Beranda / Orang Patut / Tuanku Tambusai: De Padriesche Tijger van Rokan (Harimau Paderi dari Rokan)

Tuanku Tambusai: De Padriesche Tijger van Rokan (Harimau Paderi dari Rokan)

Benteng Tujuh Lapis
Benteng Tujuh Lapis Dalu-dalu (Foto: Rhomi AB)

Di bagian barat benteng utama itu dibangun pula dua benteng. Pertama, Kubu Baling-baling, berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Benteng Aur Duri; terletak di daerah yang agak tinggi. Kedua, Kubu Godong, berjarak sekitar 300 meter dari Benteng Aur Duri; lebih besar dari Kubu Baling-baling.

Setelah selesai membangun benteng dan kubu-kubu, Tuanku Tambusai bergerak menuju Padang Lawas melalui Gunung Intan. Sewaktu pasukan Tuanku Tambusai bergerak meninggalkan Gunung Intan, Belanda mencoba menghadang, dan mencegat di dekat Kota Nopan. Hadangan itu dilawan oleh pasukan Tuanku Tambusai, sehingga pasukan Belanda dalam keadaan cerai-berai melarikan diri ke Kota Nopan.

Tidak lama setelah itu, Tuanku Tambusai menyiapkan serangan ke Kota Nopan. Dalam serangannya terhadap benteng Belanda di Kota Nopan, pasukan Belanda mengalami banyak kerugian, banyak meriam yang dirampas, gudang makanan dibakar, dan pasukan Belanda banyak yang tewas. Selesai mengadakan serangan terhadap Kota Nopan, Tuanku Tambusai melakukan pula serangan terhadap Angkola.

Melihat perlawanan gigih yang diperlihatkan oleh Tuanku Tambusai, Belanda merasa perlu mengadakan perundingan. Pada 31 Juli 1834, Residen Francis berunding dengan wakil-wakil yang dikirim oleh Tuanku Tambusai. Beliau sendiri tidak hadir karena sudah menyadari bahwa tidak ada gunanya berunding dengan Belanda. Dalam perundingan ini wakil-wakil dari Tuanku Tambusai menegaskan agar Belanda menarik diri dari tanah Mandailing. Perundingan ini akhirnya mengalami kegagalan.

Serangan berikut dari pasukan Tuanku Tambusai melumpuhkan pertahanan Belanda. Pada awal tahun 1835, Tuanku Tambusai dapat menguasai daerah Bonjol dan Rao dari pendudukan Belanda. Pada Juli 1835 Tuanku Tambusai melakukan serangan terhadap kedudukan Belanda di Padang Matinggi. Di beberapa tempat, rakyatnya dapat dipengaruhi oleh Belanda untuk berpihak kepada mereka; tetapi Tuanku Tambusai kembali dapat membangkitkan semangat mereka untuk menentang Belanda. Bahkan pasukan Belanda yang berasal dari Jawa banyak yang dapat dipengaruhi oleh Tuanku Tambusai. Sampai akhir Desember 1836, Tuanku Tambusai masih berhasil membangkitkan semangat rakyat Rao untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Menghadapi kenyataan kekalahan demi kekalahan, Belanda mengintensifkan politik adu domba dan memotong jalur pasokan logistik. Pada 16 Agustus 1837, Bonjol jatuh ke tangan Belanda; kemudian Tuanku Imam Bonjol mereka tangkap pada 28 Oktober 1837. Setelah itu, Belanda memusatkan kekuatannya menghadapi perlawanan Tuanku Tambusai.

Bulan November 1837, Belanda mengerahkan pasukannya secara besar-besaran di bawah pimpinan Mayor van Beethoven untuk merebut pangkalan Tuanku Tambusai di Portibi. Akan tetapi, Tuanku Tambusai telah membuat kubu-kubu pertahanan di luar Portibi. Salah satu kubu yang terkenal adalah di Siminabun. Tuanku Tambusai dengan pasukannya mempertahankan dengan gigih kubu-kubu pertahanan tersebut sehingga menimbulkan korban yang tidak sedikit di pihak Belanda. Setelah dapat merebut benteng di Siminabun, maka Belanda melakukan penyerangan terhadap benteng Portibi, dengan pasukan yang baru didatangkan dari Padang. Belanda berhasil merebut Benteng Portibi dengan pengorbanan yang besar.

Pasukan Tuanku Tambusai mengundurkan diri ke Kota Pinang. Mereka mendapat sambutan baik di daerah tersebut. Dari Kota Pinang, Tuanku Tambusai mencoba melakukan serangan terhadap Portibi, namun dapat diredam Belanda. Pasukan Tuanku Tambusai kembali mengundurkan diri ke Kota Pinang. Sewaktu Tuanku Tambusai melakukan persiapan untuk menyerang Portibi, Kolonel Michiels (pimpinan pasukan Belanda) melakukan serangan mendadak ke Kota Pinang. Oleh sebab itu, Tuanku Tambusai meninggalkan Kota Pinang dan bergerak ke Gunung Intan.

Gunung Intan merupakan daerah perbatasan dan jaraknya dengan Dalu-dalu hanya 12 kilometer. Antara Gunung Intan (dekat Sungai Korang) dan Dalu-dalu, Tuanku Tambusai telah membangun benteng-benteng sewaktu beliau pulang ke Dalu-dalu beberapa tahun sebelumnya. Benteng-benteng yang sudah dibangun itu adalah di Tanjung Merah (Tandikat), Sungai Aur (Silayang-layang), Tanjung Baru, Paringgonan, Huta-padang, Kuala Tambusai, dan Mondang Kumango. Dengan adanya kubu-kubu ini, bila pasukan terdesak di satu kubu, maka dapat dipindahkan ke kubu berikutnya.

Benteng-benteng tersebut sangat sukar direbut. Untuk menyerangnya diperlukan pasukan yang besar. Oleh karena itu, Kolonel Michiels memerintahkan Mayor Hojel untuk menghentikan serangan dan mengajak Tuanku Tambusai berunding dan berdamai. Ajakan Belanda itu dengan tegas ditolak Tuanku Tambusai.

Lihat Juga

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) lahir di Rengat, Riau, 24 Juni 1941 dari pasangan Mohammad Bachri ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!