Beranda / Orang Patut / Riwayat Hidup Singkat Almarhum Tuan Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad

Riwayat Hidup Singkat Almarhum Tuan Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad

Bagi Soeman HS, kesan yang paling mendalam dengan almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmadadalah dalam lapangan pendidikan. “Karena saya menjadi ketua dewan penyantun di dua perguruan tinggi utama di Riau yakni di Universitas Riau (UNRI) dan Universitas Islam Riau (UIR)  sementara beliau pada saat yang sama menjabat sebagai ketua presidium di kedua perguruan tinggi tersebut. Perhatian beliau dalam lapangan pendidikan memang luar biasa. Beliau menyadari betul hadist Rasulullah: Bila hendak merebut dunia mestilah dengan ilmu, bila hendak merebut akhirat mestilah dengan ilmu dan bila hendak merebut keduanya pun haruslah dengan ilmu. Berkali-kali beliau menyatakan, Riau hanya tertolong bila mengutamakan pendidikan. Dalam lapangan pendidikan ini pulalah saya merasakan betapa dekatnya saya dengan Arifin Achmad,” tulis tokoh Pujangga Baru Indonesia itu saat mengenang 40 hari wafatnya almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad

Penting pula disebutkan program bantuan pembangunan desa yang terus meningkat. Bila pada Pelita I (1969/1970 – 1973/1974), program ini senilai Rp 75 – Rp 86 milyar setiap tahun, tetapi pada Pelita II (1974/1975 – 1977/1978), telah meningkat minimal Rp 173 milyar lebih. Malahan pada tahun 1976/1977, nilai bantuan pembangunan desa tersebut melambung pada angka Rp232 milyar lebih.  Jadi secara keseluruhan, dalam masa pertama jabatan almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, program bantuan pembangunan desa senilai Rp426.240.000, meningkat tajam pada masa kedua jabatannya yakni Rp762.615.135.

Memang, dengan tantangan geografis yang berat, misalnya memiliki 3.214 pulau, Riau memerlukan dana besar, apalagi sistem pembangunan tidak mengikuti tipografi daerah ini yang terdiri atas daratan rawa, selat, dan lautan. Untuk itu, dalam berbagai kesempatan, ia menyerukan agar daerah ini memperoleh dana khusus dari pertambangan minyak, 1 – 5 persen. Salah seorang saksi adalah Najib Efendi (72), ketika dalam suatu acara di Riau Hotel tahun 70-an. “Saya baru jadi pegawai waktu itu, ditempatkan di Riau Hotel. Beliau mengatakan, kalau saja satu persen dari hasil tambang minyak untuk pembangunan di Riau, tak tanggung-tangung banyaknya yang bisa dibuat di daerah ini,” ujar Najib.

Bagaimana tidak. Dalam memori pelaksanaan tugas yang dibuat almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad sendiri menyebutkan bahwa sektor pertambangan minyak bumi di daerah ini mempunyai peranan sangat besar dalam pembangunan nasioanal. “Secara nasional produksi minyak bumi daerah Riau meiliputi lebih kurang 80 % daripada produksi minyak bumi Indonesia. Oleh karenanya dalam memori ini ingin saya kemukakan sektor pertambangan ini secara khusus,” tulis almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad. Di antaranya dicantumkan bahwa dari PT CPI saja, pada 1967-1977, nilai ekspor minyak bumi Riau adalah USD 15.284.581.971,80. Ini belum termasuk ekspor minyak bumi Riau melalui PT SI yang pada tahun 1970-1977 telah mengekspor minyak bumi Riau 8.846.518.755 liter tanpa melaporkan nilai ekspornya.

Tentu saja, gagasan memperoleh dana khusus dari pertambangan minyak tersebut tidak populer pada pemerintah pusat, tetapi sangat megecewakan almarhum. Konon, sikap itulah yang menyebabkan kemudian, ia seperti dikucilkan, tidak diberi tempat oleh pusat bahkan diterpa isu negatif. Bayangkan, mantan gubernur berusia 54 tahun menghabiskan masa hidupnya tanpa jabatan lain kecuali sebagai seorang mantan gubernur.

 

MANA mungkin pula tidak disebutkan bahwa sejak dari awal menjabat lagi dia kembali merajut keriauan yang compang-camping karena berbagai sebab. Begitu dilantik sebagai pejabat gubernur, dia telah menyelenggarakan Festival Seni Daerah Riau tahun 1966. Tapi setahun setelah dilantik sebagai gubernur definitif dengan tim kerja yang solid, almarhum Brigjen TNI (Purn) H. Arifin Achmad, menggerakkan kegiatan kebudayaan secara konkrit, 1968. Dibentuklah Badan Pembina Kesenian Daerah Riau (BPKD) yang dipimpin oleh Parlaungan HS dengan sekretaris  Tenas Effendy. Hal ini penting dengan suatu kesadaran bahwa apabila pembangunan adalah memuliakan manusia yang salah satu jalannya melalui kebudayaan, maka kesenian mengaktualkan nilai-nilai budaya tersebut di tengah khalayak di sini dan kini.

Banyak kegiatan yang dilakukan BPKD seperti penerbitan buku-buku Melayu dan orkestra bertarap internasional, selain didampingi dengan penyediaan berbagai fasilitas budaya seperti percetakan dan gedung terbaik  di Sumatera. Tak sampai di situ, almarhum Brigjen TNI H. Arifin Achmad, kemudian pada suatu hari tahun 1970, meminta OK Nizami Jamil dan Djohan Syarifudin mengumpulkan pemangku-pemangku adat, yang kemudian mencetuskan berdirinya Lembaga Adat Daerah Riau. Tak tanggung-tanggung, Wakil Gubernur waktu itu, Datuk Wan Abudrrachman, diminta menerajui lembaga tersebut sebagai ketua, dibantu sejumlah pemula seperti  Datuk Harusnyah (almarhum) sebagai wakil ketua dan OK Nizami Jamil sebagai sekretaris.

Lihat Juga

Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) lahir di Rengat, Riau, 24 Juni 1941 dari pasangan Mohammad Bachri ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!