Beranda / Telaah / Catatan Al azhar: Penemuan Kembali Kepulauan Sastra Melayu
al azhar

Catatan Al azhar: Penemuan Kembali Kepulauan Sastra Melayu

Lagipula, dalam sejarah nasionalisme Indonesia, Melayu sering dibayangkan: merujuk ke kawasan lain (tanah semenanjung), dengan penguasa yang juga lain (Inggris); identik dengan feodalisme yang kolaboratif dengan Hindia-Belanda (feodalisme dan kolonialisme adalah musuh bersama kaum nasionalis; dan bersama etnik-etnik lainnya dianggap mewakili pengertian-pengertian negatif tentang pribumi [stigma inlander]). Dengan imajinasi-imajinasi seperti itu, Melayu dipisahkan dari ruang dan waktu ‘sekarang’ dan ‘yang akan datang’, dikunci ke dalam makna-makna masa lampau: usang, lapuk, kuno, kolot’ (dan yang sejenis dengan itu).

Bagikan

Lihat Juga

Historisitas Sumatera

Historisitas Sumatera oleh: Junaidi Syam, S.Sn., M.A. Makalah ini membicarakan struktur umum sejarah diaspora, eksodus ...