Beranda / Matabudaya / Catur Melayu, Serimau, Main Rimau
catur melayu

Catur Melayu, Serimau, Main Rimau

Permainan rakyat ini sejenis permainan catur yang melibatkan dua pihak yang saling menyerang dan memangsa. Analogi yang dipakai adalah harimau dan kambing, sehingga permainan ini juga lazim disebut dengan main Serimau atau main Rimau yang bermakna harimau. Dalam permainan ini, kambing-kambing berupaka mengepung harimau. Sebaliknya, harimau juga berupaya untuk memakan kambing yang ada didekatnya apabila kambing itu tidak dikawal oleh kambing lain. Harimau dan kambing boleh digerakkan sekali saja dalam satu giliran ke kiri, ke kanan, ke depan ataupun ke belakang asalkan ada petak yang kosong. Namun demikian, pihak harimau dan kambing tidak boleh melompat lebih daripada satu tempat dan tidak boleh membuat lebih dari satu lompatan sekali jalan untuk melepaskan diri.

Pihak harimau boleh memangsa kambing dengan melangkahi kambing itu ke suatu tempat kosong di belakang/ di depan atau di samping kambing. Pihak harimau dianggap menang jika dapat memangsa semua kambing yang berada di atas papan permainan. Pemain kambing pula dianggap menang jika boleh menyerang harimau ke satu sudut dan mengurung semua harimau itu sehingga tidak dapat bergerak lagi.

Menurut cerita, permainan ini mulanya dimainkan oleh kalangan bangsawan. Waktu itu, orang-orang Cina datang dengan membawa permainan yang serupa, maka orang kampung yang bekerja di laut sebagai nelayan yang banyak memiliki waktu senggang mencoba bercatur di papan-papan kolek, perahu ataupun sampannya dengan membuat gores-goresan pisau seolah-olah garis papan catur. Setiap petak yang dibuatnya itu diisi dengan biji-bijian ataupun batu kerikil yang terdapat di sekitarnya. Karena melihat para bangsawan bermain serang-serangan antara pion, raja, kuda, benteng, dan menteri di atas papan catur, maka orang-orang kampung itu meniru permainan tersebut. Untuk mengumpamakan dengan nama-nama raja atau menteri, benteng, dan rakyat, para nelayan takut dianggap menentang kekuasaan sultan yang berkuasa. Maka timbullah istilah kambing dan harimau. Harimau atau menurut dialek daerahnya disebut “rimau” itu sangat garang, dan suka memangsa kambing. Dengan demikian, permainan ini diumpamakan siasat harimau menangkap kambing, demikian juga siasat kambing berusaha terlepas dari terkaman harimau, bahkan kalau dapat membunuh harimau yang ganas itu dengan cara mengepungnya beramai-ramai. Berdasarkan skenario inilah dibuat peraturan permainan rimau, seekor harimau dan 24 ekor kambing.

Permainan catur Melayu ini memerlukan kemampuan strategi dalam mengalahkan lawan. Permainan ini juga dapat memakan masa yang panjang dan berkelanjutan hingga keesokan hari tanpa ada pihak yang mencapai kejayaan. Mata kemenangan dihitung ­bila ada pihak yang mendapatkan dua mata kosong dengan dua kali bermain atau dua satu dengan tiga kali bermain.

Pada umumnya, permainan ini dimainkan sebagai pengisi waktu luang sore dan malam hari, di antara waktu sholat. Para petani dan nelayan memainkannya sore hari saat selesai memotong karet atau saat menunggu masa turun ke laut, atau pada malam hari saat musim angin kencang sehingga tak dapat turun ke laut. Permainan ini tidak terikat oleh peristiwa-peristiwa sosial tertentu, dan di dalamnya tidak mengandung unsur-unsur religius magis.

