Beranda / Matabudaya / Syair Perang Siak

Syair Perang Siak

[Catatan pembuka: Sebagian besar tulisan ini merupakan saduran ringkas dari kajian G.L. Koster tentang Syair Perang Siak yang terdapat dalam bukunya Roaming Through Seductive Gardens (KITLV, 1995). Buku itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Sita Rohana dan Al azhar, dengan judul Mengembara di Taman-taman yang Menggoda (P2KK Unri & KITLV Jakarta, 2011). Bab yang sama (tapi bersumber dari proefschrift disertasi Koster) telah lebih dulu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Al azhar, dan diterbitkan dengan judul Peringatan dalam Syair Perang Siak (Seri Marpoyan 1, Pusat Pengajian Melayu Universitas Islam Riau, 1994)].

Syair Perang Siak adalah karya sastra Melayu Riau yang ditulis pada abad ke-19. Setakat ini diketahui ada tiga naskah (tulisan tangan/ manuskrip) berhuruf Arab-Melayu yang isinya dapat digolongkan ke dalam Syair Perang Siak. Pertama, naskah dengan nomor katalog Klinkert 154, koleksi Perpustakaan Universitas Leiden Belanda (lihat Van Ronkel 1921: 85). Naskah ini telah disunting dan dikaji untuk disertasi seorang pakar sastra Melayu berkebangsaan Australia bernama Donald J. Goudie. Disertasi tersebut diterbitkan sebagai Seri Monografi No. 17 lembaga ilmiah Malay Branch of Royal Asiatic Society (MBRAS) Kuala Lumpur, pada tahun 1989. Kedua, naskah dengan nomor katalog Klinkert 153, yang juga tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (Van Ronkel, 1921: 85). Judulnya sama dengan Klinkert 154, yaitu Syair Perang Siak. Dalam kolofonnya dijelaskan bahwa naskah Klinkert 153 ini selesai disalin di Riau pada tarikh 13 Jumadilawal 1281 (15 September 1864). Ketiga, naskah dengan nomor katalog Von de Wall 273, koleksi Perpustakaan Nasional Jakarta (Van Ronkel, 1909: 349), dengan judul Syair Raja Siak. Naskah ini telah dialihaksara oleh Kosim, dan diterbitkan tahun 1978.

Para ahli yang meneliti naskah ini sepakat bahwa dari ketiga naskah tersebut, yang tertua adalah Klinkert 154. Berdasarkan petunjuk eksternal, Goudie memperkirakan Klinkert 154 ditulis tahun 1764 di Tambelan Pulau Tujuh (Kepulauan Riau). Namun pakar sastra Melayu lainnya, G.L. Koster, mengemukakan pendapat yang berbeda. Dalam bukunya Roaming Through Seductive Gardens (1995; versi terjemahannya: Mengembara di Taman-taman yang Menggoda, 2011), sarjana berkebangsaan Belanda ini menyebutkan bahwa naskah Klinkert 154 itu adalah salinan (dari naskah lain yang lebih tua, tapi belum ditemukan) yang ditulis antara November 1849 dan November 1850 di Senapelan (sekarang: Pekanbaru) oleh seorang Siak bernama Encik Mustafa. Koster mendasarkan pendapatnya tersebut melalui bacaan atas sepucuk surat yang dikirim oleh H.C. Klinkert (seorang penginjil berkebangsaan Belanda yang banyak mengumpulkan naskah-naskah Melayu) dari Riau kepada Panitia Pengurus Harian Lembaga Injil Belanda bertarikh September 1864, yang menyatakan bahwa naskah tersebut (Klinkert 154) dihadiahkan kepadanya oleh seorang pegawai keresidenan Riau bernama J.E. van Angelbeek (Almanak 1863: 140). Menurut Van Angelbeek kepada Klinkert, naskah itu sebelumnya milik seorang Yamtuan Muda Siak, Tengku Putera, sampai ia diasing­kan oleh Belanda ke Riau-Lingga pada tahun 1862.

Naskah Syair Perang Siak (Klinkert 154) terdiri atas 528 bait, berisi kisahan dengan ikhtisar sebagai berikut:

Bait 1 – 69: Mengisahkan penduduk bandar Bengkalis yang dituntut untuk takluk pada raja Johor yang bekerjasama dengan Bugis. Mereka melawan, dan meminta seorang tokoh dari pedalaman Sumatera bernama Raja Kecik untuk memimpin perlawanan itu. Raja Kecik kemudian memimpin serbuan ke Johor dan berhasil merebut tahta kerajaan itu. Kemudian ia memindahkan pusat kekuasaan dari Bengkalis ke Buantan, yang kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan yang ramai dan makmur, menarik banyak pedagang asing dan menerima utusan dari Kompeni.

Bait 70 – 109: Raja Kecik mempunyai dua putera yang sama kedudukannya, yaitu Raja Alam dan Raja Mahmud/Buang Asmara (sumber Belanda menyebutnya Raja Mohamad). Kedua puteranya yang berlainan ibu itu bersaing menjadi pewaris tahta kerajaan. Raja Kecik sedih dan amat menyesali pecahnya pertarungan bersenjata antara kedua anaknya itu, yang mengakibatkan Siak mengalami musibah terpecah menjadi dua kubu. Untuk mengakhiri pertarungan, Raja Kecik memutuskan salah seorang harus pergi meninggalkan Siak. Raja Alam bermusyawarah dengan para pengikutnya, lalu memutuskan pergi, karena tak mau hanya sebagai Yamtuan Muda.

Lihat Juga

resam

Resam

  Dicranopteris linearis; Gleichenia linearis (Burnm.). Resam tergolong dalam jenis tumbuhan pakis-pakisan yang berukuran besar. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!