Beranda / Matabudaya / Kekabu

Kekabu

Buah kekabu mencapai ukuran penuh dalam 30 hari setelah berbunga. Buahnya berbentuk memanjang, kulit buahnya tebal, dan berair. Pada mulanya kulit buah bewarna hijau, lalu menjadi kecoklatan, dan menghitam setelah masak. Kapuk terbentuk antara hari ke 30-70 setelah berbunga. Buahnya kemudian mengering dan sekitar hari ke-80 sudah masak. Pada puncaknya, buah kekabu akan pecah menjadi lima bahagian dari ujung ke pangkal dan melepaskan biji benihnya yang diselimuti dengan kapuk. Meski umumnya pohon kekabu menghasilkan buah dengan kulit yang membuka selama proses pengeringan, sebagian di antaranya menghasilkan buah dengan kulit yang sangat keras sehingga menyulitkan pembukaan.

Biji kekabu bewarna coklat gelap dan dalam setiap buah rerata terdapat 100-an biji yang terbenam dalam serat kapuknya. Biji kekabu mengandung kadar minyak mentah sekitar 22-25% dari beratnya dan menyamai minyak biji kapas. Minyak yang dihasilkan dapat dimakan dan diolah sebagai minyak makan sama halnya dengan minyak dari biji kapas, tetapi sampai saat ini belum diusahakan.

Batang kekabu berupa kayu ringan, seperti kayu pulai, sehingga sering dipakai untuk membuat jung atau hasil pekerjaan tangan lain yang memerlukan bahan kayu ringan. Sistem akar kekabu bercabang halus dan dapat mencapai rentangan hingga10 m, sehingga tahan terhadap kekeringan. Perbanyakan stek dilakukan pada tunas yang diambil dari batang utama yang selalu tumbuh secara vertikal (ortotropi), karena dahannya cenderung tumbuh secara horizontal (plagiotropi). Stek dan batang atas. (SR)

Rujukan:

C. Zeven. 1969. “Kapok tree (Ceiba pentandra (L.) Gaertn)”. Dalam Outlines of perrenial crop breeding in the tropics, Miscelleneous paper 4, hal. 269-287. Belanda: Landbouwhogeschool Wageningen.

R.J. Wilkinson. 1959. A Malay- English Dictionary. London: Macmillan & Co Ltd., 1959.

 

 

 

Lihat Juga

Marsden dan Pantun Melayu (tahun 1812)

Pengantar William Marsden (1754-1836), seorang linguis dan sejarawan Inggris, adalah ilmuwan pioneer untuk kajian Nusantara. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!