Beranda / Matabudaya / Seleguri, Sidaguri

Seleguri, Sidaguri

 

Suatu hari, 30 tahun yang lalu (1988), bersama seorang kawan peneliti dari Belanda, saya mengunjungi Khalifah Ganti di madrasah suluk Gesra, dekat Kotatengah Kepenuhan Rokan Hulu. Beliau seorang maestro tradisi lisan Koba yang juga seorang mursyid (guru) amalan-amalan Tariqat Naqshabandiyah. Oleh karena beliau sedang suluk, saya gamang memberitahu tujuan kami. Sebab, pikir-hati saya, suluk dan koba adalah dua dunia yang kontras. Namun, setelah beliau mendesak berkali-kali, dalam gamang yang tak berkurang, saya ucapkan jualah tujuan, yaitu memintanya bukoba. Guru suluk dan maestro tradisi lisan yang ditakdirkan buta sejak lahir itu langsung menanggapi dengan sebuah pantun:

Kelelatu melayang-layang
Terpaut di rumput seleguri
Datang waktu bawa sembahyang
Datang rindu bawa bernyanyi

(Al azhar, 23 Oktober 2018)

Sida rhombifolia. Tumbuhan semak dengan banyak ranting dan berbunga. Warna bunganya kuning pucat pada keempat kelopaknya dan kuning tua di bagian tengah tempat benang sari dan putiknya melekat. Bunganya mekar pada tengah hari dan menguncup sekitar tiga jam kemudian. Akarnya sangat kuat, sehingga sering dipakai untuk dianyam menjadi tali. Seleguri tumbuh liar dan mudah hidup di lahan apapun.

Seorang penulis Indonesia, Sariamin Ismail, sering memakai nama samaran Selasih Seleguri (kadang hanya Selasih atau Seleguri saja).

Seleguri dikenal sebagai herba untuk mengobati diare, disentri, dan rematik. Berdasarkan penelitian, seleguri mengandung antibakteri, antioksidan, dan antiradang. (SR)

 

Rujukan:
Rao S. Kumar dan SH Mishra, “Anti-inflammatory and hepatoprotective activities of Sida rhombifolia Linn.”, Indian Kournal of Pharmacology Vol. 29 Issue 2, hal. 110-116.
Sileshi Woldeyes, Legesse Adane, Yinebeb Tariku, Diriba Muleta, dan Tadesse Begashaw “Evaluation of Antibacterial Activities of Compounds Isolated from Sida rhombofolia Linn. (Malvaceae)”, Natural Products Chemistry & Research Vol. 1 Issue 1, 2012.
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Sariamin_Ismail
http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Sida+rhombifolia

 

Lihat Juga

Marsden dan Pantun Melayu (tahun 1812)

Pengantar William Marsden (1754-1836), seorang linguis dan sejarawan Inggris, adalah ilmuwan pioneer untuk kajian Nusantara. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!