Beranda / Matabudaya / Syair Ikan Terubuk

Syair Ikan Terubuk

Di lingkungan pengkaji sastra-naskah Melayu (terutama bangsa Barat), Syair Ikan Terubuk sudah lama mendapat perhatian. Wilkinson (1913) menyebutnya sebagai ’syair teologis’, karena di puncak krisis yang dihadapi salah satu tokohnya yakni Puteri Puyu-puyu, Tuhan menurunkan leluhurnya bersama pohon pulai sebagai medium penyelamatan dari serangan pasukan Terubuk.2 Winstedt (1977) menyebutnya sebagai syair ’erotik dan didaktik’, antara lain karena gerakan kisahannya dipicu oleh birahi dan rindu dendam Terubuk kepada Puyu-puyu.3 Pengkaji dari nusantara yang menyunting dan menerbitkan buku Antologi Syair Simbolik (1980) menyebutkan kisahan Syair Ikan Terubuk berhubungan dengan persoalan politik, finansial, atau romantik.4 Walau bagaimanapun, dalam keragaman pendekatan itu, mereka pada umumnya sependapat bahwa tokoh-tokoh dan kisahan Syair Ikan Terubuk bersangkut-paut dengan manusia, budaya, dan peristiwa-peristiwa kesejarahan tertentu di alam Melayu. Oleh karena itu, mereka menggolongkan syair ini ke dalam beberapa istilah yang menunjukkan genrenya, seperti syair sindiran, syair kiasan, syair simbolik, dan sebagainya.

Pendapat yang mengaitkan Syair Ikan Terubuk dengan sejarah itu pada mulanya dikemukakan oleh seorang pakar bahasa dan sastra Melayu bernama Klinkert. Menurutnya, keseluruhan kisah syair ini merupakan ”sebuah lakon pendek dan lucu tentang seorang raja Melaka yang ingin menikah, yang disebutkan dalam Sejarah Melayu” (1868: 370).5 Namun Overbeck (1934: 87) yang mengelompokkan Syair Ikan Terubuk sebagai contoh kelompok syair hewan dan bunga, dengan cerita yang ‘sebagiannya aneh dan kabur’, menolak pendapat Klinkert yang menghubungkan kisah syair itu dengan Melaka dan Sejarah Melayu. Ia sudah menelisik bagian-bagian yang dianggap Klinkert berhubungan dengan teks Sejarah Melayu, tapi tidak menemukan hubungan itu satu pun.6

Pada tahun 1983, Maier dan Koster dalam makalah mereka untuk majelis Fourth European Colloquium on Malay and Indonesian Studies [Kolokium Eropa ke-4 tentang Kajian Melayu dan Indonesia] di Leiden-Belanda, kembali membahas syair ini dengan pendekatan intertekstual.7 Teks inti untuk pembahasan mereka adalah salah satu naskah Syair Ikan Terubuk koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berkode katalog Von de Wall 241 yang sudah dialihaksara dan diterbitkan dalam buku Antologi Syair Simbolik (1980: 156-66). Belakangan, Koster merevisi makalah mereka itu dan menjadikannya salah satu bab untuk disertasi dan bukunya.8 Melalui pembacaan yang sistematik, Koster (dan Maier) sampai pada beberapa kesimpulan yang ringkasnya adalah sebagai berikut.

Pertama, permainan epik dan roman. Secara generik, Syair Ikan Terubuk menghimpun ciri-ciri kisahan epik sekaligus roman dalam hubungan yang baur. Bermula dari rindu-dendam Terubuk kepada Puyu-puyu, sebagai motif yang lazim dalam kisah-kisah romantik dalam sastra-naskah Melayu, seperti Syair Buah-buahan, Syair Bunga Air Mawar, Syair Kumbang dan Melati, dan Syair Burung Pungguk. Alih-alih mempersiapkan pengembaraan untuk memenuhi hasratnya bersama sang kekasih idaman, Syair Ikan Terubuk malah bergeser ke adegan musyawarah para pembantu Pangeran Terubuk yang bermuara pada ikrar kesiapan mereka berperang untuk merebut Puteri Puyu-puyu. Musyawarah perang ini membawa ingatan pembaca kepada ciri-ciri yang lazim dalam kisahan epik Melayu, seperti dalam Syair Perang Mengkasar, Syair Perang Menteng, Syair Sultan Maulana, dan Syair Perang Siak.9

Namun, bayang-bayang kegagalan kemudian melintas di tengah ikrar heroik musyawarah, yaitu ketika salah satu tokoh menyarankan agar membatalkan serangan ke kolam tempat Puteri Puyu-puyu bersemayam. Di titik ini, secara intertekstual, pembaca seperti ’mendengar’ gema dari kegagalan serangan Ikan Todak atas Singapura yang terdapat dalam teks-teks sejarah Melayu. Dengan itu, harapan kita (pembaca) untuk tenggelam dalam tindakan-tindakan kepahlawanan para tokoh cerita (di pihak Terubuk) sejenak digantung. Tapi harapan itu kemudian terbersit dengan perpindahan adegan ke suasana musyawarah di pihak Puteri Puyu-puyu.

Semula, dalam musyawarah ini, ikrar-ikrar kepahlawanan kembali ditampilkan. Akan tetapi, segera terkesan bahwa para pembantu Puteri Puyu-puyu ini tidak begitu semangat untuk berperang. Di tengah-tengah musyawarah itu bahkan tokoh Lintah merusak suasana khidmat dengan menari dan mendendangkan pantun-pantun percintaan, yang membawa pembaca kembali kepada teks-teks romantik: kerinduan manusia, hewan dan bunga-bunga yang memang lazim menggunakan berbalas pantun sebagai alat ungkap suasana hati. Suasana khidmat kemudian dipulihkan ketika Bintara masuk dengan ikrar tegas untuk berperang melawan pasukan Terubuk, namun rangsangan epikal itu kembali dirusak oleh Ikan Sebahan yang mengatakan: Sekaliannya cakap tidak berguna / tuanku juga akan terkena. Puteri Puyu-puyu dinasehati agar lebih baik berdoa daripada memper­siapkan perang. Akhirnya memang terbukti, pada titik genting, leluhur turun membawa pohon pulai dan melalui pohon itu Puteri Puyu-puyu melepaskan diri dari perangkap rindu dan serangan Pangeran Terubuk.

Lihat Juga

Pantun Melayu Tahun 1848 (2)

Pengantar: Selain yang sudah dimuat sebelumnya [Lihat: Pantun Melayu Tahun 1848 1], pada halaman 182 ...

Satu komentar

  1. Syair Ikan terubuk sungguh luar biasa, meskipun berbeda-beda versi tetapi tetap saja membawa cerita lama yang bermanfaat bagi generasi kekikian. nilai budaya dan khazanah kekayaan lokal sungguh pekat terasa. semoga tidak hilang ditelan masa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!