Pulai

Alstonia scholaris. Pulai adalah jenis pohon yang daunnya berbentuk oval, berwarna hijau berkilat pada bagian atas dan putih keabu-abuan di bagian bawahnya. Batangnya lurus dan dapat tumbuh tinggi mencapai 40 meter, sehingga sering menjadi pohon sialang. Kulit kayunya berwarna keabu-abuan dan bergetah seperti pohon para (Hevea brasiliensis; karet). Sama halnya dengan para, di masa lalu batang pulai juga ditakik untuk diambil getahnya. Bunganya berwarna putih kehijauan dan mengelompok. Pulai merupakan tanaman endemik Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Kayunya ringan, dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan misalnya untuk bangunan (papan dinding), tuntung (sejenis alat penangkap ikan di Bagansiapiapi), pelampung jaring (Siak), sarang kacamata untuk menyelam (menembak ikan di dalam air), jong (permainan tradisional berbentuk miniatur perahu layar), dll.

Buah dan Bunga Pulai.

Di alam Melayu, pulai memiliki fungsi kultural dan simbolis. Selain dikenal sebagai pohon yang secara khusus berasosiasi dengan lebah, pulai juga menjadi perlengkapan utama dalam pertunjukan teater tradisi Mendu (Pulau Tujuh), yaitu sebagai penangkal kekuatan magis yang dapat mencelakai para pelakon dan menggagalkan pertunjukan, serta sebagai medium simbolik untuk turunnya tokoh Dewa Mendu. Dalam pertunjukan Mendu tersebut, pulai ditanam pada bagian depan arena pertunjukan. Fungsi simbolik juga tercermin dalam salah satu karya sastra Melayu berjudul Syair Ikan Terubuk. Dikisahkan bahwa Puyu-puyu sangat gundah gulana menghadapi pinangan paksa Ikan Terubuk dari Selat Melaka. Ia pun berdoa dan doanya dikabulkan: hujan badai turun, di tengah kilat dan petir sambung-menyambung, turunlah nenek moyangnya dari Kayangan, membawa pohon pulai dari Tanjung Balai ke kolam tempatnya berada dan Puyu-puyu pun mengamankan diri dengan memanjat hingga ke pucuknya.

Kulit pohon pulai yang rasanya pahit telah lama dikenal sebagai obat tradisional. Berdasarkan penelitian medis, pulai mengandung antikanker, antibakteri, antiradang, analgesik, dan antiasma. (Sita Rohana)

 

Sumber:
G.C. Jagetia dan M.S. Baliga, , “Evaluation of anticancer activity of the alkaloid fraction of Alstonia scholaris (Sapthaparna) in vitro and in vivo”, Phytotherapy Research 20 (2006), hal. 103–109.
G.L. Koster, Mengembara di Taman-taman yang Menggoda: Pembacaan Naratif Melayu, Penerjemah: Sita Rohana dan Al azhar, Pekanbaru: P2KK-Unri dan KITLV Jakarta
Jian-Hua Shang, Xiang-Hai Cai, Tao Fenga, Yun-Li Zhao, Jing-Kun Wang, Lu-Yong Zhang, Ming Yan, Xiao-Dong Luo, “Pharmacological evaluation of Alstonia scholaris: Anti-inflammatory and analgesic effects” , Journal of Ethnopharmacology 129 (2010), hal. 174–181
M.R. Khan, A.D. Omoloso, M. Kihara, “Antibacterial activity of Alstonia scholaris and Leea tetramera”, Fitoterapia 74 (2003), hal. 736–740.
Channa, A. Dar, S. Ahmed, R. Atta ur, “Evaluation of Alstonia scholaris leaves for broncho-vasodilatory activity”, Journal of Ethnopharmacology 97 (2005), hal. 469–476.
Sindu Galba dan Sita Rohana, Peta Kesenian Rakyat Melayu Kebupaten Kepulauan Riau, Tanjungpinang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2002.
Syamsudin, B.M, Kesenian Melayu Riau dan Perkembangannya (Pandangan Setempat), Tanjungpinang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang, 1987.
http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Alstonia+scholaris

Lihat Juga

Marsden dan Pantun Melayu (tahun 1812)

Pengantar William Marsden (1754-1836), seorang linguis dan sejarawan Inggris, adalah ilmuwan pioneer untuk kajian Nusantara. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!