Beranda / Telaah / Catatan Al azhar: Sejarah atawa Dongeng?

Catatan Al azhar: Sejarah atawa Dongeng?

Syahdan pada tahun 1984, seorang budayawan Riau, Ediruslan Pe Amanriza (17 Agustus 1947 – 3 Oktober 2001) menulis dan membacakan sebuah puisinya yang berjudul “Sejarah Kami”. Baris pertama sajak itu menyatakan: “Sejarah kami adalah dongeng nenek menjelang tidur”. Sebagaimana diperlihatkan dengan gegap gempita oleh karya-karya sastrawan Sutardji Calzoum Bachri, tugas puisi antara lain adalah menyegarkan bahasa sebagai sistem tanda yang menjelmakan segala sesuatu dalam pikiran dan perasaan kita; mengawalnya dari ancaman pelapukan bahkan kematian makna. Caranya bermacam-macam. Dan dalam hal baris pertama puisi “Sejarah Kami” Ediruslan Pe Amanriza, kita barangkali bisa segera menandai ‘kejanggalan atau ketidakbiasaan’ penyamaan antara “sejarah” dan “dongeng”.

Dalam keseharian kita, kata “sejarah” membawa pikiran kita memasuki ruang pengertian kisah-kisah tentang peristiwa yang benar-benar terjadi (real). Oleh karena itu ia terkebat pada kelampauan yang terjelaskan: bisa dulu, lama sekali; bisa baru saja terjadi. Sebaliknya kata “dongeng”; peristiwa yang dikisahkannya bebas-merdeka dari ihwal ‘benar-benar terjadi’. Meski sering diawali dengan kata-kata “pada zaman dahulu kala”, peristiwa yang dikisahkan dalam dongeng tidak mengharuskan adanya penjelasan ‘bila persisnya’, ‘dimana tempatnya dalam peta’, dan ‘apakah tokohnya benar-benar ada’. Itulah sebabnya, bagi orang-orang yang suka membuat peringkat-peringkat kepentingan, kisahan sejarah dianggap lebih tinggi dibanding kisahan sastra (apalagi dongeng). Maka, penyetaraan “sejarah” dengan “dongeng” dalam baris puisi “Sejarah kami adalah dongeng nenek menjelang tidur” itu tentu janggal, mengada-ada, dan sebaiknya lupakan saja. Lupakan?

Tunggu dulu. Bukankah kisahan sejarah dan dongeng meniscayakan bahasa? Bukankah produk bahasa terikat oleh relasi-relasi ideologis dan politis, bayangan-bayangan konseptual, dan tujuan-tujuan praktis pragmatis penggunanya? Bukankah kisahan “sejarah” dan “sastra”, dengan demikian adalah hasil dari sebuah subjek yang sama-sama terpenjara, yaitu bahasa? Bukankah kisahan “sejarah” dan kisahan “dongeng” atau sastra pada umumnya adalah teks? Bukankah karena itu teks “sejarah” maupun “sastra” berdepan dengan saujana bebas subyek lain, yaitu khalayak (pendengar untuk teks lisan, dan pembaca untuk teks tertulis)? Subjek bebas, karena setiap khalayak datang kepadanya berbekal bayang-bayang ‘kuasa budaya’ yang terbentuk oleh pengalaman, harapan, dan mimpi-mimpinya sendiri. Kuasa budaya itulah yang dijadikannya ‘perangkat’ untuk mendialog teks yang terhidang di hadapannya.

Dialog adalah saat-saat kritis dalam pengalaman tekstual seseorang atau sekelompok komunitas. Di dalam dialog, orang memberdayakan kuasa budaya yang menaunginya, bisa dalam pola membandingkan dengan pengalaman empiriknya sendiri, bisa pula dengan pengalaman yang dipinjamnya dari pengalaman orang lain atau teks-teks lain. Dialog dengan demikian adalah permainan intertekstual. Dan, kita pada akhirnya tak pernah tahu pasti makna apa yang diberikan seseorang atau suatu komunitas pada teks itu: menggugatkah, mengakuikah, atau sintetikal (merangsang hal-hal baru).

Dalam konteks ini kita bisa memasuki hikmah kritis yang kedua dari larik sajak di atas: “Sejarah kami adalah dongeng nenek menjelang tidur”. Bagi ‘kami-lirik’, teks-teks sejarah yang tersaji ‘adalah dongeng’, yang penanggapannya lebih memerlukan kuasa-kuasa imajinatif dibandingkan pengalaman-pengalaman konkrit-empirik. Namun, apakah ‘sejarah kami’? Siapakah ‘kami’? Seberapa luas ruang makna pada kata ‘kami’ itu? Tersebab penyairnya (Ediruslan Pe Amanriza) anak watan Riau, apakah ‘kami’ yang dimaksudkannya adalah ‘kami’ dalam ‘lokalitas’ Riau? Atau, karena Riau adalah bagian dari Indonesia, maka ‘kami’ itu adalah lingkungan ‘nasionalitas’ Indonesia? Atau, karena Riau secara geo-kultural menembus batas nation-state, maka ‘kami’ yang dimaksud sajak tersebut merangkum ruang ‘regionalitas’?

‘Lokal’, ‘nasional’, dan ‘regional’ adalah klasifikasi ruang yang hampir tak pernah dengan sungguh-sungguh kita gali dan jelajahi maknanya. Dalam sebuah pembahasan tentang pahlawan nasional Tuanku Tambusai belasan tahun yang lalu, seorang sejarawan terkemuka Indonesia, Doktor Anhar Gonggong, dalam kertas kerjanya memberikan takrif kata ‘lokal’ yang merujuk pada batas-batas politik dan ranahnya adalah provinsi-provinsi di Indonesia! Ini mungkin cocok untuk terma-terma yang diambil dari kenyataan-kenyataan dan pandangan dunia kontinental: Jawa, misalnya. Bagaimana dengan kenyataan-kenyataan dan pandangan dunia pesisir dan kepulauan? Seperti Melayu, Bugis, dan lain-lain yang gerak melenting ke luar (centrifugal forces) -nya seimbang – kalau tidak dapat dikatakan lebih dahsyat – dibanding centripetal forces (memusat)-nya?

Lihat Juga

MUKHLIS PAENI: TENAS EFFENDY, “PENUTUR MADAH SEPANJANG ZAMAN“

Perkenalan pertama Saya secara pribadi dengan Bapak Tenas Effendy sekitar 34-35 tahun yang lalu, tepatnya ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *