Beranda / Syahdan / Petuah Amanah Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat LAMR dalam Majelis Penabalan Gelar Kehormatan Adat kepada YM Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo

Petuah Amanah Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat LAMR dalam Majelis Penabalan Gelar Kehormatan Adat kepada YM Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo

 

Bismillahi r-Rahmani r-Rahim. Assalamu’alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Bersyukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan ucapan Alhamdulillahi Rabbi l-‘Alamiin. Bershalawat kita kepada Rasulullahi Shallallahu Alaihi wa Sallam, dengan ucapan Allahumma Shalli ‘Ala Saiyidina Muhammad, wa ‘Ala ‘Ali Saiyidina Muhammad.

Yang Mulia Presiden Republik Indonesia, Datuk Seri Setia Amanah Negara, Ir. H. Joko Widodo.

Yang amat berhormat, Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian LAMR, para Menteri Kabinet Kerja, para pimpinan lembaga dan pejabat tinggi Negara Republik Indonesia, Gubernur Riau, Ketua dan Anggota DPRD Riau, Forkompimda Riau, para Bupati dan Walikota se-Provinsi Riau.

Yang mulia, para Sultan, pimpinan Kerabat Kerajaan, para pimpinan lembaga dan pucuk adat, alim-ulama, cerdik-cendekia.

Jemputan majelis yang dimuliakan Allah, yang besar tak dihimbau gelar, yang kecil tak disebut nama, yang berhimpun pepat di majelis ini.

Di dalam adat Melayu, pemimpin diibaratkan sebagai “pohon besar di tengah padang”: dari jauh mula nampak, dari dekat mula bersua, ke atas ia berpucuk, di tengah ia berbatang, di bawah berakar-tunggang; rimbun daunnya tempat berteduh, kuat dahannya tempat bergantung, besar batangnya tempat bersandar, kokoh akarnya tempat bersila, tempat beramu besar dan kecil, tempat kusut diselesaikan, tempat keruh dijernihkan, tempat sengketa disudahkan, tempat syara’ didirikan, tempat hukum dijalankan, tempat adat ditegakkan, tempat lembaga dituang, tempat undang diundangkan. Diungkapkan juga bahwa pemimpin itu “bagaikan tanjung pumpunan angin, bagaikan teluk timbunan kapar, bagaikan pucuk jala pumpunan tali, bagaikan kemuncak payung panji.

Dengan takrif simbolik seperti itu, pemimpin dalam ingatan kolektif kaum, puak, suku, dan bangsa berperan nyata sebagai: (1) pemberi kata putus: yang genting diputuskannya, yang membiang ditembukkannya, yang bulat digolekkannya, yang pipih dilayangkannya; (2) pemberi keadilan: menimbang sama berat, menyukat sama pepat, mengukur sama panjang, menakar sama penuh, menyimpul sama mati, menyimpai sama kuat, mengikat sama kokoh; (3) memperbaiki: yang berbongkol ditarahnya, yang kesat diampelasnya, yang menjungkat diratakannya, yang miang dikikisnya, yang melintang diluruskannya, yang menyalah dibetulkannya, yang tidur dijagakannya, yang lupa diingatkannya, yang sesat dirunutkannya, yang hilang disawangnya, yang menjemput sekali tiba, yang mengantar sekali sampai, yang menggantung tinggi-tinggi, yang membuang jauh-jauh, yang menanam dalam-dalam.

Dalam adat budaya Melayu pula, kehidupan berbangsa dan bernegara diibaratkan sebagai pelayaran sebuah kapal, di Riau disebut Lancang Kuning. Pemimpinnya adalah nakhoda, melayarkan kapal menuju pantai cita-cita. Kepiawaian pemimpin—sang  nakhoda—sangat menentukan keselamatan dan keberhasilan pelayaran itu. Kita di Riau merekamkan ingatan kolektif pemimpin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini melalui syair lagu Lancang Kuning: Lancang Kuning berlayar malam – Haluan menuju ke laut dalam – Kalau nakhoda kuranglah faham – Alamat kapal akan tenggelam // Lancang Kuning menentang badai – Tali kemudi berpilin tiga – Selamat kapal menuju pantai – Pelaut pulang dengan gembira.

Tali kemudi berpilin tiga adalah pemerintah, ulama, dan adat, yang pilinan, jalinan, atau kesepakatan ketiganya menjadi kuasa penentu menghadapi badai dalam pelayaran, sehingga kapal selamat sampai di pantai harapan.

 

Yang Mulia Datuk Seri Setia Amanah Negara Presiden Republik Indonesia. Hadirin-hadirat yang terhormat.

Dari kiasibarat sarat pesan di atas, dalam kesempatan yang langka ini, izinkan kami menyambung lidah masyarakat Riau, terutama masyarakat adat Melayu Riau, untuk menyampaikan harapan-harapan yang menjelma dari kehidupan masa lalu dan masa kini kami di bumi Lancang Kuning ini. Sebagai pewaris turun-temurun bumi Riau ini, kami berharap agar segenap kebijakan dan keputusan yang ditetapkan di bidang-bidang pertanahan, pertambangan, lingkungan hidup, dan kehutanan, serta pembangunan infrastruktur untuk Provinsi Riau senantiasa mempertimbangkan nilai-nilai adat dan kearifan setempat, dengan hala-tuju meningkatkan dan mengangkat harkat-martabat anak-anak negeri secara berkelanjutan.

Harus diakui bahwa di masa lampau aksesibilitas dan penglibatan masyarakat adat terhadap kegiatan-kegiatan pembangunan di negeri ini amatlah terbatas. Hutan, tanah, sungai, suak, tasik, laut, dan pulau-pulau di negeri ini selama berabad-abad dipelihara oleh masyarakat adat sebagai ruang kehidupan (lebensraum), dengan fungsi yang utuh yaitu sebagai simbol marwah, sebagai sumber dinamika budaya dan peradaban, serta sumber nafkah. Namun, sejak tahun 1970-an, fungsi yang utuh itu oleh negara direduksi hanya sebagai tempat (place) untuk eksploitasi keekonomian belaka. Akibatnya, masyarakat adat kami tercecer dan terpinggir bersama nilai-nilai inti dan kearifannya.

Lihat Juga

Sekitar Penghargaan Ingatan Budi

  Tak berlebihan dikatakan bahwa kata “budi” menempati suatu wilayah yang istimewa dalam khazanah Melayu ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!