Peralatan/ perlengkapan permainan; (1) Papan catur atau papan rimau atau papan harimau, yang disebut tapak rimau. Papan ini dapat berupa sekerat papan atau bangku panjang yang digores dengan pisau ataupun digambar dengan kapur tulis tulis denah papan permainan, ada juga yang digambar di atas pasir. Ukuran papan permainan ini kurang lebih 40 x 30 cm; (2) Biji-biji isian, sebagai pelambang kambing sebanyak 24 buah; (3) Sebuah biji pelambang harimau yang berukuran lebih besar. Biji-biji ini dapat memakai cangkang kerang atau siput, kerikil, atau biji kopi. Biji isian ini diletakkan dulu sembilan buah pada tapak lapan sebelum per­mainan mulai. Lima belas biji lainnya diisi di dalam permainan untuk mengepung rimau.

Aturan permainnya, biji catur dijalankan ke segala arah tapak. Boleh ke kiri, ke kanan, ke depan, ke samping, dan mundur. Kalau beringsut langkah, setapak-setapak kalau ia memangsa boleh langkau ganjil; yakni langkah 1,3 dan 5. Dalam bermain, seorang memegang rimau, dan seorang lagi memegang biji isian. Setelah ada kalah-menang maka bertukarlah yang menjadi rimau jadi pengisi biji, sebaliknya yang mengisi biji menjadi rimau pula dalam setiap putaran permainan. Berikut ini beberapa aturan permainan catur Melayu:

  1. Rimau diletakkan ditengkuk tapak rimau. Sembilan buah biji diletakkan pada tapak lapan.
  2. Rimau pertama-tama makan tiga, boleh melompat ke dapan, serong kanan atau kiri.
  3. Biji  ke-10 mengepung dan  rimau melompat, berpindah setapak, atau makan satu biji. Dilanjutkan sampai biji ke-24.
  4. Apabila biji di tangan telah habis terisi semua, pengisi boleh memindahkan tapak dengan langkah setapak-setapak untuk mengepung rimau; boleh mundur, maju, serong kiri, serong kanan, dengan tujuan mengepung dan memagarkan rimau supaya kahabisan tapak untuk melangkah. Ketika menggeser harus dijaga jangan sampai berada di hadapan rimau berjumlah 1, 3, atau 5 langkah sebab jumlah langkah ganjil adalah makanan rimau.
  5. Rimau menggeser tapaknya untuk mencari mangsa dengan langkah 1, 3, atau 5. Sementara itu, ia juga menghindari mati terkepung. Maju, mundur, serong kiri, dan serong kanan dengan lang­kah selapak-setapak.
  6. Kalah menang ditentukan jika dalam melangkah biji-biji isian habis sementara langkah-langkah rimau masih banyak, maka rimau menang dan kambing kalah. Sebaliknya, jika dalam melangkah atau berpindah-pindah tapak tersebut ri­mau mati langkah atau terkepung, maka rimau kalah dan kam­bing yang menang.
  7. Set kemenangan disebut papan. Menang sepapan atau kalah sepapan. Setelah papan pertama selesai, si pengisi bertukar menjadi rimau, sebaliknya rimau menjadi pengisi. Permainan dapat dilakukan berulang-ulang sesuai putaran permainan yang dikehendaki.
  8. Setelah beberapa papan bermain, dihitung siapa yang lebih banyak mengumpulkan papan kemenangan. Apabila bermain tujuh papan, seorang pemain memenangkan empat papan sedangkan yang seorang lagi memenangkan tiga papan. Maka yang memenangkan empat papan keluar sebagai pemenangnya. Artinya menang sepapan.

 

 

Rujukan: Permainan Rakyat Daerah Riau. Pekanbaru: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, 1983/1984; Atlas Kebudayan Melayu Riau, Pekanbaru: P2KK-UNRI, 2004-2009.

 

Lihat Juga

Marsden dan Pantun Melayu (tahun 1812)

Pengantar William Marsden (1754-1836), seorang linguis dan sejarawan Inggris, adalah ilmuwan pioneer untuk kajian Nusantara. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!