Beranda / Kabar / Seba Baduy, Amanah Leluhur Menjaga Adat dan Merawat Alam
Wakil Bupati Lebak (tengah berkacamata) beserta pejabat lainnya di acara Seba Baduy 2026. Dokumentasi AMAN.

Seba Baduy, Amanah Leluhur Menjaga Adat dan Merawat Alam

lamriau.id-Pekanbaru, Ribuan warga Masyarakat Adat Kanekes di Kabupaten Lebak kembali menggelar ritual tahunan Seba Baduy yang berlangsung pada 23–26 April 2026.

Tradisi sakral ini bukan sekadar ungkapan syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi ruang penyampaian amanat leluhur sekaligus pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam di tengah arus modernisasi.

Bupati Lebak, M. Hasbi Asyidiki Jayabaya, menegaskan bahwa Seba Baduy harus dimaknai lebih dalam sebagai refleksi bersama. Menurutnya, kemajuan tidak diukur dari seberapa jauh masyarakat meninggalkan tradisi, melainkan dari seberapa kuat menjaga warisan leluhur agar tetap selaras dengan alam.

Ia juga menekankan bahwa masyarakat Baduy bukan objek wisata, melainkan subjek utama penjaga keseimbangan lingkungan di Banten.

Dalam kesempatan tersebut, Hasbi menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk menindaklanjuti aspirasi masyarakat adat terkait kerusakan lingkungan. Ia mengungkapkan adanya kerusakan pada puluhan bukit dan gunung, yang akan ditangani melalui inventarisasi serta program restorasi di sejumlah titik prioritas.

Pemerintah Kabupaten Lebak bersama Pemerintah Provinsi Banten, lanjutnya, juga memperkuat perlindungan terhadap wilayah adat melalui regulasi. Salah satunya dengan penyesuaian tata kelola tanah ulayat guna memastikan kedaulatan lahan komunal tetap terjaga dari klaim pihak luar.

Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong akses layanan dasar seperti kesehatan dan administrasi kependudukan tanpa mengabaikan nilai-nilai adat yang dijunjung tinggi masyarakat Baduy.

Sementara itu, Kepala Desa Kanekes, Mohamad Saefudin atau yang akrab disapa Jaro Oom, menyampaikan sejumlah kekhawatiran yang kini dihadapi komunitasnya.

Ia menyoroti perlunya pengawasan ketat terhadap wisatawan yang kerap membawa barang terlarang ke kawasan adat, sehingga berpotensi merusak lingkungan dan mengganggu kesakralan wilayah.

Selain itu, masyarakat Baduy juga menekankan pentingnya perlindungan sumber mata air dari pencemaran serta menolak segala bentuk intervensi terhadap sistem pertanian tradisional, termasuk penggunaan bibit rekayasa genetika. Mereka tetap berpegang pada penggunaan bibit lokal seperti padi huma sebagai simbol kedaulatan pangan.

Bagi masyarakat Baduy, Seba bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan amanah leluhur yang sarat makna.

Jaro Oom menegaskan bahwa ritual ini harus dijalankan dengan ketulusan dan tanggung jawab, sejalan dengan prinsip hidup mereka: menjaga amanat dan merawat alam. Pesan yang disampaikan pun sederhana namun kuat, hutan harus tetap lestari, alam tidak boleh dirusak, dan hukum adat wajib dihormati sebagai penuntun kehidupan.

Sumber: Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang terbit pada 27 April 2026.

Bagikan

Lihat Juga

Laskar Melayu Audiensi ke LAMR, Minta Dukungan Expo 2026

Lamriau.id-Pekanbaru, Sejumlah organisasi kemelayuan, Barisan Muda Laskar Melayu Bijungsa Nusantara dan Laskar Rumpun Masyarkat Riau ...