Beranda / Orang Patut / Tuanku Tambusai: De Padriesche Tijger van Rokan (Harimau Paderi dari Rokan)

Tuanku Tambusai: De Padriesche Tijger van Rokan (Harimau Paderi dari Rokan)

Tuanku Tambusai
Potret Tuanku Tambusai dilukis oleh sekretaris pribadi beliau, Abdul Qohar (Umar Ahmad Tambusai, 1981)

Nama kecilnya, Muhammad Saleh. Lahir di Dalu-dalu Kerajaan Tambusai pada 5 November 1784/ 21 Dzulhijjah 1198 H, dan wafat di Kampung Rasah Negeri Sembilan Malaya pada 12 November 1882/ 1 Muharram 1300. Ibunya  bernama Munah, seorang perempuan biasa dari Suku Kandang Kopuh Tambusai; sedangkan ayahnya qadhi Kerajaan Tambusai bernama Imam Maulana Kali, yang berasal dari Kerajaan Rambah. Kerajaan Tambusai dan Kerajaan Rambah adalah dua dari lima kerajaan yang disebut Kerajaan Lima Luhak Rokan, tiga lainnya: Kerajaan Kepenuhan, Kerajaan Kunto Darussalam, dan Kerajaan Rokan Empat Koto. Sebagian besar wilayah lima kerajaan tersebut kini merupakan Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau.

Diasuh di lingkungan keluarga seorang alim, Muhammad Saleh tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berbudi. Setelah akil-baligh, ia diantarkan ayahnya untuk mendalami ilmu pengetahuan agama di Kubung 12 Rao, kemudian di Bonjol. Sewaktu masih di Rao, dalam kesempatan pulang ke Dalu-dalu Tambusai, ia giat berdakwah mengajarkan hukum-hukum Islam kepada orang-orang di kampung halamannya itu. Maka, ia kemudian lebih sering dipanggil dengan nama Pokih (Faqih; ahli Fiqh) Saleh.

Isi dakwah yang dikemukakan Pakih Saleh tidak selalu berterima oleh semua orang. Salah seorang yang tidak berkenan itu ialah wazir Kerajaan Tambusai, bergelar Sutan Mahmud. Maka antara keduanya sering terjadi pertentangan. Sebagai wazir, Sutan Mahmud dengan berbagai upaya berhasil mempengaruhi Raja dan Kerapatan Adat Tambusai, sehingga ruang gerak Pakih Saleh menjadi amat terbatas di lingkungan istana dan adat. Alih-alih menghentikan dakwahnya, pembatasan itu malah mendorong Pakih Saleh untuk mendirikan surau tersendiri yang terpisah dengan Negeri Lama, pusat pemerintahan Kerajaan Tambusai. Surau baru itu dibangun di Kampung Dalu-dalu, di hilir Negeri Lama.

Meskipun demikian, Sutan Mahmud tetap menentang Pakih Saleh. Menurutnya, ajaran yang dikembangkan Pakih Saleh, yang berisi tuntunan dan aturan tentang kehidupan yang diridhoi Allah, merupakan wewenang kerajaan. Tambahan pula, menurut sang Wazir, isi dakwah Pakih Saleh tersebut mirip dengan ajaran kaum Paderi di Minangkabau, yang telah menimbulkan ketegangan dengan kaum adat. Manakala intimidasi dirasakan sampai ke puncak, antara lain melalui perbuatan Sutan Mahmud yang mengotori surau Pakih Saleh dengan anjing, maka dengan berat hati Pakih Saleh menyingkir ke tempatnya dulu belajar, yaitu Rao.

Pada masa Pakih Saleh meninggalkan Dalu-dalu, di Minangkabau terjadi pergolakan yang cukup hebat. Haji Sumanik, Haji Miskin, dan Haji Piobang kembali ke Minangkabau dari Mekah, dan melahirkan apa yang disebut Gerakan Paderi. Gerakan bermotif keagamaan yang berlangsung sekitar tahun 1803-1820 ini menggelorakan pergolakan dengan kaum adat, yang menyebabkan Belanda ikut campur tangan dan menduduki Minangkabau.

Meskipun Pakih Saleh menuntut ilmu agama pada ulama-ulama Paderi, beliau tidak ikut melibatkan diri dalam pergolakan antara kaum Paderi dan kaum adat Minangkabau tersebut. Untuk menghindari pertikaian itu, Pakih Saleh menyingkir ke daerah Padang Lawas, Tapanuli Selatan. Namun, setelah yang dihadapi kaum Paderi bukan lagi kaum adat dan raja-raja, melainkan juga Belanda, maka mulailah Pakih Saleh menggunakan kekuatan untuk melawan Belanda. Sejak itulah namanya mulai dikenal sebagai ‘Tuanku Tambusai’.

Sewaktu kaum Paderi sedang meluaskan kekuasaannya, Tuanku Tambusai atas izin Tuanku Imam Bonjol dan Tuanku Nan Renceh menunaikan ibadah haji ke Mekah. Keberangkatan beliau ke Mekah ini terjadi sebelum Belanda ikut campur menentang kaum Paderi, yaitu di saat-saat pertentangan antara kaum Paderi dan kaum adat berkecamuk. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak termasuk tokoh yang terlibat dalam kekerasan bersenjata sewaktu Gerakan Paderi berkembang di Minangkabau.

Setelah kembali dari Mekah, Tuanku Tambusai menetap di Padang Lawas. Pada waktu itu Gerakan Paderi sudah berubah menjadi Perang Paderi, yang dipicu oleh permintaan bantuan kaum adat (yang terdesak oleh kaum Paderi) kepada Belanda. Pada 10 Februari 1821, perjanjian antara Belanda dengan wakil-wakil kaum adat ditandatangani, yang pada pokoknya menyatakan bahwa para Penghulu Adat menyerahkan Minangkabau kepada Belanda dengan imbalan Belanda akan memadamkan gerakan Kaum Paderi. Berdasarkan perjanjian ini, Belanda menyerang Sulit Air pada 28 April 1821. Dengan penyerangan Belanda itu, berakhirlah fase gerakan kaum Paderi melawan kaum adat, dan babak baru perlawanan terhadap Belanda dimulai, yang lazim disebut Perang Paderi.

Lihat Juga

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) lahir di Rengat, Riau, 24 Juni 1941 dari pasangan Mohammad Bachri ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!