Beranda / Matabudaya / Onduo: Timang Anak Orang Rokan

Onduo: Timang Anak Orang Rokan

Pengertian

Onduo adalah istilah untuk nyanyian pengantar tidur anak di lingkungan masyarakat Melayu Rokan, Riau. Sebagian orang setempat menyebutnya lagu “buai anak” atau “timang anak”. Iramanya syahdu dan melenakan, sehingga membuat anak-anak kecil tertidur. Syair-syair (lirik; senikata)-nya pada umumnya bersajak, berisikan nasehat dan tunjuk ajar, serta kerinduan dan kasih sayang. Syair itu bagaikan harapan dan doa untuk anak yang ditimang, yang belum mengerti apa-apa. Syair timang anak itu juga bermanfaat bagi orang lain yang mendengarnya.

Jenis yang sama dengan onduo, dengan penamaan yang berbeda-beda, terdapat dalam kehidupan puak-puak Melayu yang lain, dan hampir semua kebudayaan di dunia.

 

Bentuk, penyajian, dan perkembangannya

Dalam bentuk asalnya, Onduo dilakukan oleh seorang perempuan sewaktu menidurkan anak dalam buaian. Perempuan itu bisa ibu, bisa juga kerabat pengasuh si anak, seperti kakak, nenek, dan makciknya.

Tidak ada keterangan sejak bila Onduo dalam bentuk itu dikenal oleh orang Rokan. Namun dari syair-syairnya yang berisi nasehat, tunjuk ajar, harapan dan doa, Onduo yang ada sekarang mestinya wujud setelah orang Rokan menganut agama Islam.

Onduo tergolong nyanyian pribadi yang diakrabi secara sosial. Oleh karena itu, walau pola dasar atau tema musikalnya sama, namun iramanya selalu bervariasi, tergantung pada pribadi masing-masing penyanyinya. Untaian kata-kata yang dinyanyikan sepenuhnya bersifat lisan, bersumber dari ingatan atau hafalan si penyanyi.

Dalam perkembangan berikutnya, Onduo ditampilkan dalam acara komunal cukuo rambuik (mencukur rambut), yaitu kenduri menggunting rambut bayi, yang dirangkai dengan memberi nama kepada bayi tersebut. Pelakunya kaum ibu, sambil membuai bayi dalam buaian yang dihias sedemikian rupa.

Kemudian, Onduo berkembang menjadi nyanyian mengisi waktu luang, dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Perkembangan ini menyebabkan irama Onduo di masa lalu menjadi makin kaya. Namun, sekarang sebagian sudah jarang terdengar, seiring berkurangnya minat orang Rokan menggunakan Onduo, baik untuk menidurkan anak, maupun untuk mengisi waktu luang. Salah satu irama yang langka itu ialah Onduo Ulakbosa, irama khas yang awalnya dinyanyikan oleh orang di kampung Ulakbosa (di hilir Rantaukopar sekarang).

Akhir-akhir ini Onduo memasuki perkembangan yang baru, terutama di lingkungan masyarakat Melayu Rambah Rokan Hulu, yaitu sebagai seni pertunjukan. Seni pertunjukan ini dikemas oleh Pak Taslim bin Fohom di Pasirpengaraian. Beliau adalah seniman-budayawan Melayu asal Rokan Hulu, yang pada tahun 2014 diberi Anugerah Maestro Seni Tradisi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pak Taslim mengemas pertunjukan Onduo dengan iringan alat-alat musik (seperti gong, gendang bebano, suling, dan celempong), dan dinyanyikan oleh beberapa orang. Onduo ’baru’ ini ditampilkan dalam upacara daur hidup (khususnya kelahiran, khitanan, dan perkawinan) serta acara-acara sosial lainnya. Khusus untuk acara pertunangan, Pak Taslim memperkenalkan pertunjukan Onduo yang disebut ”Timang Pongabisan” (timang penghabisan), yang menandakan akhir dari periode hidup dalam timangan ibu untuk seorang anaknya.

 

Syair-syair

Sebagaimana dikemukakan di atas, syair (senikata) yang dinyanyikan dalam Onduo bersumber dari ingatan si penyanyi. Bagi penyanyi yang mahir, rangkaian kata-kata yang dinyanyikannya, bila dicermati akan nyata membentuk satuan-satuan bait pantun: gugusan empat baris yang secara semantik fungsinya dibelah dua yaitu sampiran (pembayang) dan isi (maksud); keempat baris itu kemudian dipersatukan kembali sekurang-kurangnya oleh persajakan akhir ab-ab.

Contoh 1: sebait Onduo Ulakbosa yang direkam oleh Junaidi Syam (2008), sebagai berikut:

 

  1. Hei…la lo…
  2. kainlo cukin basahan mandi [kainlah cukin basahan mandi]
  3. udah lo mandi dibaok pulang [sesudah mandi dibawa pulang]
  4. tuntut elemu te na nak o…i…ontuk boka mati [tuntut ilmu ‘nak untuk bekal mati]
  5. oto di dunie dibagikan uyang [harta di dunia dibagikan orang]
  6. Allah la illaha ilalah (2x) [Allah la ila ha illallah]

 

Catatan: baris-baris (1) dan (6), pembuka dan penutup satuan musikal (nada dan irama); o…i… pada baris (4) berfungsi sebagai pengisi rentang nada; baris-baris (2) sampai dengan (5) pembentuk pantun.

 

Contoh 2: sebait Onduo untuk pertunjukan Pak Taslim bin Fohom (rekaman Sita Rohana, 2014):

Lihat Juga

Serindit, Selindit

Loriculus galgulus. Lazim disebut sebagai serindit Melayu, jenis burung dalam genus burung serindit (Loriculus). Ukuran ...

Satu komentar

  1. Pingback: Pauh - LAM Riau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *