Beranda / Syahdan / Petuah Amanah LAMR, Sempena penabalan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau sebagai Setia Amanah dan Timbalan Setia Amanah Masyarakat Adat Melayu Riau

Petuah Amanah LAMR, Sempena penabalan Gubernur dan Wakil Gubernur Riau sebagai Setia Amanah dan Timbalan Setia Amanah Masyarakat Adat Melayu Riau

Dengan suasana kejiwaan yang seperti itu, dapat dipahami –walaupun terasa kurang adil– bila pemimpin lebih sering dijadikan ‘tumpuan arus’, dan dipandang serta diperlakukan layaknya teluk timbunan kapar: tempat berlabuh semua masalah (sampah-sarap dan reruntuhan kayu-kayan yang dibawa arus beserta dahan dan rerantingnya yang canggah-bercanggah); atau tanjung pumpunan angin: hala-tuju semua anggapan dan umpat-puji. Rasanya tak ada petuah terbaik untuk menghadapi itu selain memperteguh sifat ikhlas dan rela berkorban (yaitu salah satu sifat terpuji Melayu sejati) dalam mengemban amanah.

Majelis ini pada umumnya, Lembaga Adat Melayu Riau khususnya, percaya Datuk Seri berdua siap lahir-batin memikul beban yang tidak ringan itu. Kepercayaan itu, misalnya, tercermin dari kenyataan cepatnya proses permufakatan yang berlangsung di LAMR menuju majelis penabalan ini.

LAMR mengawali proses penabalan ini pada minggu pertama bulan April 2019. Seminggu kemudian, 10 April 2019, atau kurang dari dua bulan setelah Datuk Seri berdua dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Riau, mufakat bulat sudah didapat: jika Datuk Seri berdua sepakat, maka majelis penabalan dilaksanakan sesudah Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriyah, sempena peringatan Milad ke-49 LAMR. Alhamdulillah, Datuk Seri berdua sepakat. Untuk itu, izinkan Lembaga Adat Melayu Riau menyampaikan setinggi-tinggi penghargaan dan terima kasih atas sambutan baik dan kesediaan Datuk Seri menerima hasil mufakat tersebut. Alhamdulillah, tak ada pula aral melintang dan onak yang menjuntai, sehingga kita tiba di majelis penabalan ini.

Jemputan majelis yang terhormat
Kepercayaan LAMR menjadi semakin tebal setelah menyimak ucap-sambut yang baru saja Datuk Seri sampaikan di majelis ini, yang menegaskan kepemimpinan Qur’ani sebagai tumpuan Datuk Seri berdua dalam menjalankan amanah rakyat negeri ini.

Ketua Umum DPH LAMR, Datuk Seri Syahril Abubakar, dalam “Elu-eluan” beliau tadi mengemukakan pertimbangan bernas mengapa LAMR bersegera melaksanakan penabalan ini. Adat kita memang mengamanatkan: kerja yang baik, dipercepat. Ihwal kepatutan, LAMR juga menggaris-bawahi ketunakan, istiqomah atau konsistensi yang tercermin dari rekam-jejak kepemimpinan Datuk Seri H. Syamsuar dan Datuk Seri H. Edi Natar Nasution sebelum mencalonkan diri sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Riau, serta iltizam (komitmen) dan keberpihakan yang mereka umumkan semasa sosialisasi, kampanye, di masa-masa sebelum dilantik, dan sesudah resmi dilantik.

Tunak dan istiqomah adalah bahasa lain dari kesetiaan, yang berakar pada kesesuaian kata dengan perbuatan, sebagaimana tuntunan adat untuk pemimpin yang baik dan benar: putih di luar, putih di dalam – hitam di luar, hitam di dalam – pepat di luar, pepat di dalam – runcing di luar, runcing di dalam.

Sesudah dilantik, mereka berdua memulai hal baru dalam peralihan kepemimpinan di Riau, yaitu mengumumkan janji 100 hari kerja setelah dilantik. Ketika kesepakatan diputuskan pada tanggal 10 April 2019, atau baru sekitar 50 hari setelah mereka dilantik, kerja-kerja menunaikan janji 100 hari itu terlihat dilaksanakan sungguh-sungguh, walau tidak jarang terhambat oleh kelambanan dan budaya kerja sebagian pejabat teknis warisan ‘masa lalu’.

Patut dicatat: dalam diskusi evaluasi agenda 100 hari kerja Gubernur dan Wakil Gubernur Riau yang diselenggarakan oleh LSM Jikalahari (Jumat 5 Juli 2019), pembicara dan peserta diskusi sepakat menyatakan bahwa pasangan pemimpin Riau ini sudah memenuhi seluruh janjinya. Bahkan, melampaui janjinya, mereka juga sudah melangkah memasuki agenda penanggulangan abrasi di pulau-pulau terdepan kita, seperti di Pulau Bengkalis dan Pulau Rangsang.

Istiqomah dengan aturan yang ada juga ditularkan kepada ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau. Dalam hal menegakkan aturan berpakaian Melayu, misalnya. Tentu saja, agenda pemajuan adat-budaya di negeri ini bukan hanya perkara tertib dan adab berpakaian Melayu. Namun LAMR berterima kasih kepada pasangan pemimpin ini atas penegakan aturan itu, karena lebih dari soal tertib dan adab berpakaian Melayu, ketegasan kedua pemimpin ini bagi LAMR merupakan bagian dari pembentuk watak menaati aturan sebagai cermin orang (-orang) yang memegang amanah.

Jemputan majelis yang terhormat
Menutup “Petuah Amanah” ini, izinkan kami menitipkan beberapa agenda yang dalam pandangan kami merupakan bagian dari upaya-upaya pemulihan martabat adat dan masyarakat pendukungnya, serta kemajuan budaya dan peradaban di negeri ini.

Lihat Juga

Anugerah Kebudayaan Kemendikbud untuk Almarhum H. Tenas Effendy

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI memberi Anugerah Kebudayaan kepada budayawan alam Melayu, Alm. H. Tenas ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!