Beranda / Matabudaya / Syair Ikan Terubuk

Syair Ikan Terubuk

Pertempuran yang diharapkan pembaca epik tidak terjadi. Ikrar berakhir hanya sebagai ucapan. Sebagai roman, rindu Pangeran Terubuk pun tak terpuaskan. Lalu ia melirik Ikan Kelesa, bukan sebagai pengganti tetapi hanya untuk menegaskan hasratnya yang tidak dapat melupakan sang kekasih, Puteri Puyu-puyu. Pembaca dibawa kembali ke situasi awal: Pangeran yang menanggung gundah-gulana, dan hanya dapat bercengkerama dengan semua ikan. Alhasil, secara generik Syair Ikan Terubuk dapat dianggap sebagai sebuah kisahan yang mempermainkan genre epik dan roman.

Kedua, kesejarahan dan realitas. Secara intertekstual, Syair Ikan Terubuk – sebagaimana dikatakan Klinkert (1868) – menggemakan peristiwa-peristiwa kesejarahan dan realitas tertentu. Koster memulainya dengan identifikasi terhadap latar tempat yang disebutkan dalam syair tersebut: Selat Melaka (tempat bersemayam Pangeran Terubuk), sekitar Tanjungpadang (tempat Puteri Puyu-puyu hidup), Tanjungtuan (kediaman lain Pangeran Terubuk), Selong atau Sailan/ Sri Langka (yang dikatakan Pangeran Terubuk sebagai tempatnya mengasingkan diri bila gagal mendapatkan Puteri Puyu-puyu), Bukitbatu, Bukitpengarah, laut/ selat Mengkalis/ Bengkalis Siak, Tanjungtuan, Tanjungbalai (tempat asal pohon yang digunakan Puteri Puyu-puyu untuk melarikan diri), dan Telukpedada.

Selain Sailong, Melaka dan Tanjungtuan (terletak di Semenanjung), semua nama tempat tersebut terletak di kawasan Siak. Pangeran Terubuk dihubungkan dengan Semenanjung, dan Puteri Puyu-puyu dengan Siak. Maka kita dapat membaca serangan Pangeran Terubuk yang tersaji dalam Syair Ikan Terubuk sebagai bagian dari pertentangan antara Semenanjung dan Pesisir Timur Sumatera; atau lebih khusus lagi, menunjukkan sebuah serangan oleh seseorang yang tinggal di Melaka atau Selangor atas seseorang yang tinggal di Siak.

Berdasarkan kata ’Sailong’ sebagai tempat, Koster menghubungkan teks Syair Ikan Terubuk dengan penggalan kisah dalam naskah Sejarah Raja-raja Melayu (Cod.Or. 7304),10 sebagai berikut:

Dan kepada sehari-hari berperang juga sampai enam bulan, negeri Siak tiada juga alah. Dan dua kali mengambil serdadu ke Melaka. Dan kapitan kapal pun terlalu marah kepada Yamtuan Raja Alam: ‘Dan Tuan Raja dibilang negeri Siak boleh diambil tiga jam kerana rajanya kanak-kanak kecil, akan sekarang kita lihat rupa perangnya seperti orang yang biasa lagi berani, dan jikalau tiada juga alah hari esok, mesti Tuan Raja kita hantarkan ke Sailong.’ Dan bagindapun tersenyum. Kata baginda: ‘Jikalau kita hantarkan ke Sailong ini kapal tiada juga sampai di Sailong.’ (…) Hatta baginda (=Ismail) sampai di Pelalawan maka Yang Dipertuan minta perahu kepada Maharaja lalu baginda keluar ke Riau dan akan negeri Siak pun alah. (…) Dan Yamtuan Raja Alam pun masuk ke dalam kota (SRRM fol. 473-5).

Pendeknya, Raja Alam diancam akan dibuang oleh Belanda ke Sailong jika tidak bisa segera membuat Siak menyerah. Belanda yang berpangkalan di Melaka ini telah mengirim ekspedisi ke Siak untuk membalas pembantaian satu garnizun VOC oleh pasukan Siak di Pulau Guntung. Tulisan Netscher (1870) menerangkan bahwa ekspedisi ini terjadi pada tahun 1761.11 Dalam ekspedisi ini, Belanda bersekutu dengan Raja Alam yang ingin merebut tahta Siak dari saudara seayahnya, Sultan Muhammad atau Mahmud atau Buang Asmara, yang telah membuatnya hidup di pengasingan. Raja Alam menikah dengan adik seorang Bugis yang masyhur, Daeng Kamboja, yang tinggal di Selangor. Setelah Sultan Muhammad wafat, baginda digantikan oleh anaknya, Ismail, yang masih belia dan belum berpengalaman. Raja Alam bersekutu dengan Belanda untuk mengusir Ismail dari Siak. Ancaman dibuang ke Sailong oleh Belanda jika Siak tidak segera direbut telah menggesa Raja Alam mengatur penyerbuan.

Dihubungkan dengan penggalan kisah dari Sejarah Raja-raja Melayu itu membuka kemungkinan untuk menafsirkan Pangeran Terubuk dalam Syair Ikan Terubuk sebagai Raja Alam, dan Puteri Puyu-puyu sebagai Sultan Ismail. Maka Syair Ikan Terubuk adalah gema dari kisah kesejarahan bagai­mana Raja Alam menyerang Siak dan mengusir Sultan Ismail. Tafsir ini diper­kuat oleh sejumlah unsur yang dapat melalui hubungan-hubungan intertekstual spesifik lainnya, khususnya dengan Syair Perang Siak (Goudie 1989). Di dalam syair ini, perang an­ta­ra Raja Alam dan Sultan Ismail di Siak juga dibentangkan secara luas. Dalam Syair Ikan Terubuk, Pangeran Terubuk dipanggil Raja Muda; dalam Sejarah Raja-raja Melayu (488 dan seterusnya) ia juga dipanggil Raja Muda. Di dalam Syair Ikan Terubuk, Puteri Puyu-puyu digambarkan sebagai makhluk peragu; Sultan Ismail pun dalam Sejarah Raja-raja Melayu pun terkesan demikian. Serangan Pangeran Terubuk digambarkan datang dari laut Mengkalis, dekat Bukitbatu; serangan pasukan gabungan Belanda dan Raja Alam dalam Sejarah Raja-raja Melayu dan Syair Perang Siak, pun dari kawasan yang sama. Puteri Puyu-puyu selamat tanpa cedera, seperti halnya Sultan Ismail dalam Sejarah Raja-raja Melayu dan Syair Perang Siak. Di dalam keputusasaannya, Puteri Puyu-puyu digambarkan sedang duduk berpangku dan semayam dipangku, dan itu bersesuaian dengan gambaran yang diberikan dalam Syair Perang Siak tentang Sultan Ismail yang belia: Tiang kerajaan duli tuanku / ayahanda dan kakanda kedua memangku dan Tiada berapa kerajaan baginda / dipangku oleh ayahanda dan kakanda.12

Lihat Juga

Pantun Melayu Tahun 1848 (2)

Pengantar: Selain yang sudah dimuat sebelumnya [Lihat: Pantun Melayu Tahun 1848 1], pada halaman 182 ...

Satu komentar

  1. Syair Ikan terubuk sungguh luar biasa, meskipun berbeda-beda versi tetapi tetap saja membawa cerita lama yang bermanfaat bagi generasi kekikian. nilai budaya dan khazanah kekayaan lokal sungguh pekat terasa. semoga tidak hilang ditelan masa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!