Beranda / Telaah / Dari Bintan ke Bintan
Peta Bintan

Dari Bintan ke Bintan

/1/

AKHIRNYA, kawan saya Abdul Wahab, mengawali kisah ini dengan menunjukkan kenyataan bahwa pulau Bintan menjadi tempat timang- timangan Melayu klasik sampai modern. Tak puas dia hanya mengatakan bahwa dari sinilah sosok militer tangguh dengan darah sastra melimpah- ruah, seperti tertuang dalam satu wadah. Tak lupa pula tentang tempat penulisan “Hikayat Hang Tuah” yang gemilang, tentu saja asal-usul Hang Tuah, yang serba dalam tarik-menarik dari satu kesan ke kesan lain. Singkat cerita, Bintan umpama sampiran dalam pantun yang brilian.

Cobalah, tulis Wahab melalui pesan pendek jasa komunikasi kepada saya, sedikit berkilas balik melalui pertanyaan pasal apa Sang Sapurba dan Demang Lebar Daun, memilih Bintan sebagai perhentian suatu ekspedisi setelah Sriwijaya yang didirikan dari Muara Takus, memudar di Palembang pada abad ke-14. Beberapa kawasan telah mereka lewati untuk memenuhi keinginan Sang Sapurba bergelar Tribuana untuk melihat laut. Cuma waktu itu, Bintan sudah menjadi pusat suatu pemerintahan, dipimpin seorang janda Sukandar Syah, setelah suaminya meninggal dunia. Perempuan ini memiliki seorang anak gadis cantik jelita, hasil perkawinannya dengan sang raja, bernama Wan Seri Bini yang kemudian dinikahkan dengan anak Sang Sapurba, Nila Utama. (Ahmat Adam, “Sulalatu’s-Salatin”, 2016).

Dari Bintan, Sang Sapurba dan Demang Lebar Daun yang juga dikenal memiliki hubungan karena perkawinan yakni menantu – mertua, menelusuri Sungai Inderagiri/ Kuantan. Mereka mengangkat raja Pagaruyung, sementara Nila Utama menemukan sebuah pulau berpasir putih yang disebut ujung tanah atau Tumasik. Gabungan rombongan Sang Sapurba dan Nila Utama di Bintan, kelak subur di tanah Semenanjung; membangun Tumasik yang kemudian dikenal dengan Singapura, kemudian juga perkasa di dada Melaka.

Dialahkan Portugis 1512, Bintan kembali menjadi tumpuan Kemaharajaan Melayu sebelum akhirnya terdesak ke Kampar. Tapi tak lama kemudian, Bintan telah memegang peranan dengan perwujudan Johor – Riau atau Riau – Johor pada abad ke-16, lalu cukup paham pula dengan kehadiran Siak 1723. Dari Bintan juga Belanda diusir sampai ke Melaka dalam perang laut 1782-1784.

Dalam sejarah baru, Bintan tak kurang menampilkan sampiran. Tanjungpinang di pulau ini menjadi ibu kota Provinsi Riau 1958, kemudian harus berpuas hati menjadi ibukota kabupaten Kepulauan Riau setelah ibu kota Riau dipindahkan ke Pekanbaru tahun 1960 (Mukhtar Lutfi, “Sejarah Riau”, 1977). Tapi ibu kota provinsi kembali berada di pundak Tanjungpinang di pulau Bintan setelah kabupaten Kepulauan Riau menjadi provinsi, berpisah dengan Riau tahun 2002.

/2/

DALAM posisi semacam itu Bintan tak cukup menjadi tapak kejayaan sekaligus keruntuhan, tetapi juga mempersembahkan anak-anak watan yang menjulang. Hang Tuah asal Bintan, dijemput dengan kekerasan untuk menemui ajalnya saat dia sedang liburan bersama keluarga di hulu sungai Melaka, tanpa usul periksa meski ia sudah berjasa besar untuk kerajaan. Hang Jebat, kawan seperjuangannya sejak dari Bintan, menggantikan posisi Hang Tuah sebagai Laksamana. Duh, justeru panggung cerita memposisikan keduanya saling tikam untuk menuju kematian masing-masing (Kassim Ahmad, “Hikayat Hang Tuah”, 1997).

Saya seperti juga Wahab berhari-hari tak dapat melupakan pesan Jebat kepada Tuah saat sakratulmaut sebagaimana dikisahkan dalam “Hikayat Hang Tuah”. Dia mengaku begitu banyak berhubungan dengan perempuan tapi hanya dengan seorang dayang, Dang Baru, memiliki makna khusus. Perempuan itu sedang mengandung tujuh bulan, hasil hubungan badan dengannya. Jebat minta tolong Tuah memelihara anak itu kelak: jadikan askar yang mengawal Hang Tuah, kalau anak itu lelaki.

“Adapun diperhamba bermukah dengan Dang Baru, dayang-dayang Datuk Bendahara, maka sekarang ia bunting tujuh bulan. Jika ia beranak laki-laki, mbil oleh orang kaya peliharaan jadikan hamba, mana perintah orang kaya. Itulah pesan diperhamba.” Maka Laksamana pun berkata, “Baiklah, insya Allah Taala, anak saudaraku itu anaklah kepada hamba (ibid).

Setelah Jebat terbunuh, tiga hari Hang Tuah tidak keluar rumah yang tak dapat ditegur oleh sesiapa pun termasuk oleh Sultan Melaka. Tak diperoleh informasi, bagaimana sikap Hang Tuah, ketika jasad Hang Jebat digantung di pinggir jalan berhari-hari. Pun sikap kawan-kawan lain termasuk Hang Lekir, Hang Lekiu, dan Hang Kasturi. Barangkali seperti dikatakan Hang Tuah, kesalahan Jebat terlalu besar yakni makar dan membunuh ribuan orang yang tak berdosa. Duh ..

Lihat Juga

Ungkapan Tradisional Melayu Riau (karya Tenas Effendy)

  Bismillahi r-Rahmani r-Rahim. Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh. Karya Tenas Effendy mengenai ungkapan Melayu ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!