Beranda / Matabudaya / Delima

Delima

 

Punica granatum L. Jenis tumbuhan semak yang dapat mencapai ketinggian lima meter. Daunnya kecil-kecil. Bunganya berwarna merah, serupa dengan isi buahnya yang berbulir-bulir dengan biji bersalut lapisan lunak. Rasa buahnya asam manis. Warna merah pada bagian dalam buahnya inilah yang dirujuk untuk istilah “batu Delima”, permata yang berwarna merah, seperti yang disampaikan dalam pantun berikut:

Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang di tapak tangan
Walau jauh beribu batu
Hilang di mata di hati jangan

Dalam tradisi tulis Melayu dari genre kisah-kisah pengembaraan, baik bentuk hikayat maupun syair, delima sering dijadikan isyarat oleh pengarang kepada khalayaknya. Bahwa bila sang tokoh dikisahkan memakan buah delima, maka ia akan mengalami periode rintangan ajaib yang menderitakan.

Dalam mitologi Yunani Kuno, delima menjadi pusat kisahan ketika Hades memperdaya Persephone agar makan enam biji delima, yang menyebabkan Persephone terpaksa tinggal di Dunia Bawah selamanya bersama Hades, karena Takdir menentukan barang siapa makanan atau minum di Dunia Bawah, maka ia akan menghabiskan kekekalan di sana. Sepanjang sejarah, dalam hampir setiap agama dan kebudayaan, delima hadir sebagai simbol kemanusiaan yang mendasar, yaitu hidup dan mati, kelahiran kembali dan kehidupan kekal, kesuburan dan pernikahan, dan kelimpahan.

Delima tidak hanya memiliki fungsi budaya sebagai rujukan dalam tradisi tulis maupun lisan, namun juga dikenal sebagai tumbuhan herba. Berdasarkan kajian, buah delima telah dipakai selama berabad-abad sebagai herba di Mediterania dan Asia Tenggara, serta terbukti memiliki kandungan antioksidan, antikanker, dan antiradang yang dapat digunakan untuk penanganan dan pengobatan berbagai penyakit. (SR)

 

Rujukan:
http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Punica+granatum
Julie Jurenka, “Therapeutic applications of pomegranate (Punica granatum L.): a review”, Alternative medicine review 13 (2), 128, 2008.

Lihat Juga

Marsden dan Pantun Melayu (tahun 1812)

Pengantar William Marsden (1754-1836), seorang linguis dan sejarawan Inggris, adalah ilmuwan pioneer untuk kajian Nusantara. ...

Satu komentar

  1. Pingback: Bidara - LAM Riau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!