Beranda / Telaah / Catatan Sita Rohana: Tun Teja, Tun Irang dan Tukang Cerita

Catatan Sita Rohana: Tun Teja, Tun Irang dan Tukang Cerita

Penulis/ pengarang pun menciptakan ingatan baru terhadap episode sejarah. Tafsir yang diberikan oleh keduanya merangsang tafsir pembaca dan resepsi khalayak, yang berasal dari ‘kebaruan’ ketika disandingkan dengan naratif sejarah. Resepsi ini beragam; ada yang menerima, ada yang menolak. Kedua-duanya melibatkan proses berpikir kritis untuk  dapat membangun argumen-argumennya. Dengan itu pula mereka menitipkan pesan-pesan baru dalam konteks kekinian. Baik Tun Teja maupun Tun Irang adalah cerminan dari perlawanan sepanjang peradaban. Situasi dominasi dan subordinasi selalu berulang, sebagaimana sejarah berulang. Tidak sesederhana yang ditampilkan, bahwa ini adalah tentang perlawanan perempuan terhadap laki-laki semata-mata; melainkan juga cerminan dari perlawanan kaum tertindas terhadap kekuasaan serta upaya-upaya yang dilakukan dalam menanggapinya. Tun Teja dan Tun Irang mengambil langkah untuk berafiliasi dengan kekuatan tandingan (Tun Teja pada Hang Jebat, Tun Irang pada Daeng Celak); Hang Tuah memilih kesetiaan “right or wrong my country (king)” hingga akhir; Hang Jebat memilih mati dalam perlawanan yang tak mungkin dimenangkan sejak awal.

Tafsir-tafsir seperti itu mestinya menarik minat generasi muda pada sejarah. Sejarah seringkali menjadi subjek yang kurang diminati karena banyak hal. Salah satunya adalah karena rendahnya minat baca. Hasil survei UNESCO 2011 menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001%; artinya, hanya satu dari 1.000 orang yang mau membaca (m.republika.com, 2016). Meminati sejarah menuntut ketekunan untuk membaca teks. Karya seni menjadi media yang dapat memperkenalkan sejarah dan menarik minat awal. Baik Marhalim Zaini maupun Rida K Liamsi mengawali proses kreatifnya antara lain karena dorongan untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda. Dalam hal ini keduanya dikatakan berhasil jika khalayak pembaca dan penikmatnya menanggapinya sebagai dermaga menuju pemahaman sejarah yang lebih luas dan mendalam, bukan menganggap kedua karya sebagai rujukan sejarah.

Tak pelak lagi, melalui karya-karya itu, mereka mengajak kita berpikir kritis dan merangsang hasrat untuk berkaryapula. Mereka memilih sejarah sebagai inspirasi karena melihat masih luasnya ruang untuk melakukan tafsir, mengeksplorasi berbagai sumber untuk memperkayanya, dan menjadikannya sebagai karya yang menarik khalayak pembaca dan penikmat. Menyajikan tafsir baru menjadi tantangan dalam proses kreatif tersebut. Semakin tafsir itu tidak terduga, akan semakin menarik untuk ditanggapi dan dikritisi oleh khalayak pembaca dan penikmatnya.

Maka, para penulis/ pengarang sebagai ‘tukang cerita’ dan ‘dagang’ (dengan media teater maupun novel) tidak hanya mempersembahkan dirinya sebagai pengantar kisah —mendekatkan sejarah kepada khalayak melalui kisah-kisah yang dikarangnya— tetapi juga pesan dan pengetahuan, ‘kandil akal di pelantar budi’.

 

Pembacaan dan Resepsi

Naratif sejarah dianggap baku, dan karenanya kaku dan mungkin saja beku. Namun ia adalah naratif yang disepakati bersama dan menjadi rujukan penting dalam eksistensi kebudayaan dan peradaban. Memasukkan naratif baru dengan tafsir yang berbeda tidak selalu mudah untuk diterima. Tokoh sejarah —yang dalam perjalanan waktu— berkembang menjadi tokoh mitos, teladan, dan tempat berpaling dan menengadah. Keberadaannya di dalam naratif telah dilucuti kemanusiaannya. Hasrat, kehendak, dan emosi pribadi disingkirkan ke ceruk-ceruk tersembunyi. Akibatnya, banyak karya seni yang berlatar sejarah dikritisi, ditolak, bahkan dihujat karena ‘menggoyang’ imajinasi yang sudah mapan. Novel berlatar sejarah Gone with the Wind misalnya, ketika pertama kali diterbitkan pada tahun 1936 ditentang keras karena kental dengan gambaran perbudakan. Kini, baik novel maupun film yang terlahir darinya menjadi novel dan film legendaris sepanjang masa. Tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer juga sempat menjadi novel terlarang di era Orde Baru.

Pembacaan dan resepsi karya seni yang berlatar sejarah bukanlah seperti membaca koran yang menyajikan teks sebagai informasi belaka. Tantangan terbesar penulis/ pengarang karya seni (termasuk sastra) ketika meluncurkan karya-karyanya di tengah khalayak adalah tingkat literasi. ‘Membaca’ karya seni melibatkan intelektualitas, kemampuan intertekstualitas —yang dipengaruhi oleh kekayaan rujukan dan bacaan— serta keterbukaan dalam menanggapi tafsir tanpa prasangka, kerelaan untuk berayun di antara dua tiang, etis dan estetis, akal dan rasa. Mengutip Tun Teja dalam libretto Marhalim Zaini: Bebaskan rakyat dari beban sejarah – Bebaskan negeri dari rasa bersalah – Bebaskan perempuan dari penjajah – Bebaskan hidup dari segala perintah. Bebaskan tafsir dari belenggu kisah!

Lihat Juga

Kedaulatan Wilayah Adat Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau Tahun 2018

Materi ini dipaparkan oleh Purnama Irwansyah S.Hut., MM. dari Bappeda Provinsi Riau pada acara “Dialog ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!