Beranda / Matabudaya / Tepuk Tepung Tawar

Tepuk Tepung Tawar

Melayu Riau itu terbentuk dari keanekaragaman suku, puak, dan kaum yang sekarang berhimpun di walayah geografis yang bernama Provinsi Riau. Ada dua kelompok besar masyarakat adat di Riau ini. Yang pertama adalah kelompok masyarakat adat yang adatnya berhulu kepada Datuk Perpatih Nan Sebatang atau yang kita kenal sebagai adat matriarkhat atau matrilineal, garis keturunan ibu. Dan, satu pihak lagi yang berhulu kepada Datuk Temenggung atau adat Ketemenggungan, atau patriarkhat yang garis keturunan bersumber dari ayah. Di tengah-tengahnya yaitu adat yang parental, menerapkan kedua-duanya sekaligus.

Tepuk Tepung Tawar sekarang hadir di dalam kelompok-kelompok tersebut, menjadi kesepakatan bersama. Di dalam adat disebut adat yang teradatkan, yang tidak bersumber dari mana-mana tapi kemudian menjadi kebiasaan hidup yang dipraktikkan oleh masyarakat. Jadi, Tepuk Tepung Tawar hari ini, baik di kelompok masyarakat adat yang patriarkhat maupun matriarkhat telah menjadi adat yang teradatkan dan menjadi penanda utama untuk yang kita sebut dengan prosesi Melayu di Riau.

Meski Tepuk Tepung Tawar sudah menjadi adat yang teradatkan, faktanya dalam pelaksanaannya tidaklah selalu sama baik praktik penyelenggaraannya maupun alat-alat yang digunakan. Namun, walaupun cara dan praktik di beberapa tempat berbeda-beda, satu hal yang pasti bahwa Tepuk Tepung Tawar bertujuan untuk mendoakan. Tepuk Tepung Tawar adalah peristiwa doa sosial dalam satu kelompok masyarakat adat kepada orang yang ditepuk tepung tawari agar niatnya terkabul.

Tepuk Tepung Tawar merupakan salah satu tradisi dalam masyarakat Melayu untuk mengiringi upacara-upacara perkawinan, khitanan, upah-upah, syukuran karena mendapat rezeki, sarana penyembuhan, dan sebagainya. Dengan kata lain tepuk tepung tawar dapat dilaksanakan, hampir, pada semua upacara yang ada pada masyarakat Melayu yang bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur dan memberikan doa selamat.

Tradisi Tepuk Tepung Tawar berkaitan erat dengan siklus hidup (life cycle) yang dilalui seseorang atau sekelompok masyarakat dari lahir hingga meninggal. Fase-fase tersebut tidak hanya ditandai dengan perubahan biologis semata, melainkan juga diikuti dengan perubahan kedudukan sosial di dalam masyarakat. Untuk menghadapi perubahan menuju kondisi-kondisi yang baru itu, seseorang memerlukan satu tahapan inisiasi atau peralihan untuk menumbuhkan semangat yang baru. Dengan demikian, tradisi Tepuk Tepung Tawar dapat dilihat sebagai upacara yang mengiringi peralihan tersebut.

Tradisi Tepuk Tepung Tawar memiliki bertujuan untuk memberikan penghargaan pada seseorang atau sekelompok orang yang mengalami atau mendapatkan sesuatu. Di kalangan orang Melayu yang memiliki rasa kekerabatan dan kekeluargaan yang kuat, maka jika seseorang berhasil mendapatkan sesuatu, wajib memberikan ucapan selamat dengan melaksanakan tradisi Tepuk Tepung Tawar. Oleh karena itu, tradisi ini dilaksanakan sempena kenaikan pangkat, upacara nikah-kawin, menamatkan pendikan, melanjutkan pendidikan, menunaikan ibadah haji, atau merantau ke tempat jauh.

Makna Tepuk Tepung Tawar adalah memberikan doa restu agar jauh dari marabahaya, jauh dari yang buruk. Didekatkan yang baik. Supaya berkah berkepanjangan. Supaya restu bersenambungan. Supaya yang diusahakannya itu berhasil. Sehingga orang yang bersangkutan dapat menapaki atau memasuki babak baru dalam kehidupan dengan hati lapang, rasa yang puas, dan semangat yang tinggi karena dilepaskan dengan doa. Selain itu juga agar perjuangannya memperoleh hasil yang baik karena dilepaskan dengan restu. Sebagaimana tergambar dalam ungkapan adat:

tepung tawar memberikan berkah
supaya jalan yang ditempuh mendapatkan tuah
sepanjang jalan menjulang marwah
dunia akhirat diridhai Allah

Makna-makna doa dan restu terkandung dalam bahan-bahan yang dipakai sebagai perlengkapan dalam tradisi Tepuk Tepung Tawar.

Perlengkapan Tepuk Tepung Tawar
Perlengkapan Tepuk Tepung Tawar terdiri dari daun penepuk atau perenjis, bahan penabur, dan bahan renjis. Bahan-bahan tersebut di antaranya yaitu:

1) Bahan Penepuk/ Perenjis
Daun Setawar
Daun Sedingin
Daun Ati-ati
Daun Gandarusa
Daun Juang-juang

Daun penepuk Tepuk Tepung Tawar berjumlah empat jenis yang merujuk pada konsep empat arah mata angin pada masyarakat Melayu. Empat juga mengarah pada konsep oposisi biner (berlawanan tapi saling menguatkan), yaitu atas, bawah, depan belakang. Serta menunjukkan empat malaikat utama dalam ajaran Islam, yaitu Jibril, Mikail, Isrofil, dan Izroil.

Lihat Juga

Marsden dan Pantun Melayu (tahun 1812)

Pengantar William Marsden (1754-1836), seorang linguis dan sejarawan Inggris, adalah ilmuwan pioneer untuk kajian Nusantara. ...

Satu komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!