Beranda / Orang Patut / Sultan Syarif Kasim II: Tahta untuk Indonesia

Sultan Syarif Kasim II: Tahta untuk Indonesia

Sultan Syarif Kasim II
Sultan Syarif Kasim II (Foto: dinsos.riau.go.id)

 

Sultan Syarif Kasim II atau Yang Dipertuan Besar As-Syaidi s-Syarif Kasim Sani Abdul Jalil Syaifudin adalah Sultan ke-12 Kesultanan Siak. Lahir di Siak Sri Inderapura (kini: ibukota Kabupaten Siak Provinsi Riau) pada 11 Jumadilawal 1310 H/ 1 Desember 1893, dan mangkat di Rumbai, Pekanbaru Riau pada 23 April 1968. Sultan Syarif Kasim II dimakamkan di Kompleks Masjid Syahabuddin, Kampung Dalam, Siak Sri Indrapura. Angka II (kedua) yang dilekatkan pada akhir nama baginda adalah untuk membedakan dengan nama dan sebutan datuknya, Sultan Syarif Kasim I (As-Syaidi s-Syarif Kasim Abdul Jalil Jalaluddin), Yang Dipertuan Besar (Sultan) Siak ke-10 (memerintah tahun 1864-1889).

Syarif Kasim II dinobatkan sebagai Sultan Siak tanggal 8 Maret 1915, menggantikan ayahandanya, Yang Dipertuan Besar As-Syaidi s-Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin, Sultan Siak ke-11 (memerintah tahun 1889-1908). Ketika ayahandanya mangkat, sebagai putera mahkota, Syarif Kasim (II) masih berusia belia (sekitar 14 tahun) dan sedang menuntut ilmu hukum Islam dan ketatanegaraan di Batavia. Maka, selama lebih kurang tujuh tahun (1908-1915), Kesultanan Siak diperintah oleh Wali Sultan yaitu Menteri Datuk Sri Bijuangsa dan Tengku Besar Syaid Assagaf (Hakim Polisi Siak).

Menjelang penobatan baginda tahun 1915, Gubernur Jendral Hindia-Belanda di Batavia (saat itu: Idenburg), berusaha campur tangan dengan mengusulkan tokoh lain. Tetapi Dewan Menteri Kerajaan Siak yang terdiri dari Datuk Tanah Datar Sri Pakermaraja, Datuk Lima Puluh Sri Bijuangsa, Datuk Pesisir Sri Dewa Raja, dan Datuk Kampar Maharaja Sri Wangsa, didukung oleh para pembesar lainnya, tetap memilih dan mengangkat beliau sebagai pewaris kesultanan menggantikan ayahandanya.

Semasa menuntut ilmu di Batavia, Syarif Kasim II semula tinggal di rumah keluarga Hindia Belanda, namun karena dasar ke-Islam-an yang sudah tertanam di hatinya, ia kemudian pindah dan menetap di rumah seorang alim bernama Sayed Husain Al-Aidit. Di situ pula beliau mencermati perubahan-perubahan politik bersama munculnya sejumlah organisasi nasionalis dan Islam, seperti Budi Utomo (1908), Syarikat Islam (1911), Indische Party (1912), Muhammadiyah (1912), Puteri Mardika (1912) dan sebagainya, yang gema gerakannya sampai ke Batavia. Pembaharuan pemikiran yang membangkitkan semangat kebangsaan dan kemerdekaan itu sedikit-banyaknya mempengaruhi pembentukan jiwa dan kepribadian Syarif Kasim II, yang kelak terbukti setelah beliau menjadi Sultan Siak ke-12.

Ketidaksenangan pemerintah Belanda atas pengangkatan Syarif Kasim II sebagai Sultan terlihat dalam bentuk penciutan 10 provinsi dalam Kesultanan Siak menjadi lima onderdistrik, dan dihapuskannya Dewan Kerajaan serta beberapa jabatan di lingkungan kerajaan. Restrukturisasi yang dipaksakan pemerintah Hindia-Belanda itu mengakibatkan beban pemerintahan tertumpu di bahu Sultan sendiri, tanpa pembesar-pembesar kerajaan. Maka hubungan Sultan dengan kaki-tangan penguasa Hindia-Belanda tidak dapat dikatakan baik. Kebijakan-kebijakan Belanda selalu dipertanyakan dan ditentang oleh baginda, sehingga Belanda sering menggunakan tekanan dan paksaan kepada beliau (Ahmad Yusuf, 1992). Keadaan itu berlangsung sejak awal pemerintahan baginda, sampai baginda wafat.

Di masa-masa awal pemerintahan beliau, dengan pengetahuan dan pendidikan beliau, baginda Sultan menghalakan azam pada perkembangan Kerajaan Siak dari segi pemerintahan, pendidikan, perekonomian dan kesejahteraan rakyat. Di bidang pendidikan, Sultan mengembangkan lembaga pendidikan umum (sekolah) yang dipadukan dengan pendidikan agama (Islam). Pada tahun 1915, ketika baru berkuasa tujuh bulan, Sultan sudah mendirikan sekolah untuk anak-anak negeri. Bagi anak-anak yang kurang mampu, baginda menyediakan beasiswa, sekaligus mendirikan asrama tempat mereka tinggal. Anak-anak rakyat Siak juga dikirim belajar ke Batavia. Melalui lembaga-lembaga dan program pendidikan itu, Sultan menanamkan rasa kebangsaan dan kekuatan rohani untuk mengimbangi kekuatan fisik (OK Nizami Jamil, 1977; OK Nizami Jamil, dkk., 2011).

Namun program itu tidak disambut positif oleh pemerintah Hindia-Belanda. Dengan berbagai cara Belanda berusaha menghalanginya, antara lain dengan menempatkan kepala sekolah dan guru-guru dari pihak mereka. Campur-tangan Belanda di sektor pendidikan ini semakin nyata, ketika tahun 1917 Sultan mendirikan Sekolah agama Islam yang diberi nama Madrasah Taufiqiyah el-Hasyimiah. Selain pendidikan Islam, lembaga ini juga menjadi wadah penanaman semangat kebangsaan, patriotisme, kecintaan kepada kebudayaan pribumi, dan kepanduan. Para pengajarnya didatangkan Sultan dari luar Siak, seperti dari Sumatera Timur dan Sumatera Barat, yang pada umumnya lulusan dari Universitas Al-Azhar Kairo. Waktu belajar ditetapkan sore hari, agar anak-anak HIS (Hollandsch-Inlandsche School-Sekolah Belanda untuk Bumiputera) yang belajar pagi dapat ditampung.

Lihat Juga

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) lahir di Rengat, Riau, 24 Juni 1941 dari pasangan Mohammad Bachri ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!