Beranda / Orang Patut / TENGKU NASARUDDIN SAID EFFENDY – (H. TENAS EFFENDY – 1936-2015)

TENGKU NASARUDDIN SAID EFFENDY – (H. TENAS EFFENDY – 1936-2015)

Pada tahun-tahun akhir 1950-an itu, di lingkungan seniman dan pemuda terpelajar ada kebiasaan menyamarkan nama. Bila ia seorang penulis, nama samaran itu disebut ‘nama pena’. Tengku Nasaruddin Said Effendy memilih nama samaran dengan memendekkan empat kata nama pemberian orangtuanya menjadi akronim yang terdiri dua kata: Tenas Effendy. Menurut beliau, kedua orang tuanya tidak keberatan. Maka sejak itu nama Tenas Effendy beliau gunakan baik untuk identitas pencipta pada karya-karyanya, maupun identitasnya sebagai warga negara.

 

Memilih sastra dan seni

Tahun 1958 Tenas Effendy pindah ke Pekanbaru Riau, dan terus melakukan aktivitas sastra dan seni. Di bidang senirupa, beliau pernah mengadakan pameran lukisan di Rumbai (bersama Muslim Saleh). Pada tahun 1960, sejalan dengan pendidikannya, Tenas sempat mengajar di salah satu sekolah di Siak. Namun kesenian lebih kuat menggodanya, sehingga ia kembali ke Pekanbaru. Melalui lembaga Pondok Senirupa Riau yang dibentuknya bersama OK Nizami Jamil, mereka menggiatkan pameran dan festival.

Mulai akhir tahun 1950-an itu Tenas Effendy banyak menulis naskah-naskah drama berlatar mitos, legenda, dan sejarah Melayu Riau, baik untuk dipentaskan maupun untuk disiarkan melalui Radio Republik Indonesia (RRI) Pekanbaru. Oleh lingkungan seniman pada masa itu, lakon dan pementasannya disebut ‘drama klasik’. Sebagai penulis naskah, beliau menghasilkan tidak kurang dari 60 judul lakon radio dan 30 judul lakon pentas. Naskah-naskah drama yang beliau tulis dalam genre ‘drama klasik’ itu antara lain berjudul “Hang Jebat”, “Megat Seri Rama”, “Laksamana Hang Tuah”, “Sri Bunian”, “Hulubalang Canang”, “Pak Buntal”, “Lancang Kuning”, dan sebagainya. Lakon “Lancang Kuning”, khususnya, pernah dipentaskan di Bandung sempena Kongres Pemuda Indonesia. Di bawah pimpinan Djohan Sjarifuddin, SH, Tenas Effendy bersama para pemuda Riau lainnya dikirim sebagai utusan untuk mengikuti Kongres Pemuda tersebut.

 

Isteri setia

Selain menulis naskah, Tenas juga sering menjadi pemeran dan sutradara. Suatu ketika, seusai pementasan drama yang disutradarainya di Pekanbaru, Tenas Effendy berkenalan dengan Tengku Zahara binti Tengku Long Mahmud yang hadir menonton pementasan bersama teman-temannya. Perkenalan itu kemudian berlanjut ke pelaminan. Pada tanggal 7 Februari 1961 mereka menikah.

Tengku Zahara adalah pendamping setia bagi Tenas Effendy. Sejak menikah, dia memberi dukungan penuh pada aktivitas sang suami. Dia terbiasa dengan dunia seni yang digeluti suaminya, siapa teman-teman seniman suaminya, bagaimana mereka bergaul, dan apa saja yang mereka lakukan di luar atau ketika mereka berkunjung ke rumahnya. Seperti Tenas Effendy, Tengku Zahara memperlakukan para seniman itu tidak hanya sekedar kerabat kerja sang suami, tapi dalam batas-batas tertentu sudah menjadi bagian dari keluarga. Dia juga sering ikut bertungkus-lumus mempersiapkan acara-acara budaya yang dikelola atau melibatkan sang suami.

Pasangan ini dikaruniai tujuh anak, yang lahir dan tumbuh membesar dalam dinamika lingkungan dan aktivitas seni-budaya semasa. Ketujuh anak mereka itu adalah Tengku Hidayati Effiza (perempuan), Tengku Fitra Effendy (laki-laki), Tengku Taufik Effendy (laki-laki; almarhum), Tengku Ahmad Ilham (laki-laki; almarhum), Tengku Indra Effendy (laki-laki), Tengku Ekarina dan Tengku Nuraini (perempuan, kembar).

 

Membangkit batang terendam

Kegairahan dan ketunakan Tenas Effendy di bidang seni membuat beliau ditunjuk sebagai Sekretaris Badan Pembina Kesenian Daerah (BPKD) Riau, tahun 1968. BPKD dibentuk oleh Pemerintah Daerah Provinsi Riau, dan dipimpin langsung oleh Arifin Achmad (Gubernur Riau 1966-1978). Kegiatan-kegiatan sastra dan seni yang dikelola lembaga ini patut dicatat sebagai tonggak penting penemuan kembali ke-Melayu-an di Riau setelah kemerdekaan dan berprovinsi sendiri. Berbagai warisan ekspresi estetis Melayu Riau diolah dengan pendekatan ‘baru’ oleh seniman ‘lingkaran BPKD’ ini, untuk kemudian dibentangkan terutama di hadapan publik perkotaan semasa.

Di bidang seni musik, misalnya. BPKD Riau mendirikan Orkes Simfoni Riau, yang sempat menjadi salah satu orkestra terbesar di Indonesia. Melalui kumpulan ini, khasanah lagu-lagu Melayu tradisional digubah-ulang dengan aransemen orkestrasi yang ketat. Di antara hasilnya adalah lagu “Lancang Kuning”, yang dalam tampilan tradisionalnya berentak zapin, digubah-ulang menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Lagu “Lancang Kuning” itu adalah salah satu produk ‘pembaruan’ yang ditampilkan Orkes Simfoni Riau dalam peresmian Taman Ismail Marzuki Jakarta dan di Hotel Indonesia pada tahun 1970. Dalam gubahan baru itu, Tenas Effendy menyumbangkan bait kedua syairnya yang berbunyi: Lancang Kuning menentang badaiTali kemudi berpilin tigaSelamat sampan sampai ke pantaiPelaut pulang dengan gembira.

Lihat Juga

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) lahir di Rengat, Riau, 24 Juni 1941 dari pasangan Mohammad Bachri ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!