Beranda / Orang Patut / Riwayat Hidup Singkat Almarhum Tuan Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad

Riwayat Hidup Singkat Almarhum Tuan Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad

Terlibat aktif membela tanah air dalam agresi I dan II, almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, senantiasa menjadi komandan tempur. Ia sempat menjabat komandan sejumlah batalyon di Pekanbaru dan Rengat sampai tahun 1950. Daerah pengabdiannya makin meluas setelah menjabat sebagai Koordinator A/C Sumatera, kemudian Hakim Perwira merangkap Komandan Batalyon E Resimen Infantri VI. Setelah mengikuti pendidikan SSKAD Angkatan V di Bandung tahun 1955, ia menjadi Kepala Staf KMKB di Palembang 1957-1958, menyusul Ps Kepala Staf Resimen VI Tanjungkarang dan Komandan Rinif Kodam IV/ Sriwijaya tahun 1963.

Menurut Tabrani Rab, dalam catatan 40 hari setelah kepulangan almarhum, perjuangannya yang terberat adalah memutuskan hubungan antara serangan dari timur dan barat Belanda pada Agresi II. Sebagai komandan gerilya ketika itu, ia ditugaskan memutuskan hubungan Pekanbaru- Bangkinang dengan membumihanguskan Bangkinang , memutuskan rakit penyeberangan di Danau Bingkuang dan Teratakbuluh serta membumihanguskan basis militer di Pekanbaru. “Bagaimana kenangan Pak Arifin ketika melaksanakan tugas berat itu, tanya saya kepada beliau ketika kami pada suatu kesempatan menyeberangi jembatan Danau Bingkuang bersama. Oh biarlah bagaimana kata sejarah,” jawab almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, kepada Tabrani waktu itu.

Syahdan, usai mengikuti Seskoad Taraf II Angkatan III di Bandung 1964, almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, menjadi Asisten III Pangkoanda Sumatera di Medan 1964-1966. Saat memegang jabatan inilah ia mulai dilirik untuk memegang jabatan sipil di pemerintahan yang memang amat kurang. Begitulah pada gilirannya ia ditarik sebagai perwira menengah yang diperbantukan di Kementerian Dalam Negeri. Sebulan di sini, tahun 1966, ia menjadi pejabat sementara Gubernur Riau. Ia diangkat sebagai gubernur definitif 4 Maret 1967, mengakhiri jabatan tahun 1978. Ditambah dengan masa sebagai pejabat sementara gubernur, tak pelak kalau jabatan tertinggi di daerah tersebut berada di pundaknya sekitar 12 tahun.

Tampaknya, karier militer amat dicintai almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad. Tak sekali dua dia berkata bahwa sebenarnya bakat dia ada di militer, bukan gubernur atau jabatan sipil. Kedisiplinan dan kerapiannya banyak diadopsinya dari peranan sebagai seorang prajurit yang siap sedia, tetapi juga tetap berpenampilan rapi. Gurau candanya tidak banyak, tetapi ia selalu hangat. Adiknya yang bungsu, Hayati (74) yang sempat ikut bersamanya ketika di Palembang, merasa tak sekalipun almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, memarahi anggota keluarga. Tambah keponakannya Syofian Zainal, “Almarhum, orangnya saklek.”

 

BERBAGAI data dapat diajukan bagaimana pencapaian almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad selama menjabat sebagai Gubernur Riau, sebab ia meninggalkan buku catatan selama menjabat  yang bertajuk “Bahana Riau”. Tidak sedikit hasil kerjanya yang dapat dinikmati kini dengan dampak luar biasa seperti jembatan Leightoon, jembatan Rantau Berangin, bahkan Kantor Gubernur Riau. Belum lagi menyelesaikan berbagai bangunan yang ditinggalkan pendahulunya seperti Masjid Raya Annur dan Stadion Hang Tuah—kini sudah tergusur karena perluasan Masjid Annur.

Memadailah bila diketengahkan beberapa pencapaian pembangunan di bawah pimpinan almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad. Selama Pelita I (1969/1970 – 1973/1974) misalnya, penerimaan pembangunan Riau Rp 6.993.340.000, menjadi Rp 13.602.180.000 pada Pelita II (1974/1975 – 11977/1978) atau meningat sekitar 100 persen.  Ekspor karet tahun 1968 adalah USD 10.044.000, , menjadi USD 40.774.199 tahun 1977 atau meningkat lebih 400 persen. Sebaliknya diakui bahwa berbagai usaha di bidang tanaman pangan, masih menyebabkan Riau kekurangan beras hampir 51.000 ton pada tahun 1977.

Seperti dimaklumi, dunia pendidikan senantiasa berada di wilayah kerja yang rumit. Tetapi almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, dengan segala kemampuannya telah berusaha untuk menghasilkan pendidikan lebih baik. Tak mengherankan, bila pembangunan Sekolah Dasar (SD) yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah, digesa segera. Gedung SD Inpres baru yang dibangun tahun 1973 adalah 80 gedung, meningkat jadi 170 gedung pada tahun 1975, bahkan menjadi 250 gedung pada tahun 1977. Artinya, selama Pelita II atau masa kedua jabatan almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, berhasil dibangun 500 gedung SD yang baru, belum lagi rehabilitasi gedung lama sebanyak 415 gedung. Untuk tenaga pengajar, awal kepemimpinnya telah diselenggarakan program kursus guru di berbagai kabupaten untuk menjawab kekurangan guru yang besar.

Lihat Juga

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) lahir di Rengat, Riau, 24 Juni 1941 dari pasangan Mohammad Bachri ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!