Beranda / Orang Patut / Riwayat Hidup Singkat Almarhum Tuan Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad

Riwayat Hidup Singkat Almarhum Tuan Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad

Sebaliknya, dalam keadaan semacam itulah makin diperlukan  seseorang yang berjiwa baja, memiliki visi ke depan dengan kesadaran pada kemampuan diri sendiri. Kesetiaan pada bangsa, menjadi pertimbangan terdepan, apalagi pada saat serupa, sedang terjadi peralihan pemerintahan antara Orde Lama dengan Orde Baru. Di dalam diri almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, terdapat itu semua—seorang militer, tetapi dibesarkan dalam dinamika peradaban—pergulatan antara tradisi dan kekinian, birokrat dan wiraswasta, bahkan pergulatan antara dunia Timur dengan Barat.

Mengikuti orangtua yang akhirnya menetap di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, sebetulnya kehidupan almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad sejak kecil, lebih banyak dibaluri suasana wiraswasta khususnya perdagangan. Ayahnya,  almarhum Tuan Ahmad Melan, kemudian dikenal sebagai pembaharu tanaman sagu yang berhubungan langsung dengan luar negeri. Sebelah emaknya yakni  almarhum Puan Cik, juga mengembangkan dunia perdagangan. Beberapa tanker dikuasi oleh keluarga ini, tidak saja melayari sungai, dan selat, tetapi juga laut antarbenua, berhubungan dengan banyak orang, bertukar informasi dalam semua tingkatan usia maupun status sosial.

Uniknya, almarhum Tuan Ahmad Melan, mengirimkan almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, untuk belajar di Taman Siswa Yogyakarta tahun 1937, langsung di bawah asuhan Ki Hajar Dewantara—bapak pendidikan nasional. Pendidikan berbasis kebudayaan itu menyebabkan almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, sejak belasan tahun menguasai bahasa Jawa halus, Belanda, dan Inggris. Bahasa Melayu usah cakap yang senantiasa melekat dalam pergaulannya sehari-hari sampai ia wafat. Sebutan “awak” untuk kata ganti orang pertama langsung diperuntukkannya kepada semua orang sebaya maupun usia di bawahnya, tak peduli bangsa atau suku apa pun orang lawannya berbicara, senantiasa dikenang orang.

Tak sampai di situ. Ketertarikan keluarga ini untuk memperoleh pendidikan dengan wawasan kebudayaan, diperlihatkan dengan mengirimkan adik almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, yakni Maimunah ke Yogyakarta. Sesuatu yang pada waktu itu amat ganjil, mengirim anak gadis jauh dari kampung halaman, meskipun di bawah pengawasan abangnya sendiri. Adik almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad ini bersama seorang adik lain, Hayati, kini tinggal di Pekanbaru dan seorang lagi yakni Bahtiar Ahmad, menetap di Selatpanjang, masih  menghirup udara dunia bersama kita. Tinggal mereka bertiga dari 13 adik-beradik yang masih hidup, sedangkan selebihnya sudah meninggal, malah empat orang di antaranya berpulang ketika masih berusia  kanak-kanak.

Semakin lengkaplah warna kehidupan yang menaungi almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, ketika dalam usia 26 tahun ia memperunsitng Martha Lena di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Perempuan ini anak residen, Abdul Gani yang juga asal Siak sebagaimana keluarga besar Almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, menempuh pendidikan Belanda,  di Hogere Burgerschool (HBS)—sebuah lembaga pendidikan untuk orang-orang Eropa dan elite pribumi dengan pengantar bahasa Belanda. Waktu itu, almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad berpangkat kapten, menjabat sebagai koordinator A/C Sumatera Terr/BA/SEL.

Mereka menikah tanggal 3 Maret 1950 di Pangkalpinang, Bangka Belitung.  Pernikahan ini menghasilkan tiga orang anak yang diberi nama  Joycelyn Darmajanti, almarhumah Dr.dr. Rossalyn Sandra Andrisa SpM.MEpid, dan Saihatu Saniah SS. Almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, memilih Jakarta sebagai tempat tinggal setelah tidak lagi menjadi gubernur dalam usia relatif muda yakni 54 tahun terutama agar dapat langsung memantau anak-anaknya tersebut yang waktu itu sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi di Jakarta. Sebelumnya, sebagai seorang tentara dan gubernur di daerah yang baru hendak bangkit, ia tentu tak punya kesempatan banyak untuk keluarga.

 

KARIER militer almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad berkecambah seiringan dengan berbagai pergolakan dunia yang menyeret perang terbuka di Asia Pasifik pertengahan abad ke-20. Kebijakan Jepang yang menaklukkan Hindia Belanda, dengan menggembor-gemborkan kekuatan tempatan, dimanfaatkan banyak orang untuk mempersiapkan diri ke arena perang modern termasuk oleh remaja yang baru saja menempuh pendidikan di Taman Siswa Yogyakarta ini. Hanya beberapa bulan pulang ke Selatpanjang, almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad mengikuti latihan Kukemrensyo, kemudian dilanjutkan Djokyu Kanri Gakko, tahun 1943. Di antara karier militer awal yang disandangnya adalah Kepala Keamanan Rakyat Riau dengan pangkat Mayor, 10 November 1945 – 8 Maret 1946.

Lihat Juga

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) lahir di Rengat, Riau, 24 Juni 1941 dari pasangan Mohammad Bachri ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!