Beranda / Telaah / Catatan Sita Rohana: Tun Teja, Tun Irang dan Tukang Cerita

Catatan Sita Rohana: Tun Teja, Tun Irang dan Tukang Cerita

Lukisan Junaidi Syam, 2019 (Foto: JK)

 

(Ditulis dan dikembangkan dari bahan presentasi Zoominar Sembang Alam Melayu #4 yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau, 10 September 2020, dengan tema “Sejarah dalam Karya Seni”, diterbitkan untuk lamriau.id)

 

Pengantar

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) membakukan pengertian ‘sejarah’ sebagai:

1 asal-usul (keturunan) silsilah; 2 kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau; riwayat; tambo: cerita —; 3 pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi dalam masa lampau; ilmu sejarah.

Penekanannya adalah pada “kejadian dan peristiwa”, “benar-benar terjadi”, “di masa lampau”. Siapa yang ‘membawa’-nya ke masa kini? Para sejarawan dan penulis kronik sejarah merangkai kejadian dan peristiwa yang terjadi di masa lampau dengan benang-benang tafsir menjadi naratif.

Saya memaknai sejarah sebagai kumpulan kepingan realitas masa lalu yang dipilih-saring dengan berbagai pertimbangan, dikonfirmasi, diverifikasi (dengan data dan teks rujukan), ditafsir, disepakati bersama, diabadikan (direkam/ ditulis) sebagai sebuah naratif yang bermuatan atau mengandung pesan. Muatan atau pesannya antara lain persoalan ke-asal-an (asal-usul), identitas/ jatidiri suatu kelompok/ bangsa, kepahlawanan, dll. Elemen-elemen ini berfungsi sebagai perekat sense of belonging (rasa kepemilikan), rasa kebersamaan, rasa senasib-sepenanggungan, “kita dari pedih yang sama”.

‘Kepingan realitas’ menjadikan ‘sejarah’ sering diklaim sebagai —atau  dihubungkan dengan— hal-hal yang faktual, naratif atas apa yang benar-benar terjadi. Namun, ‘masa lalu’ memerlukan ‘kendaraan’ —subjek yang membawakan— dan perlakuan khusus untuk sampai ke masa kini. Dalam prosesnya, faktualitas sejarah melibatkan subjektivitas penulis sejarah ketika memilih tujuan, memilah bahan (data), dan memberi tafsir. Pembahasaan dan tekstualisasinya pun penuh pertimbangan; politis maupun kultural. Karenanya, sejarah menjadi sangat dinamis: terikat pada ruang dan waktu; teks yang konteksnya senantiasa berubah, seiring dengan perubahan politik dan temuan-temuan baru yang memungkinkan tafsir berubah atau bertambah. Satu peristiwa dapat menjadi penting di satu masa dan tak penting lagi di masa yang lain. Seorang tokoh dapat menjadi pahlawan di satu masa atau menjadi pengkhianat di masa lain.

‘Keterbatasan’ atau pembatasan-pembatasan dalam penulisan sejarah dan historiografi ini menguatkan kesan ekskusivitasnya; sesuatu yang terpahami dan sangat dapat diterima. Ibarat kitab, maka sejarah adalah pondasi bagi eksistensi satu kaum atau bangsa. ‘Keterbatasan’ ini membuka ruang bagi tafsir-tafsir baru, sebagaimana yang dilakukan para penulis/ pengarang karya seni (termasuk sastra).

 

Naratif dan Narator

Sejarah kami adalah dongeng nenek menjelang tidur

Larik puisi Sejarah Kami (1981) karangan Ediruslan Pe Amanriza selalu menarik untuk dieksplorasi dalam usaha untuk membaca sejarah dan historiografi dari perspektif Barat dan Melayu. Klaim faktualitas teks sejarah sering dipertentangkan dengan fiksionalitas teks sastra (dan seni pada umumnya).

Dalam catatannya yang bertajuk Sejarah atawa Dongeng, Al azhar (2018) mengatakan bahwa baik fakta maupun fiksitakluk pada dinamika pembacaan atau resepsi. Di depan teks, pembaca adalah subyek merdeka yang bebas menentukan tujuannya — menemukan hal-hal produktif bagi dirinya. Bagi Ediruslan Pe Amanriza, ‘sejarah kami’sebagai ‘dongeng menjelang tidur’, dan itulah sisi produktif ‘sejarah kami’ yang disimaknya. Bagi sejarawan, penyamaan itu meruntuhkan klaim faktualitas sejarah ke dalam fiksionalitas dongeng. Sebaliknya, bagi sastrawan (dan seniman) dengan pendekatan pembacaan dan resepsi ini, teks sejarah menemukan kesuburannya: sebagai dermaga inspirasi produksi teks-teks lain.

Berangkat dari larik puisi Ediruslan Pe Amanriza, alih-alih terpaku pada diskusi tentang objek ‘sejarah’ dan ‘dongeng’ seperti yang dikatakan Al azhar, saya lebih tertarik pada subjeknya, tokoh “nenek”, dalam perannya sebagai “pengarang” naratif, atau “tukang cerita”, aktor yang kreatif di balik naratif. “Nenek” menjadi tokoh yang menyimpan dalam ingatannya —baik ingatannya sendiri atau ingatan yang diwariskan oleh orang-orang di masa lalu— kisahan peristiwa yang terjadi “dulu, di sana”, menjadikan dirinya instrumen yang mengolah kisahan tersebut untuk dibawa  dan disampaikan pada khalayaknya “kini, di sini”, sebagaimana tukang cerita menjalankan fungsinya dalam tradisi.

Gagasan mengenai tukang cerita ini terinspirasi oleh novel Mario Vargas Llosa, El Hablador (1987), yangditerjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai The Storyteller (1989), dan ke dalam bahasa Indonesia/ Melayu sebagai Tukang Cerita (2017). Novel ini mengisahkan tentang peran kultural tokoh hablador (tukang cerita) dalamkomunitas Indian Machiguenga di Peru. Hablador adalah tokoh pengembara yang menjalin komunitas nomaden yang tersebar di ceruk lembah belantara Amazon, mengisahkan dongeng, legenda, dan gosip-gosip sehingga seluruh komunitas ini berbagi kisah —dan bahkan sejarah— yang sama. Ia menjembatani keberjarakan ruang dan waktu, yang di sana dan yang di sini, yang dulu dan yang kini. Gambaran ini membayangkan sosok Tukang Koba di lingkungan komunitas di tepi dan pedalaman Sungai Rokan Riau yang membawakan kisah-kisah dari kampung ke kampung di masa lalu dan selalu ditunggu-tunggu khalayaknya.

Lihat Juga

Kedaulatan Wilayah Adat Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Riau Tahun 2018

Materi ini dipaparkan oleh Purnama Irwansyah S.Hut., MM. dari Bappeda Provinsi Riau pada acara “Dialog ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!