Beranda / Telaah / Penangkapan Terubuk – J. S. G. Gramberg

Penangkapan Terubuk – J. S. G. Gramberg

Sebelum menutup bab ini, penulis ingin membuat komentar yang lain, sebagai berikut. Pengusahaan telur terubuk dan ikan kering ini hampir seluruhnya dikerjakan oleh penduduk Hindia Belanda. Namun, perdagangannya berada di tangan asing, yaitu dari pembeli Cina di Singapura. Mereka mengatur harga pasar dan karena itu menarik keuntungan terbesar. Patut disayangkan bahwa hingga saat ini belum ada upaya nyata dari penduduk setempat untuk menguasai perdagangan itu; sesuatu yang tetap akan mustahil jika tanpa semangat kewirausahaan dan ketekunan.

 

(Pengantar dan terjemahan: Al azhar)

 

 

1 J. S. G. Gramberg adalah salah seorang pegawai pemerintah kolonial Hindia-Belanda yang pernah bertugas sebagai Sekretaris Residensi Sumatra Timur di Bengkalis, kemudian dipindahkan ke distrik Lampung, dengan jabatan yang sama. Rangkaian tulisannya mengenai ikan terubuk ini diterbitkan setelah ia pindah ke Lampung.

2 Lihat: Meyners d’Estrey (1891), “La pêche au Troubouk” [Perikanan Terubuk], dalam jurnal ilmiah berbahasa Prancis, Revue des Sciences Naturelles Appliquēes [Jurnal Ilmu Pengetahuan Alam Terapan]; Versailles: halaman 500-502.

3 Dr. G. A. Wilken (1893), Handleiding voor de Vergelijkende Volkenkunde van Nederlansch-Indië [Panduan Etnologi Perbandingan Hindia-Belanda], khususnya Bab ke-25, “Vereering der geesten” [ Pemujaan Roh]; Leiden: E. J. Brill, halaman 563-586.

4 G. N. Verloop (1903), artikel berjudul “De Telor – Troeboek” [Telur Terubuk], dalam koran Soerabaiasch Handelsblad [Surat kabar Orang Surabaya], edisi 6 Desember 1903, lembaran kedua, halaman 5 kolom 1.

5 T. J. Bezemer (1906), Door Nederlandsch Oost-Indië Schetsen van Land en Volk [Sketsa-sketsa Tanah dan Orang Hindia Timur Belanda]; Groningen: J. B. Wolters, halaman 455.

6 NN (1907), artikel bertajuk “Het Eiland Bengkalis: bijdragen tot de kennis van land en volk” [Pulau Bengkalis: sumbangan pengetahuan tentang tanah dan orang-orangnya], dalam koran Bataviaasch Nieuwsblad [Surat kabar Orang Batavia], edisi 21 Agustus 1907, lembaran kedua, halaman 5 kolom 2-3.

7 NN (1928), artikel bertajuk “Bezweringfeesten op Bengkalis: voor de rijsttafel” [Upacara Semah di Bengkalis: untuk meja makan], dalam koran De Telegraaf, edisi 19 September 1928, lembaran ketiga.

8 W.H. Ridderhof (1934), artikel bertajuk “Indische Schetsen” [Sketsa-sketsa Hindia] dalam Nieuwe Apeldoornsche Courant [Koran Orang Apeldoorn Baru], edisi 19 November 1934, halaman 8.

9 Dr. ALB. C. Kruyt (1938), “Schommelen in de Indische Archipel” [Berbuai di Kepulauan Hindia] dalam jurnal Bijdragen de Taal-, Land- en Volkenkunde [Sumbangan Bahasa, Tanah, dan Antropologi; disingkat BKI], jilid 97; Leiden: KITLV, halaman 363-424.

10 G. L Koster (1997), Roaming through Seduchtive Gardens [Mengembara di Taman-taman yang Menggoda], Leiden: KITLV Press.

11 Timothy P. Barnard (2003), Multiple Centres of Authority: society and environment in Siak and Eastern Sumatra, 1674-1827 [Pusat-pusat Kekuasaan Ganda: masyarakat dan lingkungan di Siak dan Sumatera Timur, 1674-1827], Leiden: KITLV Press.

12 Lihat Anderson (1823), Mission to the East-Coast Sumatra.

13 Bahasa Inggris: tannin, istilah kimia, yaitu kumpulan senyawa organik amorf yang bersifat asam dengan rasa sepat, ditemukan dalam banyak tumbuhan, dan digunakan sebagai bahan penyamak kulit, pencelup jaring atau jala atau layar agar lebih tahan terhadap air laut, pembuatan tinta, serta pewarna. (Lihat, antara lain: Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Lihat Juga

Kedaulatan Masyarakat Hukum Adat Di Propinsi Riau Sebagai Upaya Pengelolaan Alam Yang Lestari Menghadapi Tantangan Pasca Pendemi Covid-19

Materi ini dipaparkan oleh Mardhiansyah, S.Hut., M.Sc., IPU. Dosen Jur.Kehutanan FP UNRI dan Pengurus MKA LAMR pada ...

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!