Menyerupai teka-teki, sampiran menegakkan tonggak-tonggak perhatian dalam pikiran dan imajinasi khalayak, untuk kemudian secara mengejut dialihkan kepada isi/maksud atau pesan yang ingin disampaikan. Meskipun berfungsi sebagai pengalih perhatian, kata-kata dalam sampiran pantun yang dianggap baik tidak bersifat acak, tetapi mencitrakan keluasan pengetahuan dan pengalaman, serta kedalaman kearifan manusia dan masyarakat Nusantara. Melalui sampiran, khalayak dibawa memasuki semesta kehidupan Nusantara: alam sekitar beserta keragaman flora dan faunanya, relung-relung peristiwa dan sejarah yang dialami, adat-istiadat, dan kebiasaan-kebiasaannya.
Tags melayu pantun unesco warisan budaya tak benda
Lihat Juga
HUTAN TANAH: Kedaulatan Marwah dan Tata Kelola Ruang Masyarakat Melayu Riau
Oleh Syaiful Anuar “Hutan Tanah” adalah frasa yang lahir dari rahim tradisi, kemudian mengkristal menjadi ...
LAMR Lembaga Adat Melayu Riau