Beranda / Orang Patut / Tuanku Tambusai: De Padriesche Tijger van Rokan (Harimau Paderi dari Rokan)

Tuanku Tambusai: De Padriesche Tijger van Rokan (Harimau Paderi dari Rokan)

Benteng Tujuh Lapis
Peta: Gen. Major H.J.J.L Ridder de Stuers, “De Vestiging en Uitbreiding de Nederlanders ter Westkust van Sumatra”. Deel II 1850

Perang yang dilakukan Belanda untuk menghancurkan kaum Paderi dan menaklukkan Minangkabau membangkitkan amarah Tuanku Tambusai. Beliau tampil menceburkan diri memimpin perang menghadapi Belanda. Sewaktu pasukan Belanda kewalahan menghadapi Tuanku Tambusai dan menawarkan perdamaian, dengan tegas beliau menolak. Untuk menghadapi Belanda, Tuanku Tambusai menyusun pasukan di Padang Lawas, yang sebagiannya adalah murid-muridnya sendiri. Pengetahuan yang diperoleh Tuanku Tambusai selama menunaikan ibadah haji sangat menolongnya dalam menyusun kekuatan dan melakukan penyerangan terhadap Belanda. Tuanku Tambusai melakukan konsolidasi kekuatan bersama Tuanku Rao.

Setelah Belanda dapat merebut Bonjol dan Rao bulan September 1832, Residen dan Komandan Militer Belanda, Letnan Kolonel Elout, membujuk Tuanku Tambusai agar menyerah. Bujukan ini dijawab oleh Tuanku Tambusai dengan saran agar Belanda kembali saja ke daerah pantai dan tidak mencampuri urusan dalam negeri orang lain. Oleh karena Elout tidak ingin menyerahkan daerah yang telah dikuasainya, maka Tuanku Tambusai berkata kepada Elout, “Sediakanlah bedil!”. Semenjak itu perlawanan Tuanku Tambusai terhadap Belanda selalu dalam posisi menyerang atau diserang. Dalam masa-masa inilah pimpinan militer Hindia-Belanda memberi gelar De Padriesche Tijger van Rokan (Harimau Paderi dari Rokan).

Tidak lama setelah pasukan Paderi menyerang pertahanan Belanda di Bonjol, Sepisang, dan pos-pos pertahanan Belanda lainnya (Januari 1833), maka Tuanku Tambusai melakukan penyerangan mendadak ke dalam benteng Belanda bernama “Fort (Benteng) Amerongen” di Rao. Setelah serangan selesai, Tuanku Tambusai menarik pasukannya dari dalam benteng, kemudian mengundurkan diri ke arah Angkola. Belanda terkejut menerima serangan mendadak Tuanku Tambusai ini, yang menewaskan 11 orang tentara Belanda dan melukai 24 orang lainnya. Dalam serangan itu, di pihak Tuanku Tambusai 25 orang terluka, termasuk Tuanku Tambusai sendiri.

Pada bulan Maret 1833, Tuanku Tambusai menyusun kekuatan untuk menyerang Rao. Pasukan Paderi berhasil menghancurkan pasukan Belanda di luar Kampung Lundar. Kemudian terjadi serang-menyerang antara pasukan Belanda dengan pasukan Paderi. Belanda melakukan penyerangan dari tiga jurusan. Pertempuran ini demikian hebat sehingga selalu terjadi rebut-merebut kubu pertahanan, yang selalu berganti tangan antara pasukan Paderi dan pasukan Belanda. Pada malam harinya Belanda meneruskan serangan besar-besaran dengan tembakan mortir yang mengakibatkan pasukan Paderi meninggalkan kubu-kubu pertahanannya dan mengundurkan diri ke arah Lubuk Sikaping.

Memperkirakan bahwa peperangan dengan Belanda akan berlangsung lama, dan tawaran perdamaian dari mereka hanya jebakan, maka Tuanku Tambusai menetapkan tekad terus berjuang. Lalu Tuanku Tambusai mengerahkan murid-muridnya untuk membangun benteng pertahanan di kampung asalnya, Dalu-dalu. Bila Belanda dapat mengalahkan kaum Paderi di daerah Minangkabau dan Tapanuli Selatan, maka perjuangan dapat dilanjutkan di kampungnya sendiri.

Sewaktu pasukan Belanda banyak diperlukan untuk menghadapi medan yang lain, Tuanku Tambusai mendapat kesempatan yang baik untuk bergerak. Sekitar tahun 1833, beliau dengan pasukannya menuju Dalu-dalu. Sebelum sampai ke Dalu-dalu, Tuanku Tambusai berhenti di suatu tempat bernama Batang Kayuh. Dari sini Tuanku Tambusai mengirim mata-mata ke Dalu-dalu untuk mencermati situasi di sana. Sambil menunggu laporan dari Dalu-dalu, Tuanku Tambusai membuat benteng di pinggir Sungai Talikumain, diberi nama Kubu Talikumain.

Kedatangan Tuanku Tambusai ke Dalu-dalu ini adalah untuk membuat benteng pertahanan melawan Belanda, bukan untuk menyerang kaum bangsawan di Kerajaan Tambusai yang dulu pernah memusuhinya. Namun rupanya Negeri Lama dan Dalu-dalu telah dikosongkan oleh pihak kerajaan. Melihat sikap tidak bersahabat yang diperlihatkan oleh kerajaan, di antara prajurit muda Tuanku Tambusai ada yang melampiaskan kemarahannya dengan membakar Dalu-dalu. Kemudian Tuanku Tambusai membawa pasukannya ke hilir Batang Sosah, di tempat beliau dahulu mendirikan suraunya. Di daerah inilah Tuanku Tambusai membangun benteng yang kuat dan merupakan benteng yang utama dan terbesar.

Benteng utama tersebut berlapis tujuh, dengan bentuk melingkar. Lapisan yang paling dalam mempunyai garis tengah lebih kurang 500 meter. Komplek benteng ini merupakan satu perkampungan. Setiap lapis dilingkari parit dengan kedalaman lebih kurang 10 meter. Di bagian terluar, dibuat pintu-pintu berlapis tiga menghadap ke barat, terbuat dari papan-papan tebal. Setiap lapis memiliki rahasia tersendiri, untuk penyimpanan senjata, makanan, dan sebagainya. Di sekitar benteng ini ditanam aur duri agar musuh tidak mudah mendekat. Benteng utama ini diberi nama Benteng Auo (Aur) Duri, atau Benteng Tujuh Lapih (Lapis).

Lihat Juga

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) lahir di Rengat, Riau, 24 Juni 1941 dari pasangan Mohammad Bachri ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!