Beranda / Matabudaya / Kekabu

Kekabu

Ceiba pentandra (L.) Gaertn. Kekabu atau kabu-kabu adalah nama pohon penghasil kapuk, atau lazim juga disebut sebagai pokok kapuk. Sebutan ‘kekabu puteh’ di Perak (Malaysia) merujuk pada pohon kekabu yang menjadi tanda perbatasan antara Perak dan Pattani (Thailand Selatan).

Kekabu sangat berharga di masa lalu. Buahnya menghasilkan kapuk atau kapas yang memiliki banyak kegunaan. Menjelang PD II, kekabu adalah tanaman komersial penting, karena seratnya digunakan secara luas sebagai pengisi jaket pelampung, sabuk pengaman, pakaian untuk penerbangan, dan isolasi suara untuk pesawat terbang. Di alam Melayu, kekabu digunakan sebagai isian bantal dan tilam. Bantal atau tilam yang disi dengan kekabu mampu bertahan sehingga 20 tahun, namun perlu dijauhkan dari air dan senantiasa dijemur, serta dipukul dengan pemukul rotan untuk menepiskan debu kekabu yang telah hancur.

Nama latin kekabu diambil dari istilah Karibia, Ceyba atau Seyba, dan mulai digunakan pada tahun 1524 oleh Oviedo. Miller kemudian menggunakan nama vernakular ini pada 1739 sebagai nama generik. Linnaeus memberinya nama Bombax pentandrum. Pada 1791 Gaertner membagi genus Bombax menjadi Bombax dan Ceiba, yang menyumbang nama botaninya saat ini Ceiba pentandra (L.) Gaertn.

Daun, bunga dan buah batang pohon Kekabu.

Menurut kebiasaan tumbuhnya, kekabu dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu kekabu caribaea yang tumbuh liar dan semi-liar dan indica yang banyak dibudidayakan. Jenis caribaea terbagi dua yaitu jenis caribaea-hutan: berbatang tinggi (30-35 m) tidak bercabang, dengan mahkota tinggi dan sering dengan penopang besar. Jenis ini yang tak bertulang dengan buah tidak berwarna dan kapuk putih dipilih untuk budidaya. Kedua, caribaea-savannah, pohonnya berbatang pendek dengan ketinggian hingga 10 m, tidak bercabang, dan mahkota yang menyebar sangat luas.

Sedangkan kekabu indica biasanya tumbuh dengan ketinggian hingga 25 m dan tidak sebesar jenis caribaea. Pohonnya tidak memiliki penopang besar dan menghasilkan kapuk putih, dengan variasi batang berduri dan tanpa tulang. Jenis inilah yang banyak ditemukan di Sumatera dan Jawa. Kekabu indica terbagi lagi berdasar tipe perkembangan dahan dan rantingnya, yaitu tipe ‘pagoda’ yang ditandai dengan pertumbuhan cabang-cabang di bagian bawah batang dan batang yang tidak bercabang dengan mahkota. Jenis kedua adalah jenis ‘lanang’, yang memiliki memiliki mahkota hingga menyentuh tanah karena mempertahankan cabang-cabangnya yang lebih rendah.

Kapuk yang kita kenal sejatinya merupakan sel-sel epidermis berbentuk serat yang membungkus setiap biji buah kekabu. Tidak semua sel epidermis tumbuh menjadi serat. Kadang-kadang beberapa sel berdekatan tumbuh bersama menjadi ‘rambut ganda’ dan ‘kelompok rambut’. Seratnya berukuran panjang sekitar 1-2 cm. Serat kapuk kekabu sangat halus dan licin sehingga sulit untuk dapat dipintal menjadi benang. Bijinya berwarna hitam kecoklatan dengan diameter hampir 0,5 cm. Warna daun jenis indica berwarna hijau, sedangkan daun jenis caribaea berwarna merah atau hijau.

Buah Kekabu

Bunga kekabu tumbuh berkelompok dalam jumlah mencapai ribuan dalam satu pohon. Perbungaan memiliki sekitar dua hingga delapan bunga. Setiap mahkota memiliki lima kelopak dengan rambut di bagian atas. Bagian dalamnya berwarna kuning cerah dengan kilau berminyak. Kelima benang sari dan kelopak menyatu di pangkalan. Panjang filamen sekitar 2,5 cm.

Perbungaan tumbuh pada cabang yang tidak berdaun pada awal musim kemarau. Tunas bunga terbuka sekitar 15-20 menit setelah matahari terbenam. Dalam sepuluh menit kelima, kelopak bunga gantung telah berpisah, membalikkan ujung atas mereka ke atas. Bagian dalam kelopak mengeluarkan nektar yang mengalir dari mahkota. Pagi berikutnya dan pada hari berikutnya kelopak bunga menunjukkan tanda-tanda awal kelayuan, lalu perlahan terkulai dan layu dan kehilangan kilau berminyak, serta menjadi berwarna coklat kekuningan. Pada petang hari, bunga pun gugur.

Bunga kekabu khasnya diserbuki oleh kelelawar di malam hari. Segera setelah matahari terbit, lebah dan serangga lainnya akan menggantikannya dengan menjilat nektar dan menyerbuki semua bunga. Hewan lain yang membantu penyerbukan adalah burung dan monyet. Selain itu, penyerbukan juga dapat terjadi karena pengaruh angin yang membuat bunga-bunga saling bersentuhan. Dari masa awal, bakal buah dan buah berguguran dalam beberapa tahap dan hanya menyisakan sebagian kecil yang bertahan hingga masak.

Lihat Juga

Kayat

  Kayat adalah sastra lisan yang berkembang dalam masyarakat di Kuantan Singingi, Riau. Secara etimologis, ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *