Beranda / Orang Patut / Datuk Seri Lela Budaya H. Rida K Liamsi

Datuk Seri Lela Budaya H. Rida K Liamsi

Rida K Liamsi lahir di Kampung Bakung Singkep Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau pada tanggal 17 Juli 1943; diberi nama Ismail Kadir. Pada awal-awal perkhidmatannya sebagai penulis kreatif, ia menggunakan nama-nama pena, Iskandar Leo dan Rida K Liamsi (kebalikan dari Ismail Kadir). Nama pena yang terakhir itu melekat menjadi nama dirinya hingga ke hari ini.

Rida K. Liamsi mengawali karirnya sebagai guru Sekolah Dasar di Kepulauan Riau, pada tahun 1967–1975. Ia juga bergiat dalam penulisan sastra dan berita, dan menjadi bagian yang menyatu dengan sejarah dan gairah kesenian di kota Tanjungpinang tahun 1960-an hingga awal 1980-an.

Sebagai pemberita, ia merupakan seorang wartawan yang tangguh. Ia pernah menjadi wartawan Berita Buana (1972 – 1973), majalah Tempo (5 tahun), dan surat kabar Suara Karya (5 tahun); semuanya terbit dan berkantor induk di Jakarta. Kemudian diamanahkan memimpin surat kabar mingguan Genta (1983), di Pekanbaru. Dalam lingkungan komunitas wartawan ini, ia cukup lama menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau.

Ayunan terbesar langkah perkhidmatan cemerlangnya ialah ketika ia memimpin penerbitan surat kabar harian Riau Pos melalui pendekatan profesional di Pekanbaru, tanggal 17 Januari 1991. Sampai tahun 2015, di bawah payung Grup Riau Pos, Rida K Liamsi memimpin 23 koran harian, 5 portal, 5 televisi, satu radio siar, dan satu provider jaringan maya; tersebar di Sumatera bagian tengah dan utara, dengan pusat kendali di Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau. Dengan pencapaian itu ia patut dan layak dipandang sebagai teladan dan wira alam Melayu modern dalam bidang usahateknowan (technopreneurship).

Tidak hanya itu; di bawah payung Riau Pos juga, Rida K Liamsi mendirikan Yayasan Sagang, yang sejak 1997 setiap tahun memberi penghargaan untuk budayawan/ seniman, karya, lembaga budaya, dan peliputan budaya, khususnya kebudayaan Melayu. Para penerima anugerah ini adalah pribadi dan lembaga yang dipandang berperan penting dalam pengayaan kebudayaan dan peradaban Melayu dalam lingkup luas alam Melayu, termasuk dari negara-negara serumpun. Hal yang seperti itu tidak dijumpai di tempat lain di Indonesia kecuali di Jawa Barat, dengan Hadiah Rancage-nya; itu pun terbatas hanya untuk karya saja.

Yayasan Sagang juga mendirikan Majalah Sagang, satu-satunya majalah budaya Indonesia terkini. Sejak tahun 2010, yayasan ini mengelola Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), atas keinginan pengelola sebelumnya yakni Yayasan Pusaka Riau. Perguruan tinggi ini dihalakan pada tujuan utama melahirkan seniman-seniman dengan akar tradisi seni Melayu yang kokoh-kuat. Akademi ini sekarang berproses menjadi Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR).

Melalui media-media yang didirikannya, Rida K Liamsi membuka ruang yang luas untuk kebudayaan dan peradaban, sehingga Riau Pos termasuk dari sedikit media yang memiliki halaman budaya terbanyak di Indonesia. Riau Televisi (RTv), misalnya, setiap pekan menayangkan acara sastra bernama “Madah Poedjangga” –mengikuti nama taman di Graha Pena Riau Pos, Pekanbaru. Berbagai peristiwa budaya tak luput dari perhatian Rida K. Liamsi. Sejumlah daerah di Indonesia misalnya, kini merayakan Hari Puisi Indonesia (HPI) setiap tanggal 26 Juni. Nyatanya, HPI itu dideklarasikan di Pekanbaru atas prakarsa Rida K. Liamsi. Mulai tahun 2015, dua koran lagi di bawah Grup Riau Pos yakni Batam Pos dan Padang Ekspress, memiliki jumlah halaman budaya yang serupa dengan Riau Pos.

Rida K Liamsi juga seorang pengkarya yang baik. Ketika Horison menjadi kiblat dari karya sastrawan Indonesia tahun 1970-an, Rida K Liamsi telah memunculkan karyanya di majalah tersebut. Karya-karyanya itu kini kembali diterbitkan dalam bentuk buku, bersama karya-karyanya yang baru, seperti kumpulan puisi Ode X (1981), Tempuling (2002), Perjalanan Kelekatu (2008) dan Rose (2013), serta novel dengan latar Melayu Riau abad ke-19, Bulang Cahaya (2007).

Sudah barang tentu, pengelolaan media massa, apalagi dalam jumlah yang tidak sedikit sebagaimana diperlihatkan Rida, memerlukan kemampuan manajemen bisnis. Rida telah memperlihatkan hal itu dengan baik, sehingga ia juga muncul sebagai saudagar terbilang di kawasan Melayu. Namun tak lupa pula ia mengingatkan anak negeri ini agar merebut kembali dunia perdagangan yang sempat dengan gemilang diraih oleh para pendahulu. Bahkan ia menggalang sejumlah orang untuk berbuat hal tersebut secara nyata, misalnya mendirikan PT Gerakan Sejuta Melayu tahun 2008.

Lihat Juga

Raja Ali Haji

Raja Ali Haji

  …karena tiap-tiap pekerjaan tiada dimulai dengan nama Allah itu maka iaitu qata’al barokah yakni ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *