Beranda / Telaah / Penangkapan Terubuk – J. S. G. Gramberg

Penangkapan Terubuk – J. S. G. Gramberg

Selat Bengkalis, Brouwerstraat (KITLV D C 53 8, 1933)

 

 

Pengantar penerjemah

Pada tahun 1877, seorang pegawai pemerintah kolonial Hindia-Belanda bernama J. S. G. Gramberg menerbitkan tulisan berjudul “Troeboek Visscherij” (Perikanan Terubuk) di dalam dua media cetak berbahasa Belanda. Pertama, media cetak Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde (Majalah Bahasa, Tanah, dan Antropologi Hindia) jilid ke-24 halaman 298-317. Majalah ini diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Komunitas Batavia untuk Kesenian dan Ilmu Pengetahuan), dan oleh karena itu lazim disingkat TBG (Tijdschrift van Bataviaasch Genootschaap). Kedua, media cetak Sumatra Courant (Koran Sumatra) edisi Sabtu 17 November 1877, Rabu 21 November 1877, dan Sabtu 24 November 1877.

Isi dan susunan kedua publikasi itu dapat dikatakan identik, dengan empat urutan topik. Pertama, pendahuluan (‘Inleiding’; 1877: 298-299). Kedua, tentang sejarah produksi ikan terubuk (‘Geschiedenis der Visccherij’; TBG 1877: 299-303) di Bengkalis abad ke-19 (sebelum 1870-an) dan pasang-surutnya yang dipengaruhi oleh kebijakan perpajakan pemerintahan (baik Kerajaan Siak Sri Inderapura maupun Hindia-Belanda). Ketiga, ‘De Vischvangst’ (TBG 1877: 304-307), yaitu tentang teknologi penangkapan dan pemasarannya. Dan keempat, ‘Troeboek Bezwering’ (TBG 1877: 308-317) atau Semah Terubuk, yaitu tentang tradisi masyarakat nelayan setempat berkaitan dengan ikan tersebut.

Tiga tahun setelah tulisannya itu diterbitkan di TBG dan Sumatra Courant, Gramberg kembali kembali menerbitkannya – dengan sedikit perubahan komposisi – dalam majalah yang agak popular yaitu Indische Gids (Panduan Hindia; 1880: 331-346) berjudul “De Visscherij en Bezwering van Troeboek” (Perikanan dan Semah Terubuk). Sebagaimana dituliskannya dalam salah satu paragraf, penerbitan kembali tulisan itu bertujuan agar lebih banyak pembaca Belanda mengetahuinya dan mungkin ada yang tertarik untuk melakukan penelitian lebih mendalam.

Maksud Tuan Gramberg itu lumayan tercapai, sebab setelah tulisannya itu beredar, cukup banyak penulis lain yang bukan hanya sekedar mengutipnya sebagai informasi, tetapi juga menjadikannya sebagai tumpuan analisis dan tafsir etnografis budaya Melayu, baik pada masa kolonial maupun sesudahnya. Misalnya, d’Estrey (1891)2, Wilken (1893),3Verloop (1903)4, Bezemer (1906)5, redaksi Bataviaasch Nieuwsblad (Surat Kabar Orang Batavia; edisi 21 Agustus 1907)6, redaksi De Telegraaf (edisi 19 September 1928)7, W.H. Ridderhof dalam Nieuwe Apeldoornsche Courant (Koran Orang Apeldoorn Baru; edisi 19 November 1934)8, Kruyt (1939)9, hingga ke Koster (1997)10, dan Barnard (2003)11.

Tulisan di bawah ini adalah terjemahan bagian ketiga bertajuk ‘De Vischvangst’ (Penangkapan) dari artikel Gramberg itu, dengan teks dasar yang dimuat dalam TBG (halaman 304-307).

***

 

Penangkapan Terubuk

Ikan terubuk terdapat di beberapa bagian kepulauan Hindia. Ia ditemukan di Selat Melaka, di Sungai Panai pesisir timur Sumatera, dan di kepulauan Riau. Senn van Basel juga memberitahu pernah melihat ikan ini di pesisir barat Kalimantan, khususnya di pasar ikan Pemangkat. Sebenarnya, dari mana ikan terubuk berasal, belum dapat ditentukan dengan pasti. Kemungkinan besar ikan ini datang secara berkala dari mulut utara Selat Melaka, lalu turun ke Selat Bengkalis dalam skala besar, tempat di mana ikan betina melepaskan telurnya dalam jumlah yang sangat banyak di teluk-teluk dan anak-anak sungai yang terdapat di sana. Terubuk dengan demikian adalah ikan yang bermigrasi, tetapi gambaran dari mana ia muncul masih samar-samar. Lingkup penangkapannya sendiri terbatas hanya beberapa mil, terentang mulai dari titik paling barat pulau Bengkalis, yaitu Tanjungjati, sampai ke Tanjungbalai, dekat kuala Sungai Siak. Jarang sekali jangkauannya sampai ke perairan sekitar Sungai Siak Kecil. Kedatangannya biasanya terjadi pada waktu terang bulan, ditandai oleh riak-riak kecil air yang aneh dan loncatan-loncatan lincah ikan yang banyak. Sebegitu banyak dan padatnya rombongan ini, sehingga bila dayung dicelupkan ke situ, dayung itu tetap tegak – sebagaimana cerita-cerita yang agak berlebihan dari nelayan-nelayan Melayu.

Penting dicatat, bahwa di Selat Melaka, khususnya di bagian bawah semenanjung, tidak ada terubuk bertelur yang ditangkap. Sedikit di atas Singapura ada, tetapi kualitas telurnya rendah. Menjelaskan fenomena ini, para nelayan pribumi mengatakan bahwa ketika masih di Selat Melaka semua ikan terubuk itu jantan, lalu berubah menjadi petelur ketika perjalanannya sampai di Selat Bengkalis. Sebenarnya, di pintu masuk Selat Bengkalis, terubuk jantan sebagian besar memisahkan diri dari yang betina, dan melanjutkan perjalanannya atau kembali ke tempat asal mereka. Asumsi ini diperoleh berdasarkan kenyataan bahwa di antara ribuan ikan bertelur yang ditangkap di Selat Bengkalis, hanya beberapa ekor ikan jantan yang ditemukan. Namun, bisa juga jenis kelamin jantan tidak cukup terwakili dalam spesies ikan ini.

Lihat Juga

Ungkapan Tradisional Melayu Riau (karya Tenas Effendy)

  Bismillahi r-Rahmani r-Rahim. Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh. Karya Tenas Effendy mengenai ungkapan Melayu ...

Satu komentar

  1. Pingback: Terubuk - LAM Riau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!