Beranda / Orang Patut / TENGKU NASARUDDIN SAID EFFENDY – (H. TENAS EFFENDY – 1936-2015)

TENGKU NASARUDDIN SAID EFFENDY – (H. TENAS EFFENDY – 1936-2015)

Tengku Nasaruddin Said Effendy bin Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri adalah nama asal budayawan terkemuka alam Melayu, Haji Tenas Effendy. Beliau lahir di Kampung Tanjung Malim Kuala Panduk, Kerajaan Pelalawan, pada tanggal 9 November 1936, dan wafat di Pekanbaru pada tanggal 28 Februari 2015. Ayahandanya, bernama Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri, dan ibundanya bernama Tengku Syarifah Azamah binti Tengku Said Abubakar. Keduanya kerabat diraja Kerajaan Pelalawan.

 

Ayah dan anak

Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri pernah menjadi sekretaris pribadi Sultan Said Hasyim (raja Kerajaan Pelalawan). Beliau tidak hanya mencatat urusan-urusan resmi kerajaan, tetapi juga menulis silsilah keluarga diraja Kerajaan Pelalawan dan adat-istiadat setempat, yang kemudian beliau himpun dalam sebuah buku bernama Buku Gajah. Setelah Sultan Said Hasyim mangkat pada tahun 1930, Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri bersama keluarganya pindah dari Pelalawan ke Kuala Panduk. Di kampung itu beliau kemudian diangkat sebagai penghulu, sekaligus sebagai guru agama dan guru sekolah desa. Meski menjadi orang terpandang di Kuala Panduk, untuk menyangga kehidupan ekonomi keluarga, Tengku Said Umar Muhammad Al-Jufri tetap menjalankan kegiatan sehari-hari sebagaimana orang-orang lainnya di kampung itu. Beliau berladang padi, menangkap ikan di sungai, suak, dan danau. Pada masa-masa itulah Tengku Nasaruddin Said Effendy lahir.

Tengku Nasaruddin Said Effendy selalu mengikuti kegiatan sehari-hari ayahandanya. Pengalaman masa kecil dari penglibatan dirinya dalam kegiatan sehari-hari sang ayah lekat dalam ingatannya, menjadi asas-tumpu perkembangan minat beliau setelah dewasa terhadap adat dan budaya Melayu beserta kearifan yang dikandungnya. Dengan tunak mengikuti ayahandanya berladang, ia memahami istiadat berladang dan nilai-nilai yang terselubung di balik selok-belok keseluruhan praktik berladang itu. Demikian pula halnya dengan menangkap ikan di sungai, suak, dan danau. Sementara itu, kedudukan ayahandanya sebagai penghulu memberi peluang bagi Tengku Nasaruddin Said Effendy kecil untuk menyimak pembicaraan-pembicaraan halus para pucuk adat, cerdik-pandai, dan pemuka masyarakat setempat.

Di dalam lingkungan masyarakat tradisional Kuala Panduk semasa, ia juga berkesempatan mengalami acara-acara sosial yang sarat dengan kekhasan bahasa dan seni, seperti pantun, syair, gurindam, seloka, dan sebagainya. Ibunda dan kedua nendanya (Tengku Syarifah Fatimah dan Tengku Syarifah Zaharah) pandai bersyair dan sering mendendangkannya di kala senggang atau menjelang tidur. Sedangkan datuknya, Said Muhammad Al-Jufri (dengan nama panggilan Tengku Tuan atau Tengku Haji) adalah seorang ulama terpandang yang berkhidmat di lingkungan istana dan masyarakat Kerajaan Pelalawan pada umumnya. Suasana kehidupan Islami dalam balutan adat yang melahirkan dan mengasuh Tengku Nasaruddin Said Effendy itu kelak terpancar baik dari gaya hidup sehari-hari beliau, dari prinsip dan cara beliau memandang serta menanggapi perkembangan gejala dan kenyataan sosial, maupun dari kebanyakan karya yang beliau wariskan.

 

Menjadi Tenas Effendy

Tahun 1950, Tengku Nasaruddin Said Effendy menamatkan pendidikan Sekolah Agama Hasyimiah (enam tahun) sekaligus Sekolah Rakyat (enam tahun) di Pelalawan. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru B (SGB) tiga tahun di Bengkalis, lalu ke jenjang pendidikan Sekolah Guru A (SGA) tiga tahun di Padang (tamat 1957).

Sejak masih di SGB Bengkalis, Tengku Nasaruddin Said Effendy sudah memupuk minatnya terhadap sastra dan seni. Ia menulis sejumlah puisi. Minat itu kemudian berkembang ketika ia mengikuti pendidikan di SGA Padang. Ia makin banyak menulis karya sastra dan membacakannya di depan khalayak, serta aktif mengikuti acara-acara budaya yang disiarkan oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Padang. Ia bergabung ke dalam organisasi Seniman Muda Indonesia (SEMI), bahkan sempat dipercaya menjadi salah seorang Ketua Cabang Padang di organisasi yang berpusat di Bukittinggi (waktu itu, ibukota Provinsi Sumatera Tengah). Selain sastra dan seni pertunjukan, ia juga menggeluti seni lukis. Kemudian ia ikut memprakarsai berdirinya Himpunan Seniman Muda Padang (antara lain bersama Salius; salah seorang pendiri Harian Singgalang). Tengku Nasaruddin Said Effendy juga dipercaya sebagai sekretaris Lembaga Karya Sumatera Barat yang diketuai Kaharoeddin Datoek Rangkayobasa (yang kemudian menjadi Gubernur Sumatera Barat setelah pemekaran Sumatera Tengah menjadi tiga provinsi).

Lihat Juga

Raja Ali Haji

Raja Ali Haji

  …karena tiap-tiap pekerjaan tiada dimulai dengan nama Allah itu maka iaitu qata’al barokah yakni ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!