Beranda / Matabudaya / Gondang Borogong

Gondang Borogong

(Foto: Junaidi Syam)

Gondang borogong (gendang bergong) adalah kesenian Rokan Hulu yang menggunakan alat musik gendang, gong, dan calempong, sehingga juga disebut sebagai gondang colempong (gendang calempong).

Gondang borogong menggunakan dua gendang yaitu, gondang polalu (gendang pelagu), dan gondang poningkah (gendang peningkah). Kedua gondang sama bentuk dan ukurannya, perbedaan terletak pada nada yang dihasilkan, gondang poningkah lebih rendah nadanya. Tinggi rendah nada ditentukan oleh ketebalan dan jenis kulit  yang dipakai untuk muka gendang, serta peregangan kulitnya.

Gendang dimainkan menggunakan satu pemukul yang terbuat dari rotan sogo (rotan saga), sedangkan sisi lainnya dipukul dengan jari atau telapak tangan. Biasanya sisi yang dipukul dengan rotan adalah muka gendang di sebelah kanan. Gaya memainkan gendang ada tujuh cara: gondang botindieh lutuik (gendang bertindih lutut, dengan ditindih kedua lutut), tindieh bosonangsonang (tindih bersenang-senang, gendang ditimpa dengan lipatan lutut kiri dan kaki kanan atau dilipat berdiri), tindieh bosonang-sonang duo kaki (tindih bersenang-senang dua kaki, gendang ditimpa dengan kedua lipatan lutut), bokapik (diapit, gendang diapit dengan kaki), bopangku (berpangku, gendang dipangku di atas paha), bolabak ateh tanah (diletak di atas tanah, pemukul gendang duduk mencangkung), bodiri (berdiri, gendang dipukul sambil berdiri, tali gendang disangkutkan dipinggang atau digantung di kuduk).

(Foto: Junaidi Syam)

Celempong adalah alat musik pukul terbuat dari campuran besi, tembaga, perunggu, suasa, emas, dan timah yang dituang ke dalam cetakan. Kadar timah putih dan besi dalam campuran tembaga mempengaruhi lengkingan dan dentangan suara colempong. Bentuk fisik colempong terdiri pusek (pusat), bahu, badan, dan muluik (mulut). Pengaturan nada terletak pada ketebalan pusek colempong. Satu rangkaian celempong terdiri dari enam buah celempong dengan rupa suara (nada) yang berbeda. Keenam colempong tersebut disusun pada rurumah colempong (rumah calempong) yang kerangkanya terbuat dari kayu dan penahannya berupa dua helai tali atau rotan. Di atas bentangan tali atau rotan tersebut keenam colempong diletakkan. Seperangkat colempong dengan rurumah disebut dengan istilah sorawan (satu rawan).

Pemain colempong disebut tukang colempong atau tukang logu (tukang lagu) atau tukang polalu (tukang pelagu). Tukang colempong selalu didampingi oleh tukang tingkah, yang meningkah alunan suara lagu colempong. Bila hanya ada seorang tukang tingkah, ia akan berada di sisi kanan tukang colempong. Tapi bila ada dua orang tukang tingkah, maka keduanya berada di hadapan tukang logu.

Colempong ditokok/ dipukul dengan kayu ponukuo (pemukul) sepanjang satu jengkal yang terbuat dari kayu basong yakni kayu berserat halus dan ringan semisal kayu jelutung, pulai, nilam, mahang, atau terap. Memainkan colempong dapat diiringi ogong (gong) atau tetawak. Bentuk ogong serupa colempong dengan ukuran lebih besar, yang digantungkan pada palang kayu berkaki.

Gondang borogong biasa dimainkan untuk mengiringi silat gelanggang dan silat pengantin. (Sita Rohana)

 

Rujukan:

Junaidi Syam (Rokan Hulu), Taslim F. Fohom Dt. Mogek (Rokan Hulu), Rohani (Rokan Hulu)

Lihat Juga

Marsden dan Pantun Melayu (tahun 1812)

Pengantar William Marsden (1754-1836), seorang linguis dan sejarawan Inggris, adalah ilmuwan pioneer untuk kajian Nusantara. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!