Beranda / Syahdan / Catatan TIJ: Kucing, Saat Penabalan Gelar Adat Sutardji

Catatan TIJ: Kucing, Saat Penabalan Gelar Adat Sutardji

Begitu Sutardji Calzoum Bachri (SCB) duduk di lantai Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) sesaat sebelum ditabalkan gelar Datuk Seri Pujangga Utama kepadanya, Rabu, 7 November 2018, seekor kucing melintas di belakangnya. SCB sempat menjeling, sampai kepalanya agak ditarik ke belakang, tapi membiarkan hewan tersebut berlalu begitu saja. Kucing itu kemudian menghilang, entah ke mana. Sampai acara berakhir yang memakan waktu lebih dari dua jam, kucing tersebut tak muncul-muncul lagi.

Mencuri perhatian, karena kehadiran kucing tersebut dalam upacara adat ini tidak sekali itu saja. Sebelumnya, kucing itu tampak di sekitar tempat yang hendak diduduki SCB, semacam pentas atau tempat yang ditinggikan di balai. Langkah kucing seperti membelah tempat tersebut, muncul dari bawah pentas bagian tengah yang kemudian juga dilalui SCB, seolah-olah membuat garis horisontal. Sempat terlihat kucing itu berbelok ke kanan pentas, tapi kemudian lenyap dari pandangan. Dari arah kanan ini pulalah binatang itu melintasi panggung sebagaimana digambarkan di atas, membuat garis vertikal, karena sang kucing menuju kiri panggung.

Warna kucing itu tidak khusus, campuran antara putih dengan bercak-bercak krem. Terlihat lusuh, kucing itu memang menampakkan sosok sebagai kucing kampung biasa. Saya tidak pula sempat mengamatinya, apakah sehari-hari, kucing itu memang “mangkal” di Balai Adat LAMR ini atau tidak. Balai ini pula agak jauh dari rumah penduduk, tetapi beberapa gedung memang berada di sekitarnya. Barangkali juga kucing itu telah menempati salah satu di antara gedung-gedung tersebut, tapi tak mustahil pula bahwa sang kucing adalah  penghuni balai ini.

 

Kucing Berhamburan

Terus-terang, kehadiran kucing tersebut menyebabkan saya langsung teringat pada sajak Kucing SCB, suatu sajak yang fenomenal dari begitu banyak sudut.  Hal ini berkaitan pula dengan keterangan SCB beberapa waktu lalu bahwa hendaknya orang hati-hati menggunakan kata-kata dalam sajak. Kata-kata memungkinkan sekali muncul sebagai hasil dari doa. Kata kucing yang menjadi judul sajak bahkan buku dan tonggak kepanyairan SCB, kini muncul sebagai suatu kenyataan dalam hidup SCB, juga di rumahnya dalam kawasan Bekasi sana.

Saya juga teringat pada suatu hari sekitar tiga tahun lalu ketika mengunjungi SCB untuk suatu keperluan setelah begitu lama tidak ke rumahnya. Beberapa ekor kucing berhamburan ke dalam rumah begitu saya masuk, Seekor di antaranya, yang paling besar dan berwarna hitam, seperti membelit tubuhnya di kaki saya. SCB yang membuka pintu pagar dan rumah, setelah sedikit berbasa-basi, lalu ke dapur.

Isterinya Mariam Linda keluar dari kamar, menyusul lelaki tersebut. Entah apa yang mereka bicarakan di dapur, tahu-tahu dari halaman rumah tak lama kemudian, terdengar suara SCB berujar, “Cepat sikit… Sini… Sini… Nanti yang lain datang…”

Di bawah pohon jambu dalam remang-remang cahaya, SCB yang menggunakan celana pendek di bawah lutut dengan kaos putih, terlihat menjongkok sambil menatang talam kecil yang berisi seekor ikan. Dua ekor kucing berwarna hitam terlihat mengerubungi wadah tersebut yang diamati SCB sambil sesekali membuang pandangan ke sekitar yang dekat. Dielus-elusnya dua ekor binatang itu secara bergantian, sambil tak putus-putusnya memujuk agar hewan tersebut segera menyelesaikan santapannya.

Berdiri sekejap, SCB memutarkan badannya untuk kemudian meninggalkan kucing-kucing itu. Beberapa langkah, ia masih berjalan sambil terus memandang ke belakang, ke arah hewan-hewan tersebut. Ia kemudian merapatkan pintu pagar, sedangkan jeruji pintu rumah pun dikuncinya—tinggal daun pintu yang terbuka—membiarkan angin lalu-lalang dengan leluasa.

 

Dari Langit-langit

“Begitulah, kalau pintu pagar dan rumah dibuka, kucing-kucing dari luar juga menerobos masuk,” kata SCB seraya menjelaskan bahwa dua kucing berwarna hitam itu memang miliknya. Yang lebih kecil, datang ke rumahnya dengan cara agak aneh. Entah bagaimana pangkal ceritanya, binatang yang waktu itu masih kecil, seperti jatuh dari langit-langit rumah. SCB memutuskan untuk memeliharanya karena merasa kasihan, terlebih lagi tidak tahu harus diapakan selain tindakan itu.

Membuangnya tidak mungkin karena habitat awalnya yang tidak jelas. Berbeda dengan kucing-kucing yang bergerombol di luar pagar, yang segera masuk bila pintu pagar dibuka, setidak-tidaknya diketahui berasal dari luar, dari suatu habitat tertentu.

Lihat Juga

Ucap Sambut SCB

Pada 7 November 2018, dalam majelis penabalan Gelar Kehormatan Adat LAMR, Presiden Penyair Indonesia H. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *