Beranda / Telaah / Tunjuk Ajar Melayu: sebuah tanggapan
tunjuk ajar melayu

Tunjuk Ajar Melayu: sebuah tanggapan

[Dalam salah satu esainya, “Der Erzähler (Tukang Cerita), filsuf Walter Benjamin menggarisbawahi kelangkaan nasehat (tunjuk ajar) pada fiksi modern, terutama novel. Dalam pandangannya, novel berangkat dari pemikiran yang dibayang-bayangi ketakutan pada maut. Oleh karena itu, novel tidak mampu memberi nasehat. Sebaliknya, cerita dan bercerita, justeru membawa kematian sebagai unsur yang menggairahkan kehidupan, dan merayakan nasehat-nasehat yang antara lain maujud dalam bentuk peribahasa-peribahasa. Peribahasa (nasehat; tunjuk ajar), kata Benjamin, bersarang pada cerita, sekaligus berpotensi membiakkan cerita-cerita.]

Keberadaan dan ketiadaan ‘tunjuk ajar’ dalam setiap peristiwa lisan akhirnya menentukan ‘nilai’ peristiwa lisan itu sendiri di tengah-tengah komunitasnya.

  1. Tekstualisasi

Bentuk-bentuk ‘kelisanan baru’ yang melimpah ruah mengiringi perkembangan pesat penemuan dan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi telah lama disadari mendesak kelisanan tradisional, termasuk tradisi lisan Melayu tempat dimana ‘tunjuk ajar’ itu berakar. Di alam Melayu, salah satu alasan pokok mengapa kesadaran terdesak itu muncul dan meningkat dari waktu ke waktu, adalah bahwa sumber nilai yang dianjungkannya demikian beragam dengan otentisitas yang tidak terperiksa, dan keragamannya itu menyelubungi teks-teks otoritatif Melayu.

Ini ditegaskan oleh sejumlah praktik yang diduga berpaksi pada ‘nilai-nilai baru’, yang bagi komunitas-komunitas Melayu tradisional dialami sebagai kemudaratan. Misalnya, praktik kapitalisme yang dielu-elukan negara atas hutan-tanah, bagi komunitas Melayu dialami sebagai perlucutan atas hak-hak komunal mereka, dan bersama kehancuran lingkungan fisik itu lenyap pula sumber-sumber tafsir empiris yang menjamin kesinambungan dan dinamika pewarisan nilai dan budaya.

Di tengah goncangan tersebut, anak-anak dan belia-belia Melayu dipaksa berdepan dengan dua pilihan yang sama-sama menjauhkan mereka dari nilai-nilai luhur budaya mereka. Yang pertama, pilihan memasuki ruang yang berubah tanpa kesadaran diri, seperti seorang ‘jalu (somnambulist)’, untuk kemudian terdampar di pantai nafsu-nafsi materialisme, dan di tempatnya sekarang sebagian menjadi konsumen dan aktor nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai-nilai budaya Melayu itu sendiri; katakanlah misalnya mentalitas destruktif seperti korupsi, kolusi, manipulasi, dan lain-lain. Yang kedua, memilih untuk bertahan, tapi rempuhan praktik-praktik kapitalisme itu mendesak mereka ke tepi. Dari posisi yang semakin marginal itu, sebagian mencoba memasuki media transmisi baru yang ditawarkan oleh teknologi informasi dan komunikasi yang nampaknya merayakan kelisanan. Namun peluang untuk itu sangat kecil, karena media-media baru tersebut juga bagian dari kekuasaan kapitalisme yang sama, yang memandang apapun sebagai komoditas dengan nilai yang ditentukan oleh pasar.

[Perasaan-perasaan terdesak oleh perubahan-perubahan yang berlaku, terutama yang disebabkan oleh faktor-faktor eksternal, dalam pemikiran kebudayaan Melayu memang bukanlah hal yang baru. Cendekiawan Melayu Riau abad ke-19 yang paling terkemuka, Raja Ali Haji (1808 – 1873), pun pernah merekamkan kerisauannya atas sikap dan perilaku ’kebelanda-belandaan’ sebagian orang Melayu di Kerajaan Riau-Lingga semasa, sebagaimana dituliskannya dalam keterangan salah satu entri kamus ensiklopedisnya, Kitab Pengetahuan Bahasa. Bahkan dapat pula dikatakan, citra cemerlang tradisi tulis Riau abad ke-19 sampai awal abad ke-20 yang berpusat di Pulau Penyengat pun adalah buah dari psycho culture yang kurang lebih sama.]

Dengan latar psycho culture yang seperti itulah, tunjuk ajar Melayu memasuki ruang baru, teks tertulis yang dikemas dalam bentuk buku, pertama kali diterbitkan oleh Dewan Kesenian Riau pada bulan September 1994, berjudul Tunjuk Ajar Melayu (Butir-butir Budaya Melayu). Buku setebal 622 halaman itu terdiri dari lima bab, diawali dengan dua tulisan sambutan (masing-masing Ketua Dewan Kesenian Riau waktu itu, Drs. H. Rustam S. Abrus, dan Gubernur KDH TK. I Riau waktu itu, Soeripto, selaku Setia Amanah Masyarakat Adat Melayu Riau). Pada tahun 2006, teks itu diterbit-ulang oleh Penerbit Adicita Yogyakarta. Tahun 2013, diterbitkan pula oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau bersama Tenas Effendy Foundation. Dan kini, tahun 2015, diterbitkan lagi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau bersama Tenas Effendy Foundation.

Pada bab pertama, ”Pendahuluan”, mengemukakan kontestasi kebudayaan yang mengancam nilai-nilai luhur yang bermuara pada kehilangan kepribadian dan jatidiri. Diingatkan bahwa matlamat hidup yang diidamkan setiap orang Melayu ialah manusia sempurna atau ”orang bertuah”, yaitu orang yang ”sepadan ilmu dengan imannya”, yang ”lahir menakah batin sempurna”, yang perwujudannya ditempuh dengan menerapkan warisan ’tunjuk ajar’ dalam kehidupan sehari-hari.

Lihat Juga

Model Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat serta Prosedur Usulan Hutan Adat

Materi ini dipaparkan oleh Riko Kurniawan, Direktur Eksekutif WALHI Riau pada acara “Dialog Virtual Kedaulatan Adat Melayu ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!