Beranda / Kampung Halaman / Ulakkembahang
Ulakkembahang (Foto: Junaidi Syam)

Ulakkembahang

Bagikan

Kampung ini terletak di tepi aliran Sungai Rokan Kanan, tepatnya di hilir Kualo Ayieitam, di mudik Labuhandagang. Konon, di tempat tersebut dahulunya terdapat sebuah ulak (teluk yang airnya berputar) berukuran besar. Ulak tersebut banyak ditumbuhi kembahang, sehingga kemudian tempat ini dinamai Ulakkembahang. Satu ketika ada orang yang membuat terusan sehingga alur Sungai Rokan berubah dan ulak tersebut menjadi danau. Ulakkembahang tumbuh menjadi kampung dan masuk di dalam wilayah Rantaubonuang (Kerajaan Tambusai paska insiden Dalu-dalu). Sekembalinya Kerajaan Tambusai ke Dalu-dalu, Rantaubonuang kembali diurus oleh Raja Kepenuhan dan Ulakkembahang menjadi bagian dari Kerajaan Kepenuhan.

Pada tahun 1914 ditegakkanlah seorang Penghulu di Ulakkembahang. Meskipun berada di wilayah Kerajaan Kepenuhan, namun penghulu pertama, Lahamid, melihat Siak sebagai penguasa yang lebih berpengaruh dibandingkan Kepenuhan, sehingga ia pun meminta pengesahan atas kedudukannya sebagai penghulu Ulakkembahang kepada Sultan Siak.

Pongulu Lawa menjelaskan, akhir tahun 1948 masih banyak perahu-perahu layar berbagai ukuran masuk dari laut ke Ulakkembahang, terdiri dari kapal atau tongkang bermuatan 20 ton, 40 ton bahkan 70 ton, selain itu banyak juga tongkang-tongkang Tionghoa masuk untuk membeli getah karet. Lalulintas sungai ini ramai sejak Belanda menguasai wilayah Rokan. Pada tahun 1928, pada tiap musim kemarau pemerintah Belanda melakukan upaya pemotongan tunggak-tunggak kayu yang ada dalam sungai agar lalulintas kapal motor tidak terganggu. Menurut penjelasan Pongulu Lawa, dulu badan Sungai Rokan ini kecil namun airnya dalam, sehingga dapat dilayari oleh kapal dan tongkang besar, “orang bisa momungkang (melempar) ke seberang sungai, kemudian tebing-tebing terus runtuh sehingga sungai bertambah lebar, seterusnya terjadi pendangkalan. Pada tahun 2008 Ulakkembahang adalah satu-satunya kampung di Sungai Rokan yang sama sekali belum ada akses jalan darat, transportasi satu-satunya hanya lewat air menggunakan pompong, kapal motor atau sampan. (SR)

Narasumber: Pongulu Lawa (Ulakkembahang).
Pustaka Rujukan: Sita Rohana, Junaidi Syam, Elmustian, Al azhar, Mengarungi Sungai Rokan, Mengarang Manik-manik Berserakan, Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau dan Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan (P2KK) Universitas Riau, 2009.

 

Lihat Juga

Kerumutan

Bagikan  Kerumutan adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Pelalawan, Riau, Indonesia.     Cerita di Balik ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!