Beranda / Orang Patut / TENGKU NASARUDDIN SAID EFFENDY – (H. TENAS EFFENDY – 1936-2015)

TENGKU NASARUDDIN SAID EFFENDY – (H. TENAS EFFENDY – 1936-2015)

Demikian pula di bidang seni tari. Seniman dan penata tari di lingkaran BPKD didorong menata-ulang khasanah tari tradisional Melayu Riau yang bersifat kolektif-intuitif menjadi persembahan yang memperhitungkan kaidah-kaidah koreografi modern. Meskipun kemudian tari-tari itu diakui sebagai ciptaan pribadi, pada proses awalnya selalu ada perkongsian pengalaman budaya tari antara sesama seniman serta budayawan yang berhimpun di BPKD tersebut, termasuk Tenas Effendy.

Namun, gairah terbesar Tenas Effendy di lingkungan BPKD itu adalah menulis. Melalui lembaga tersebut beliau menerbitkan sejumlah buku sastra, seperti Lancang Kuning, Kubu Terakhir, Banjir Darah di Mempusun, dan lain-lain. Sebagaimana naskah-naskah ‘drama klasik’ yang beliau tulis sebelumnya, cerita-ceritanya pada ‘periode BPKD’ tersebut berangkat dari legenda, mitos, dan sejarah lisan yang mestinya bersumber dari penghayatan terhadap lingkungan kampung Melayu tradisional yang mengasuh dan membesarkan beliau.

Dua tahun setelah BPKD berdiri, pada tanggal 6 Juni 1970, Gubernur Arifin Achmad ‘membidani kelahiran’ Lembaga Adat Daerah Riau (kemudian menjadi Lembaga Adat Melayu Riau). Tenas Effendy yang waktu itu masih tergolong muda (sekitar 34 tahun) juga terlibat dalam proses kelahiran dan kepengurusan lembaga tersebut. Dalam pidato peresmiannya, Gubernur Arifin Achmad mengatakan lembaga adat diperlukan sebagai tempat berhimpun tokoh-tokoh Melayu Riau untuk membangkit batang terendam. ‘Tokoh Melayu’, sebagaimana terlihat dari senarai nama yang dilantik menjadi pengurus periode pertama lembaga ini, mengandung pengertian genealogis sekaligus politis.

Secara genealogis mereka adalah ‘buah perut’, anak-kemenakan, dan cucu-cicit Melayu yang turun-temurun hidup di bumi Riau. Sedangkan secara politis, mereka adalah kalangan terpelajar Melayu Riau yang sedang atau pernah berkhidmat di berbagai bidang (seperti birokrasi/pegawai negeri, guru/dosen, ditambah cendekiawan/budayawan/seniman) yang dianggap –pada peringkat tertentu– memiliki keprihatinan dan kepedulian terhadap ke-Melayu-an di Riau. Keprihatinan dan kepedulian kebudayaan itu menjadi bekal yang niscaya untuk menjalankan tugas ‘membangkit batang terendam’, yakni menggali adat dan budaya Melayu yang tertimbun oleh perubahan-perubahan sosial-ekonomi-politik pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia, untuk dibawa memasuki kehidupan dan menjadi kenyataan kultural masyarakat di Provinsi Riau semasa dan di masa depan. Dengan berdirinya Lembaga Adat, Tenas Effendy memiliki dua sarang tempat mengerami telur pengalaman dan pengetahuannya, yang kemudian menetas menjadi karya-karya budaya.

Setelah aktivitas BPKD berhenti seiring berakhirnya masa tugas Gubernur Riau Arifin Achmad (1978), Tenas Effendy kemudian mencurahkan perhatiannya pada kerja-kerja membangkit batang terendam yang dibebankan kepada Lembaga Adat. HR Subrantas Siswanto, selaku Gubernur Riau pengganti Arifin Achmad, tidak sempat berbuat banyak karena dua tahun setelah dilantik tahun 1978, beliau berpulang ke Rahmatullah (tahun 1980). Pemerintah pusat menetapkan H. Imam Munandar sebagai penggantinya. Beliau tidak menghidupkan kembali BPKD. Tetapi, selama delapan tahun memerintah (1980-1988), Gubernur ini memberi sokongan yang cukup bermakna terhadap ke-Melayu-an di Riau, terutama dalam hal pembangunan budaya material-simbolik. Balai Adat Melayu Riau dibangun dan diresmikan oleh beliau (tahun 1982). Beliau juga mendorong penggunaan selembayung pada perkantoran pemerintah dan gapura-gapura kota.

Di masa-masa itu peran Tenas Effendy amatlah menonjol. Beliau menjadi salah satu informan kunci tentang senibina (arsitektur) tradisional Melayu Riau, baik teknis maupun filosofis. Kepiawaian beliau melukis dan menggambar memudahkannya mengkomunikasikan aspek-aspek teknis senibina tradisional tersebut. Lalu, keakraban beliau dengan kekuatan-kekuatan etis dan estetis seni bahasa Melayu melancarkan akalbudinya untuk menyusun falsafah yang terkandung di balik bentuk dan teknis itu. Tiga buah rumah pribadi beliau di Jalan Pasir Putih Desa Tanah Merah Siak Hulu Kampar, bersama ratusan gambar dan contoh motif ukiran serta ragam hias yang tersimpan di salah satu rumah tersebut, menjadi monumen kesaksian atas keunggulan-keunggulan beliau di bidang senibina Melayu ini.

 

Mengumpul ‘remah-remah’

Sebagaimana dapat dicerna dari warisan yang ditinggalkannya, pengkaryaan Tenas Effendy pasca ‘periode BPKD’ bergerak dari keprihatinan terhadap kesinambungan kebudayaan Melayu. Pada tahun-tahun awal berdirinya Provinsi Riau, yang hampir bersamaan dengan masa Tenas Effendy mulai menceburkan diri sepenuhnya ke dalam kegiatan seni-budaya, peranan orang dan tempat yang dulunya menjadi rujukan bagi dinamika budaya Melayu di Riau sudah makin melemah. Orang-orang patut sebagai pusat ingatan budaya di kampung-kampung sudah berkurang jumlahnya, sebagian karena hijrah ke kota, sebagian lagi karena menua tanpa pelapis. Acara-acara komunal sebagai wadah pewarisan terbuka pengetahuan dan pengalaman budaya juga mulai jarang dilakukan. Pusat-pusat kerajaan dan aktivitas adat di masa lampau pun sudah merosot kewibawaannya.

Lihat Juga

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) lahir di Rengat, Riau, 24 Juni 1941 dari pasangan Mohammad Bachri ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!