Beranda / Telaah / Penangkapan Terubuk – J. S. G. Gramberg

Penangkapan Terubuk – J. S. G. Gramberg

Terubuk memiliki panjang rata-rata 45 sentimeter dan banyak kesamaannya dengan shad di Eropa. Rasa ikan ini cukup lezat; namun, karena dipenuhi tulang-tulang halus, hidangan itu kurang menyenangkan bagi banyak orang. Oleh karena itu, harga ikan terubuk tanpa telur jauh lebih rendah daripada yang ada telurnya; dan orang menangkapnya terutama untuk mendapatkan telurnya itu. Telur ikan terubuk digemari di seluruh kepulauan, sedangkan ikannya tidak.

Masa-masa penangkapan terbagi dalam dua musim: disebut bintang kena atau musim besar, dan bintang kaus atau musim langka. Musim yang pertama berlangsung pada bulan-bulan September, Oktober dan November; sedangkan yang kedua pada bulan-bulan Februari, Maret dan April. Namun, pembagian musim penangkapan itu tidak selalu berlaku ketat dan pasti, sebagaimana halnya musim hujan; dan perolehan hasil satu tahun bisa lebih banyak dibanding tahun yang lain. Pada tahun 1823, Anderson telah memperkirakan sekitar 14-15 juta hasil tangkapan ikan terubuk per tahun;12 dan sekarang, diasumsikan antara 7 sampai 8 juta ekor.

Ada sekitar 500 kapal digunakan untuk aktivitas perikanan terubuk. Kapal-kapal seperti itu – disebut sampan pemukat – dikelola oleh empat orang dan harganya sekitar 60 gulden. Jaring yang digunakan berbentuk pukat atau arau, biasanya memiliki panjang 36 atau 42 depa. Biaya bersih yang dikeluarkan nelayan untuk satu set jaring seperti itu lebih-kurang 180 gulden. Jaring-jaring itu disamak (dicelup) dengan baik. Untuk itu, mereka menggunakan kulit tengga, kulit sejenis pohon yang banyak terdapat di daerah itu dan diekspor ke tempat lain dalam jumlah yang relatif besar untuk tanin.13 Seseorang yang ingin melakukan usaha penangkapan ikan ini memerlukan modal sekitar 250 gulden, selain beberapa pengeluaran kecil-kecil untuk perawatan rutin peralatan, dan bayaran untuk tiga pembantunya dalam bentuk uang tunai, ataupun dalam bentuk bagi-hasil tangkapan.

Jumlah terbanyak tangkapan ikan terubuk selama musim bintang kena diperkirakan 1.000 ekor per kapal. Sesekali hasil tangkapan melebihi itu, mencapai 1.500 dan 2.000 ekor, tapi ini jarang terjadi. Hasil tangkapan di musim bintang kaus jauh lebih kecil. Beberapa kapal terkadang hanya membawa sekitar 40 sampai 50 ekor ikan, bahkan kurang. Setiap perjalanan penangkapan berlangsung selama tiga hari.

Sepanjang musim bintang kaus, spesies ikan yang lain, tenggiri, cukup sering muncul di Selat Bengkalis dan sekitarnya, dan hasil tangkapannya, baik yang segar maupun yang kering, memberikan kelonggaran bagi nelayan di masa-masa sepi ikan terubuk. Tenggiri memiliki banyak kesamaan dengan beniter dari samudera, tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil, dengan panjang 50, 60, hingga 65 cm.

Dari 1.000 ekor terubuk, 300 ekor biasanya rusak atau terlalu kecil. Ini digunakan untuk konsumsi sendiri, dan selebihnya dibuang atau diberikan kepada tukang kebun Cina untuk memupuk tanah. Jadi, dari tiga hari melaut, hanya 700 ekor ikan kering yang dijual. Andaikata 1.000 ekor ikan memberi 800 telur terubuk, yang 500 adalah jenis pertama, dan 300 jenis kedua. Jenis pertama hanya perlu diberi garam sekali, disebut telur tawar; jenis yang kedua diberi garam dua kali, disebut telur masin.

Terubuk segar tanpa telur, kalau dibeli langsung dari nelayan di Bengkalis, seharga 4 gulden per 100 ekor; dengan telur 8 gulden. Telur jenis yang pertama seharga 5 gulden per 100, dan jenis kedua setengahnya.

Di tangan kedua, yaitu harga telur terubuk yang dikirim oleh pembeli dari tangan pertama ke Singapura, sudah naik dari 5 gulden menjadi 8 gulden untuk 100 buah; jenis ke-2 dan ikan kering secara proporsional sebanding dengan harga itu. Di Bukitbatu, di sebelah Selat Bengkalis, harga di tangan pertama biasanya sedikit lebih rendah. Di sana, harga untuk 100 ekor terubuk bertelur 6,5 sampai 7 gulden; sedangkan 100 ekor ikan kering seharga 3,50 gulden.

Di Bengkalis dan Bukitbatu hampir seluruhnya menangkap ikan dan dengan demikian menjadi usaha yang efektif. Banyak atau sedikitnya hasil tangkapan, tergantung pada tinggi atau tidaknya keaktifan orang.

Namun, semua kegiatan yang dilakukan pribumi dan Cina ini, ketika banyak ikan ditangkap, sementara waktu menimbulkan ketidaknyamanan yang cukup besar bagi penduduk lainnya. Pengasinan ribuan telur dan pengeringan ratusan ribu ikan itu menyebarkan bau yang tidak menyenangkan, sehingga sangat sulit bagi siapa pun untuk menahan tiupan angin kencang dari tempat pengeringan ikan itu. Akan tetapi, dapat dikatakan bahwa serangan bau ikan ini secara umum tidak berpengaruh banyak terhadap kondisi kesehatan.

Lihat Juga

Kedaulatan Masyarakat Hukum Adat Di Propinsi Riau Sebagai Upaya Pengelolaan Alam Yang Lestari Menghadapi Tantangan Pasca Pendemi Covid-19

Materi ini dipaparkan oleh Mardhiansyah, S.Hut., M.Sc., IPU. Dosen Jur.Kehutanan FP UNRI dan Pengurus MKA LAMR pada ...

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!