Beranda / Telaah / Tunjuk Ajar Melayu: sebuah tanggapan
tunjuk ajar melayu

Tunjuk Ajar Melayu: sebuah tanggapan

Kecemasan terhadap “serangan” budaya luar dapat dipahami, sepanjang tidak menyuburkan prasangka buruk yang justeru berlawanan dengan sifat keterbukaan yang menjadi kekhasan dan membesarkan kebudayaan Melayu dalam rentang sejarahnya yang panjang. Pentingnya mengkaji dan menyimak (kembali) tunjuk ajar Melayu adalah sebagai bekal meraih kelenturan sintetikal dari kontestasi atau benturan kebudayaan yang sedang berlangsung. Bab kedua, ”Tunjuk Ajar Melayu”, berisikan pengertian, kandungan, kedudukan, dan penyebarluasan (sebagaimana telah disarikan di atas).

Bab ketiga, ”Butir-butir Tunjuk Ajar”, menggunakan lebih separuh halaman buku, dipilah ke dalam 29 kaitan topik, mulai dari ”Yang berkaitan dengan ketaqwaan terhadap Allah”, sampai kepada ”Yang berkaitan dengan hidup sederhana”. Setiap topik diawali dengan penjelasan ringkas kaitan topik itu dengan kehidupan setiap orang Melayu. Pada topik-topik tertentu, ada pula sub-sub topik yang perpindahannya ditandai dengan penjelasan ringkas. Penjelasan ringkas juga diberikan untuk mengantarkan perpindahan bentuk retorik yang digunakan pada topik yang sama. Misalnya, perpindahan bentuk retorik yang diawali dengan satu larik pertanyaan yang diikuti dengan tiga larik jawaban bersajak akhir aaaa, ke rangkaian bait-bait berbentuk syair, sbb.:

apalah tanda Melayu handal à [Tanya] ia berilmu dalam beramal à [Jawab] terhadap dirinya ianya kenal à [Jawab] pada kebajikan ianya kekal à [Jawab] [PENJELASAN PERPINDAHAN]  
wahai ananda hendaklah ingat
hidup di dunia amatlah singkat
banyakkan amal serta ibadat
supaya selamat dunia akhirat

Selanjutnya, bab keempat, ”Petuah dan Amanah”, terdiri dari 10 tema, mulai dari ”Petuah amanah guru kepada muridnya”, sampai kepada ”Petuah amanah yang berkaitan dengan alam lingkungan”. Sama halnya dengan bab keempat, setiap perpindahan topik dan bentuk retorik juga diawali dengan penjelasan. Bab kelima, ”Penutup”.

Bagaimanapun, lisan dan tulisan adalah dua hal yang memiliki sejumlah perbedaan asasiyah. Perbedaan itu menyebabkan transmisi (perpindahan) lisan ke tulisan selalu bermasalah.  Dari beberapa pilihan yang lazim digunakan, penulis buku ini memilih jalan tengah: mengekalkan jejak-jejak lisan dengan menganjungkan rima dan repetisi-repetisi ritmisnya di dalam tulisan. Butir-butir tunjuk ajar dan petuah-amanah dalam buku ini sebagian besar penulisannya memang ’meminjam’ bentuk-bentuk baku tradisi sastra Melayu (seperti syair, pantun, dan gurindam), di samping formula-formula yang lazim dalam seni bahasa lisan.

Penulis buku ini, Alm. H. Tenas Effendy (9 November 1936 – 28 Februari 2015), adalah seorang yang sangat akrab dengan bentuk-bentuk seni bahasa dalam tradisi Melayu itu. Yang mengherankan, barangkali, ialah ketunakannya mengumpulkan tafsir-tafsir empirik dan kitab-kitab otoritatif yang berserakan dalam realitas yang berubah, untuk kemudian disuling demi mendapatkan saripati (nilai)-nya, lalu dipadu-serasikan ke dalam  kelaziman-kelaziman sastrawi. Barangkali pula, karena itu H. Tenas Effendy layak dikatakan sebagai seorang pembawa pesan peradaban, yang mengembara melintasi ruang dan waktu dalam belantara kata-kata. Ia sendiri seperti tukang cerita yang berfungsi sosial sebagai penyampai sekaligus penjaga kelestarian kebudayaan dan masyarakatnya, dalam budaya tulis.

Catatan: tulisan ini pertama kali dibentangkan dalam simposium Memory of the World, yang diselenggarakan di Tanjungpinang, 9-10 November 2010.

Lihat Juga

Model Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat serta Prosedur Usulan Hutan Adat

Materi ini dipaparkan oleh Riko Kurniawan, Direktur Eksekutif WALHI Riau pada acara “Dialog Virtual Kedaulatan Adat Melayu ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!