Beranda / Orang Patut / Riwayat Hidup Singkat Almarhum Tuan Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad

Riwayat Hidup Singkat Almarhum Tuan Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad

TAK berlebihan kalau diucapkan bahwa tanpa kata-kata pun, pastilah banyak orang menyimpulkan bagaimana menyatunya Riau dengan sosok seseorang yang bernama Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad. Pada hari wafatnya, 11 Januari 1994, jasad Gubernur Riau itu, justeru dirahab oleh kain tenun Siak, salah satu produk budaya kebanggaan Melayu Riau. Ia tampak begitu “menikmati” hal tersebut sebelum tubuhnya dimasukkan ke dalam lahat yang berjarak sekitar 1.238 Km dari tanah kelahiran, jarak antara Riau dengan Jakarta.

Begitu susah diterangkan secara logika tentang kenyataan itu. Tetapi hati dapat menyebutkan dengan segera bahwa hal tersebut pastilah berhubungan langsung dengan kecintaan dan keinginan. Sesuatu yang tak bisa dibuat-buat yang tampaknya menjadi semacam takdir. Kita menarik nafas panjang manakala ingat bahwa jasad isterinya, Martha Lena, yang meninggal sepuluh tahun sebelumnya yakni 7 Mei 1984, juga dirahab kain tenunan Siak. Lengkaplah gambaran ini menuturkan suatu kisah khusus manakala tubuh salah seorang anaknya yakni, Dr.dr. Rossalyn Sandra Andrisa SpM. MEpid, yang berpulang kemudian—12 Juli  2017–juga dirahab kain tenun serupa.

Pada awalnya barangkali dapat disebut sebagai kebetulan. Sebermula sebagai suatu kenyataan bahwa keluarga ini, khususnya saat Puan Martha Lena masih hidup, hanya memiliki tiga atau empat bidang kain batik dan kebaya panjang, selebihnya adalah kain tenun Siak. Dengan salah satu kain tenun Siak itulah, jasad almarhumah Martha Lena dirahab yang kemudian merahab jasad almarhum Arifin Ahmad, bahkan bagi jasad anaknya yang kedua sebagaimana disebutkan di atas. “Sampai sekarang terbawa sikap ini pada kami anak-anaknya,” papar Puan Joycelyn Darmajanti, anak tertua almarhum Brigjen TNI H. Arifin Achmad melalui surat elektronik dari Australia pertengan Juli 2020.

Masih berkaitan dengan kain tenunan Siak ini, tak mungkin terlupakan bagaimana almarhum, semasa hidup juga memodifikasikannya menjadi pakaian sehari-hari. Tidak sembarang tempat kemeja maupun safari dengan bahan tenun Siak itu dipakainya. Pakaian tersebut digunakannya saat bertemu dengan menteri atau pejabat tinggi lainnya di Jakarta. Dengan demikian, ia tentu tampil beda, tetapi menyematkan kesan khusus yang mungkin dapat bermakna sebagai suatu pernyataan keberadaan Riau. Suatu daerah yang memiliki martabat tersendiri yang pada saat itu oleh karena berbagai sebab luaran, kurang dikenal di mata orang ramai yang tak akan diuraikan dalam kesempatan sekarang.

Syahdan, masih banyak piranti yang menunjukkan hubungan keragaan dan kebatinan almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad dengan Riau. Musik kesukaannya, makanan kesukaannya, sapaan, dan pikirannya, tak penah lepas dari daerah ini.  Hal itu bukan berarti ia menafikan produk budaya dengan latar belakang berbeda. “Tapi kalau di dekatnya didengarkan musik Melayu atau makanan Melayu, almarhum akan berkata, nah ini baru lagu atau ini baru makanan,” kata keponakan almarhum, Syofyan Zainal (72).

Ternyata di antara makanan kecil yang paling disukai almarhum adalah bubur kacang hijau. Apalagi, sambung keponakannya yang lain, Khairul Zainal (67), makanan itu dibuat oleh ibunya sendiri, Hj. Cik Binti Tahir. Makanan tersebut yang selalu ia minta dari ibunya. Ia malah bisa membedakan mana bubur kacang hijau yang dibuat ibunya, mana yang tidak. Makanan itu tampak pekat yang memang tidak umum bagi orang lain. Kalau bubur kacang hijau buatan orang lain, hanya ditanggapi almarhum dengan biasa-biasa saja.

LAHIR di Bagansiai-api 23 Oktober 1924, almarhum Brigjen  TNI (Purn) H. Arifin Achmad, adalah putera tempatan pertama dan terlama menjabat sebagai Gubernur Riau, 1966-1978. Orang pertama pula di daerah ini menyandang gelar jenderal,  jabatan jabatan gubernur dipikulnya penuh dengan pergolakan batin, sebab ia masih amat muda dengan karier militer yang gemilang pada saat bersamaan. Usia baru 42 tahun waktu itu, sudah memegang jabatan militer tinggi di Sumatera yakni Asisten III Panglima Komando Antardaerah (Pangkoanda) Sumatera di Medan yang serta merta harus ditinggalkannya kalau menerima jabatan gubernur. Sedangkan Riau yang akan dipimpinnya sedang babak-belur menghadapi gempuran dalam dan luar negeri, bahkan di dalam daerah itu sendiri.

Betapa tidak. Sebagaimana daerah lain, Riau juga menghadapi pengkhianatan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965. Tapi sejak beberapa tahun sebelumnya, justeru daerah inilah yang menjadi barisan terdepan dalam konfrontasi Malaysia yang antara lain menyebabkan tetutupnya saluran ekonomi dengan Malaysia dan Singapura—misalnya ditandai penghapusan dollar di Riau kepulauan. Ditelusuri beberapa tahun ke belakang, bukankah daerah ini disebut sebagai salah satu sarang pemberontakan apa yang dsebut Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Provinsi Riau baru hendak berbenah, menyusul kejadian-kejadian itu semua, ditambah pemindahan ibu kota dari Tanjungpinang ke Pekanbaru tahun 1960.

Lihat Juga

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) lahir di Rengat, Riau, 24 Juni 1941 dari pasangan Mohammad Bachri ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!