Kayat

 

Kayat adalah sastra lisan yang berkembang dalam masyarakat di Kuantan Singingi, Riau. Secara etimologis, kata “kayat” merupakan pengucapan untuk kata hikayat dalam bahasa Melayu Riau dialek Kuantan.

Kayat disampaikan oleh seseorang yang disebut tukang kayat. Lazimnya, tukang kayat adalah laki-laki, meskipun perempuan pun boleh menjadi tukang kayat. Penyajiannya dapat dilakukan di dalam atau di luar rumah. Waktunya malam hari, dimulai selepas sholat isya dan berakhir menjelang sholat subuh.

Pada mulanya kayat di Kuantan Singingi mendendangkan kisah-kisah nabi dan para pahlawan Islam, seperti Kayat Tangkurak Koriang (Hikayat Tengkorak Kering), Kayat Porang (atau Kayat Hasan dan Husin; mengisahkan peperangan cucu-cucu Rasulullah Muhammad SAW melawan Yazid bin Muawiyah), Kayat Kanak-kanak (berkisah tentang kehidupan anak-anak yang meninggal sebelum baligh, bebas dari dosa, dan dalam kedamaian hidup damai di akhirat mereka mencari, menolong, dan membimbing ibu-bapaknya untuk masuk surga).

Dalam bentuk tradisionalnya, kayat-kayat itu ditampilkan dalam majelis-majelis pengajian, atau sempena perayaan dan upacara keagamaan, seperti pesta perkawinan, syukuran, sunat rasul, dan aqiqah. Bila disajikan dalam perayaan-perayaan, maka pada bagian-bagian tertentu kisahannya, tukang kayat sering menyisipkan pantun-pantun popular untuk menyukakan hati khalayaknya, baik di bagian awal, di masa jeda, atau pada saat-saat penonton mulai jenuh.

Dendang pantun yang semula hanya sisipan itu belakangan berkembang menjadi pertunjukan tersendiri, dengan sebutan ‘kayat pantun’. Popularitas kayat tradisional sebagai peristiwa bercerita dikalahkan oleh ‘kayat baru’ ini, yang sepenuhnya mendendangkan pantun-pantun romantis, bujuk-rayu dan kasih-sayang muda-mudi masa kini (sehingga disebut juga kayat mudo-mudi).

Kayat pantun atau kayat muda-mudi ini dibawakan secara berkelompok yang terdiri dari dua sampai lima orang. Pemimpinnya adalah tukang kayat yang dianggap paling senior. Penyajiannya biasanya diiringi dengan alat musik gondang (gendang) dan biola, namun sekarang ada juga yang memakai alat musik salung.

Pertunjukan utuh kayat popular ini menampilkan beragam pantun dengan dengan dua masa jeda atau rehat bagi tukang kayat. Jeda pertama untuk menukar lagu dengan memperlambat bunyi alat musik, tergantung pada jumlah pantun dan respon penonton. Jeda kedua untuk istirahat kira-kira 20 menit, memberi waktu bagi tukang kayat dan rekan-rekannya merokok, atau makan makanan kecil sambil berbincang-bincang dengan khalayak yang duduk di dekat panggung.

Pertunjukan kayat diawali dengan jamuan makan. Kesempatan itu juga digunakan oleh tuan rumah untuk beramah-tamah dengan tetamu. Setelah sholat Isya, tukang kayat dan kelompoknya mulai mendendangkan pantun-pantun diiringi musik. Pantun-pantun romantis itu didendangkan secara bergantian, bisa dalam pola berbalas pantun yang utuh, bisa juga salah seorang membawakan baris-baris sampiran dan yang lainnya menyambung dengan baris-baris isi. Musik bersama lirik-lirik nyanyian itu merangsang keterlibatan khalayak. Adakalanya tukang kayat juga mendendangkan pantun-pantun jenaka, menyindir khalayak tertentu, melengkapi gambaran romantisme kehidupan muda-mudi. Maka, sering setelah satu pantun didendangkan, khalayak menanggapi dengan sorak-sorai sehingga suasana pertunjukan menjadi hangat, akrab, dan riang gembira.

(Sita Rohana/ Al Azhar)

Rujukan:
UU Hamidy, Masyarakat Adat Kuantan Singingi, Pekanbaru: UIR Press 2000.
Yasrizal Indri, Bentuk dan Pertunjukan Kayat dalam Kehidupan Masyarakat Rantau Kuantan, Skripsi S.1 FKIP UIR, Pekanbaru, 1992.
Lesti Efrianis, Bentuk dan Fungsi Sastra Lisan Kayat Pantun Kampung Baru Toar Kuantan Singingi, skripsi S.1 FKIP Unri, Pekanbaru, 2002.
Diah Zainudin, dkk., Tradisi Lisan Melayu Riau, Jakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Melayu Riau, Depdikbud, 1987.
Diah Zainudin, dkk., Kayat dan Koba dalam Tradisi Lisan Melayu Riau. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Melayu Riau, Depdikbud, 1986/7.
Ramadhani Netri, Nilai-nilai Budaya Dan Fungsi Kayat Kanak-kanak di Kecamatan Pangean Kabupaten Kuantan Singingi, skripsi S.1 FKIP Unri, Pekanbaru, 2005.

Lihat Juga

Gambus Selodang

Gambus adalah salah satu alat musik chordophone (bunyi yang dihasilkan oleh dawai), yang dibunyikan dengan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *