Beranda / Matabudaya / Syair Ikan Terubuk

Syair Ikan Terubuk

Dipandang dari sudut ini, Syair Ikan Terubuk terbaca sebagai sebuah satire yang dalam bentangan perangnya dengan luar dihalakan kepada kedua belah pihak, Raja Alam dan Sultan Ismail, dan sangat erat bertalian dengan sikap tak berpihak atas konflik keluarga diraja itu sebagaimana teks Syair Perang Siak. Di dalam Syair Perang Siak, perspektif tidak memihak ini menyerlahkan warna tragis kepada kejadian-kejadian yang dibentangkan. Konflik itu mempunyai akibat tak terelak­kan, dan gambaran malapetaka yang menimpa kerajaan Siak itu digambarkan sebagai takdir Allah. Di dalam Syair Ikan Terubuk, perspektif tidak berpihak dalam parodi tentang perang Siak ini menghadirkan ungkapan tragik-komedi: pada akhirnya tak seorang jua yang menang, dan ikrar-ikrar serta ekspedisi perang hanyalah lelucon.

Namun menurut Koster, kisahan Sejarah Raja-raja Melayu dan Syair Perang Siak tidak meliput seluruh perkara yang dirangkum oleh Syair Ikan Terubuk. Perbandingan antara Syair Ikan Terubuk dengan kisahan yang dibangun oleh Eliza Netscher (1870: 111 dst.) tetap meninggalkan beberapa unsur yang kabur: Pangeran Terubuk tidak tinggal di Tanjungpadang sebagaimana Raja Alam di Siak; Puteri Puyu-puyu lari melalui Tanjungbalai di utara Siak, sedangkan Sultan Ismail lari melalui Pelalawan di selatan Siak. Tapi kepersisan seperti itu tak terlalu diperlukan, karena dengan jalan bersimpang-siur itulah kepadatan tenunan sebagai salah satu kegeniusan sastra Melayu diperlihatkan oleh Syair Ikan Terubuk.

Dengan pendekatan intertekstual, orang juga dapat mengajukan pertanyaan: mengapa ikan terubuk yang digunakan sebagai wira? Jika kita mau mema­haminya maka jenis lain dari interteks spesifik – juga interteks realitas – mungkin dapat menolong, yaitu teks-teks tentang tradisi setempat (lihat: Semah Terubuk), gejala-gejala biologis terubuk (lihat: Terubuk), dan segi-segi ekonomi serta teknologi penangkapannya (lihat: Penangkapan Terubuk).

Terakhir, kesuburan sastrawi Syair Ikan Terubuk belumlah selesai. Di alaf ketiga ini, syair itu tetap menginspirasi sejumlah pembacanya untuk menciptakan teks-teks baru, seperti Hang Kafrawi (yang menerbitkan salah satu teks Syair Ikan Terubuk),13 Elmustian Rahman, Abdul Jalil, dan Fakhri (yang menerbitkan dua judul buku pembahasan tentang syair itu), sastrawan Riau Marhalim Zaini (yang menciptakan puisi dan drama yang bersumber dari Syair Ikan Terubuk), dan berbagai tulisan lepas serta video tentang ikan tersebut.

(Al azhar, dirangkum dari berbagai sumber, khususnya kajian G.L. Koster, Roaming through Seductive Gardens – 1997/ Mengembara di Taman-taman yang Menggoda – 2011).

 

Catatan:

1 H. K. Meijer. 1984. Syair Ikan Terubuk. Leiden: Doctoraal-scriptie Rijksuniversiteit Leiden [Tesis Master, Universitas Leiden].

2 R. J. Wilkinson, R.J. 1913. “The poetry of the Malays,” Noctes orientales: being a selection of essays read before the Straits Philosophical Society between the years 1899 and 1910, hal. 86-97. Singapura: Kelly and Walsh.

3 R. O. Winstedt. 1977. A history of classical Malay literature. Kuala Lumpur, dst.: Oxford University Press. [Cetak ulang].

4 Antologi. 1980. Antologi Syair Simbolik dalam Sastra Indonesia Lama. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

5 H. C. Klinkert. 1868. “Iets over de pantons of minnezangen der Meleijers” [Tentang Pantun atau Nyanyian-nyanyian Orang Melayu]. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 3: 309-70. Kalimat lengkapnya dalam bahasa Belanda berbunyi: Het geheel schijnt eene persiflage te zijn op een huwelijksaanzoek van een der vorsten van Malaka, dat in de Sedjarah Melajoe wordt vermeld. [Nampaknya seluruh ceritanya menjadi sebuah lakon pendek dan lucu tentang seorang raja Melaka yang ingin menikah, yang disebutkan dalam Sejarah Melayu.]

6 H. Overbeck. 1934. “Malay animal and flowers shaers,” dalam Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society 12 (2): 108-48.

7 Intertekstual secara sederhana adalah pendekatan dalam proses memahami suatu teks melalui hubungannya dengan teks-teks lain. Pendekatan ini berangkat dari prinsip dasar bahwa setiap teks memiliki kaitan dengan teks-teks lain yang sebelumnya sudah ada, dan untuk memahaminya setiap khalayak senantiasa melibatkan atau memberdayakan pengalamannya dengan teks-teks lain yang diketahuinya. Dalam konteks pembacaannya atas Syair Ikan Terubuk, Koster membuat perbedaan antara intertekstualitas generik (generic intertextuality) dan inter­tekstualitas spesifik (specific intertextuality). Intertekstualitas generik memberi makna kepada teks tertentu berdasarkan serangkaian norma yang dipikirkan untuk menginformasikan sekelompok teks. Sedangkan intertekstualitas spesifik mengandung maksud membaca dan menulis menggunakan satu atau lebih teks khusus seba­gai titik-awal memproduksi makna. Walaupun kedua tipe intertekstualitas ini berlaku dalam setiap sistem sastra, namun intertekstualitas generik lebih dominan dalam sebuah tradisi sastra seperti tradisi sastra Melayu, yang kewujudan keragaman formula, pola-pola naratif, dan temanya lebih kuat dibanding penemuan sesuatu yang baru.

Lihat Juga

Pantun Melayu Tahun 1848 (2)

Pengantar: Selain yang sudah dimuat sebelumnya [Lihat: Pantun Melayu Tahun 1848 1], pada halaman 182 ...

Satu komentar

  1. Syair Ikan terubuk sungguh luar biasa, meskipun berbeda-beda versi tetapi tetap saja membawa cerita lama yang bermanfaat bagi generasi kekikian. nilai budaya dan khazanah kekayaan lokal sungguh pekat terasa. semoga tidak hilang ditelan masa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!