersebut. Belanda melakukan serangan terhadap Dalu-dalu melalui dua arah, yaitu Gunung Intan di sebelah utara dan melalui Pasir Pengaraian di sebelah Selatan. Belanda memerlukan waktu cukup lama untuk merebut benteng-benteng tersebut. Namun demikian, Belanda memandang serangan-serangan itu sebagai suatu keharusan untuk mematahkan perlawanan Tuanku Tambusai di daerah Rokan ini.

Dalam merebut benteng Gunung Intan, Belanda mengerahkan pasukan yang besar. Belanda baru berhasil merebut benteng ini dengan korban yang tidak sedikit. Pasukan Tuanku Tambusai mundur ke benteng berikutnya, dan berkali-kali pula melakukan penyerangan terhadap benteng-benteng di sebelah timur Gunung Intan yang telah direbut Belanda dari berbagai jurusan. Serang-menyerang untuk memperebutkan benteng-benteng ini berlangsung berbulan-bulan. Akhirnya, pimpinan pasukan Tuanku Tambusai memutuskan lebih baik mengosongkan benteng-benteng itu dan mundur untuk berkonsentrasi di benteng-benteng yang berada di sekitar Dalu-dalu.

Pasukan Belanda yang menyerang dari arah selatan sudah sampai dekat Kubu Talikumain yang dipertahankan langsung oleh Tuanku Tambusai. Pasukan Michiels melakukan pengepungan. Tuanku Tambusai melakukan serangan ke luar benteng sehingga pasukan Belanda cerai-berai. Kemudian terjadi pertempuran di medan terbuka antara kedua pasukan. Dalam pertempuran ini jatuh korban yang tidak sedikit di kedua belah pihak.

Setelah pasukan Michiels mendapatkan bantuan, maka Tuanku Tambusai mengundurkan diri dengan menyeberangi sungai untuk mempertahankan Kubu Godong dan Kubu Baling-baling. Pasukan ini bergabung dengan pasukan yang mengundurkan diri dari benteng-benteng sebelah timur Gunung Intan. Kemudian Tuanku Tambusai menyiapkan pasukannya di Benteng Aur Duri, sebagai tempat pertahanan terakhir. Setelah persiapan selesai, Tuanku Tambusai kembali mempertahankan Kubu Godong yang letaknya cukup strategis.

Gabungan tentara Belanda dari utara dan selatan melakukan serangan terhadap Kubu Godong dan Kubu Baling-baling. Kekuatan Belanda yang besar ini dapat merebut kedua kubu tersebut setelah mengalami perlawanan yang sengit dan korban yang banyak. Pasukan Tuanku Tambusai mengundurkan diri melalui pintu rahasia ke Benteng Aur Duri. Belanda berhenti menyerang karena tidak berani mendekati kubu ini. Beberapa minggu mereka menunggu saat yang tepat sambil membuat benteng-benteng. Kemudian mereka melakukan penyerangan dengan pasukan kecil ke Benteng Aur Duri yang kuat dan berpintu tiga lapis itu. Setiap percobaan untuk menembus pintu pertama, lebih banyak yang tewas daripada yang kembali.

Setelah berulang kali menyerang, Belanda mengetahui rahasia pintu masuk dan pintu belakang. Bagi Belanda tidak ada pilihan lain kecuali menerobos pintu gerbang, karena mengulur waktu akan melemahkan moral pasukan. Maka, Belanda melakukan serangan dahsyat dari pintu gerbang dan melakukan serangan terpencar merayapi pinggir kubu. Sebagian tentara Belanda berada di seberang Batang Sosah untuk mengintai pasukan Tuanku Tambusai yang mengundurkan diri dari pintu belakang.

Dalam serangan ini Belanda tidak mempedulikan pasukan mereka yang mati bergelimpangan, sementara yang masih hidup terus menyerang merebut pintu pertama. Perang bersosoh (berhadapan satu lawan satu) berkecamuk, dari pagi sampai malam. Pasukan Belanda yang datang seperti air bah itu akhirnya berhasil menghancurkan pintu pertama. Belanda terus menyerbu pintu kedua, dan terjadi pula perlawanan yang tidak kalah sengitnya dari waktu mempertahankan pintu pertama. Pintu ini pun dapat direbut Belanda. Akhirnya terjadilah pertempuran habis-habisan untuk mempertahankan pintu ketiga.

Setelah berjuang dengan segenap tenaga, maka Tuanku Tambusai memutuskan untuk meninggalkan benteng yang dipertahankan selama ini. Beliau menyuruh pasukannya melewati pintu belakang dan mengundurkan diri melalui sungai. Namun pasukan Belanda yang berada di seberang sungai menyerang dengan tembakan, sehingga banyak di antara mereka yang wafat di dalam sungai itu.

Perahu yang ditumpangi Tuanku Tambusai tidak luput dari tembakan tentara Belanda. Tuanku Tambusai dan rombongannya menyelamatkan diri dengan terjun ke sungai, berhanyut ke hilir, kemudian melanjutkan perjalanan ke Malaya. Tentara Belanda yang mengejar Tuanku Tambusai hanya menemui perahu yang ditumpangi beliau.

Tuanku Tambusai telah berjuang melawan penjajah Belanda dalam waktu yang cukup lama. Benteng yang dibangun di negerinya sendiri dipertahankannya dalam waktu hampir dua tahun. Sebagian besar masa hidupnya telah dihabiskan dalam perjuangan menentang Belanda. Tuanku Tambusai meninggal dunia di sebuah kampung kecil, sembilan batu dari Kampung Rasah, Seremban, Negeri Sembilan. Dalam tahun 1922 seorang terkemuka Kerajaan Tambusai yang bernama Lisut gelar Datuk Paduko Simaharajo berziarah ke makam Tuanku Tambusai. Di sini beliau menemukan cucu almarhum yang bernama H. Chadidjah, istri Encik Kulub, kerabat Datuk Bandar Kampung Rasah.

Lihat Juga

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) lahir di Rengat, Riau, 24 Juni 1941 dari pasangan Mohammad Bachri ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!